Setelah menghabiskan banyak waktu bersama sang ibu, akhirnya Regina pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Jujur saja, turun puncak saat pukul 16.00 WIB tidak akan menjamin berjalanan lancar. Sebab, akan terjadi pembukaan dan penutupan jalan yang akan berlangsung selama tiga jam sekali.
Tentu saja hal tersebut membuat Regina memutuskan untuk menghibur diri di berbagai kuliner sekaligus destinasi wisata yang tidak jauh dari tempat peristirahatan dirinya. Karena mobilnya ternyata membutuhkan bahan bakar tambahan agar tidak menyusahkan di tengah jalan nanti.
Setelah selesai mengisi bahan bakar sekaligus membeli beberapa makanan di minimarket Regina pun menancapkan kembali gas mobilnya secara perlahan melalui beberapa turunan curam dan sedikit menakutkan. Sebab, jalan beraspal mulus itu benar-benar sangat licin dan berbahaya jika tidak memiliki cengkraman rem kuat.
Sesekali Regina meneguk minuman isotonik tersebut untuk mengembalikan semua ion yang hilang akibat terlalu lama bermain dengan sang ibu. Membuat wanita itu tersenyum lega sembari membuka jendela mobilnya untuk menikmati aroma hujan yang baru saja turun.
Kemudian, wanita itu membuka salah satu cemilan lumayan besar untuk menikmati perjalanannya menuju salah satu destinasi wisata cukup popular di Kabupaten Cianjur yang bernama Taman Bunga Nusantara.
Cukup melelahkan perjalanan ke tempat itu. Selain jalanan rusak, semua pengendara motor benar-benar menyebalkan. Karena tidak ada satu pun pemotor yang tahu diri dan asal menyalip hingga sesekali Regina menginjak pedal rem kuat-kuat. Membuat klakson dari arah belakang terdengar memekkan telinga.
Tentu saja hal tersebut cukup membuat wanita itu kesal bukan main, lalu dengan sengaja mengklakson balik pada pengendara motor di hadapannya yang ternyata sedang berboncengan dengan seorang gadis muda layaknya tengah dimabuk cinta.
“Naik motor yang benar dong!!!” teriak Regina tidak terima dengan mata yang menyulut penuh emosi.
Sontak teriakan itu pun membuat keadaan semakin ricuh. Pengendara motor yang tidak terima disalahkan langsung mengkode pada Regina untuk menepikan mobilnya di bahu jalan yang lumayan besar agar tidak mengalihkan jalan sempit akses keluar-masuk banyak kendaraan.
Setelah itu, pengendara motor yang lengkap dengan helm pun menghampiri mobil Regina dan mengetuk jendela tersebut tidak sabaran membuat Regina turun dari mobil dan menatap sepasang kekasih tersebut dengan sinis.
“Kenapa lo berdua mau marah sama gue!?” seru Regina menatap tidak suka sekaligus marah. Jelas saja wanita itu tidak akan bo*doh sampai mendiamkan pengendara nakal yang hanya ingin menang sendiri.
“Kalau enggak mau kena macet enggak usah naik mobil, Teh!” sungut gadis manis yang sayangnya begitu sinis membuat Regina mendadak ingin sekali mencakar wajah itu.
“Heh! Gue kasih tahu, ya! Lo itu kalau naik motor lihat situasi dulu dong jangan asal nyalip. Kalau gue nabrak lo berdua tadi gimana? Pasti lo berdua enggak terima, ‘kan?” kecam Regina pada seorang lelaki tampan yang ternyata tingginya sama rata dengan dirinya.
“Aku udah beri aba-aba, Teteh aja yang asal jalan tadi,” balas lelaki itu tidak terima.
“Dih! Bocah belegug, kalian itu tahu kalau jalanan ini enggak bisa asal nyalip, ‘kan? Jadi, sabar dikit dong! Kalau mau cepat, lewat jalur udara aja. Enggak udah sok jagoan berhentiin gue!” sungut Regina mengernyit kesal. Ia sudah biasa menaggapi beberapa pengendara yang maunya menang sendiri.
“Aku enggak jagoan, Teteh,” elak lelaki itu berpura-pura mengalah.
Regina mengembuskan napasnya kasar. “Kalau lo enggak jagoan, sekarang minggir! Gue mau lewat jangan menghalangi jalan.”
Baru saja Regina hendak membalikkan tubuhnya, tetapi cekalan tangan cukup kasar itu pun membuat Regina mengurungkan niatnya dan kembali menatap sepasang muda-mudi sakit jiwa di hadapannya.
“Enggak bisa pergi gitu aja, Teh. Kamu harus ngasih kita ganti rugi,” protes gadis itu kesal.
Spontan perkataan itu pun membuat Regina benar-benar menganga tidak percaya. “Eh sia gelo! Eta teh namanya pemerasan. Mana ada aing disuruh bayar, sedangkan sia yang salah! Idih enak benar.”
Logat Sunda yang jarang sekali dipakai oleh Regina pun keluar membuat sepasang kekasih itu langsung melebarkan matanya tidak percaya. Mereka berdua tidak menyangka bahwa mobil kota yang ternyata melintas merupakan orang Sunda.
“Teteh orang Sunda?” tanya lelaki itu meringis pelan.
Sedangkan Regina melipat kedua tangannya di depan da*danya sembari mendengkus kesal. “Jangan asal ngelabrak orang, Bageur. Kamu enggak akan tahu kalau saya tinggal di Citereup.”
Perkataan setengah berbohong itu pun sukses membuat sepasang kekasih yang ada di hadapan Regina mendadak ketakutan.
“Nuhun atuh, Teteh. Kita enggak sengaja kalau ternyata Teteh tinggal di sini,” sesal gadis berwajah manis yang awalnya marah sekali pada Regina.
Namun, sayang sekali Regina tidak akan melepaskan begitu saja. Ia sudah terlanjur narah pada orang sok jagoan yang berani-beraninya meminta uang dengan modus ganti rugi.
“Kalian pikir bisa pergi gitu aja? Setelah berhentiin gue layaknya jagoan yang baru keluar dari lapas?” sinis Regina mendekati lelaki yang sempat menatap dirinya tajam. “Gue kasih tahu sama lo, tidak semua yang berkendaraan memakai kendaraan dari kota itu memang berasal dari kota. Justru kebanyakan dari mereka tinggal di sini dan memakai jenis kendaraan agar terlihat lebih gaul.”
“I ... iya, maaf, Teteh. Tadi benar-benar enggak sengaja,” jawab lelaki tampan itu dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sejujurnya, Regina sangat marah mengingat tindakan mereka berdua tadi. Akan tetapi, ia mendadak kasihan melihat keduanya yang sudah ketakutan. Meski tidak dapat dipungkiri ini pula sebagai pembalasan Regina terhadap orang-orang pencari keuntungan,
“Lo berdua udah lama kerja pemalak begini?” tanya Regina menatap plat motor yang digunakan ternyata pajaknya sudah mati, walaupun tanggal kadaluarsanya belum terlihat.
“Sudah lama, Teteh. Ini semua demi kelancaran persalinan istri saya,” jawab lelaki itu dengan nada sedikit bergetar.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut nyatanya membuat Regina menjadi iba. Ia tidak mengerti bagaimana banyak sekali pengangguran di negara ini seakan pusat pelatihan di pemerintah pun rasanya kurang efektif menekan angka pengangguran yang ada.
“Lo punya istri?” tanya Regina mendadak tidak percaya.
“Iya, benar,” jawan lelaki itu merendahkan suaranya.
“Lo nikah muda?” tebak Regina tepat sasaran.
Membuat lelaki itu mengangguk lemah, lalu mengembuskan napasnya. Akan tetapi, entah kenapa Regina merasa kalau dua orang di hadapannya hanyalah pura-pura saja. Sebab, saat dirinya tanpa sengaja melihat di belakang tadi tengah membicarakan sesuatu pada orang lain, atau mungkin rekan sesama pemalak yang terjadi di daerah puncak.
“Jangan menipu gue, ya? Karena semua perkataan lo akan gue perkarain di kantor polisi kalau sampai benar-benar terbukti bahwa semua yang lo bilang tadi tanpa terlewat satu kata pun,” ancam Regina dengan pandangan serius.