Hari-hari Regina pun menjadi semakin sepi membuat wanita itu memutuskan untuk menjenguk sang ibu yang berada di Sanatoriun. Entah kenapa ia merasa bersalah pada wanita paruh baya itu atas kedatangannya lalu ketika dirinya sedang dalam masalah membuat Regina tidak ingin berbincang lebih lama.
Namun, kali ini dirinya benar-benar memiliki banyak waktu luang membuat wanita itu langsung memutuskan untuk mengendarai mobilnya yang sudah lama sekali tidak dipakai. Akibat Valder Logistic mengalami penutupan sementara sampai kasus selesai.
Walaupun Theo sudah mengatakan banyak hal melalui pengumuman via website khusus karyawan yang memberi tahu bahwa perusahaan akan kembali dibuka, tetapi terjadi sesuatu saat pembukaan tersebut. Membuat Theo mengurungkan niatnya tersebut.
Kini Regina benar-benar mengendarainya menuju sebuah tempat yang dijuluki sebagai kota hujan. Meskipun di Bogor sering kali juga, bahkan bisa dikatakan hampir setiap waktu, tetapi tidak membuat tempat itu terasa dingin layaknya di kutub Utara.
Sebab, ketika matahari menyapa di sela hujan, Bogor sangatlah panas. Apalagi ia tidak bisa membayangkan betapa panasnya menggunakan kendaraan motor. Walaupun tidak dapat dipungkiri menggunakan kendaraan tersebut jauh lebih menyenangkan dengan terhindari berbagai macet di rawan titik menuju puncak.
Bahkan ketika Regina hendak melakukan perjalanan menuju Sentul, tingkat kemacetan benar-benar parah. Membuat banyak sekali pengendara motor melakukan aksi pemblokiran jalan. Sehingga terhambatnya akses masuk keluar untuk mengurai kemacetan.
Hal tersebut membuat Regina yang melihatnya langsung mengembuskan napas panjang. Sebab, inilah yang terkadang membuat wanita itu merasa malas ketika melakukan perjalanan ke salah satu tempat pemilik destinasi wisata cukup menyenangkan.
Memang bisa dikatakan banyak sekali tempat hiburan dan rekreasi di tempat ini membuat pengunjung dari berbagai kota maupun negara berdatangan. Jelas saja tujuan mereka semua datang hanya untuk melakukan hiburan diri. Sehingga tidak menutup kemungkinan banyak sekali wajah-waja non lokal yang berseliweran sepanjang jalan raya basah akibat turun hujan.
Setelah berlama-lama melakukan perjalanan sekitar tiga jam penuh, akhirnya Regina pun sampai di sebuah bangunan cukup tua yang terletak di dalam kebun kosong. Sebab, di sini banyak sekali lahan yang belum selesai dibangun ataupun dibiarkan begitu saja demi menjaga keasriannya.
Hari ini Regina mengenakan blouse biru yang dipadukan dengan ikat pinggang kecil meliliti sekitar pinggang ramping miliknya, lalu sepasang flatshoes hitam itu menutup cantik dengan pita menghiasi tepat di ujungnya.
Cukup simple untuk wanita berusia matang seperti Regina yang sampai hari ini belum menemukan tambatan hati. Entah kenapa ia menjadi trauma sekaligus tidak memiliki waktu untuk menjalin cinta setelah kehilangan adiknya.
Meskipun tidak dapat dipungkiri Regina tidak akan pernah mengikhlaskan lelaki itu ketika mata kepalanya sendiri tidak melihat jasad yang dikatakan sebagai tubuh Rafif. Atas kecelakaan ataupun musibah tidak terduga meimpa lelaki itu.
Suasana sanatorium tampak sangat ramai dengan berbagai pengunjung maupun lansia menghabiskan waktu bermain di taman dan menyibukkan diri pada relawan sosial yang berasal dari univeristas ternama meluangkan sebagian waktu sibuknya untuk menghibur banyak orang.
“Nona Osm, sudah lama sekali tidak pernah ke sini?” sapa seorang dokter tampan bersama perawat mungil di belakangnya.
Regina tersenyum singkat. “Iya, saya baru memiliki waktu untuk berkunjung. Kebetulan sekali sanatorium sedang ramai, ya?”
“Di dalam memang ada beberapa relawan dari universitas luar kota yang ingin melakukan penyuluhan terhadap kesehatan. Karena tidak sedikit para lansia di sini semakin sulit untuk mengikuti semua prosedur dokter,” ungkap dokter yang menyapa Regina itu dengan mengembuskan napasnya panjang.
“Benarkah? Bagaimana dengan orang tuaku, Dok? Apakah masih tetap sulit seperti yang lalu?” tanya Regina melebarkan mata terkejut.
“Sudah tidak terlalu sulit. Hanya saja terkadang ada situasi di mana Nyonya Osm merasa bosan dengan semua tuntutan dokter dan meminta menyelesaikannya begitu saja,” jawab dokter tersebut dengan senyuman tipis.
Mendengar hal tersebut, Regina pun mengembuskan napasnya lega. Ia benar-benar merasa sangat tidak percaya mengetahui bahwa ibunya akan bosan seperti ini. Jika masih ada Rafif, mungkin lelaki itu akan sering datang meluangkan waktu dibandingkan dirinya.
Lagi-lagi Regina merasa kecewa sekaligus kehilangan telah menyadari bahwa adiknya sampai hari ini belum di temukan. Padahal tiga pengikut LUCA yang berada satu mobil dengan Rafif pun mulai ditemukan, tetapi dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Membuat Regina mulai berpikiran yang tidak-tidak.
“Baiklah. Terima kasih atas penjelasannya, Dok. Kalau begitu, saya ingin mengunjungi ibu saya dulu. Karena kebetulan hari ini saya ingin mengajaknya pergi sebentar,” pamit Regina tersenyum manis.
“Silakan, Nona Osm. Kamu bisa mengajaknya pergi ke mana pun,” balas dokter tersebut mengangguk singkat.
Setelah itu, Regina pun benar-benar melenggang pergi sembari menggenggam sebuah tas lengan yang tidak terlalu besar. Sebab, wanita itu sedang tidak ingin melakukan banyak hal, selain mengajak sang ibu melakukan beberapa perjalanan di luar sanatorium.
Sepanjang perjalanan menuju kamar yang ditempati oleh Nyonya Osm, terlihat Regina sesekali menyapa lansia berdiri ataupun melakukan kegiatannya di sepanjang lorong kamar.
Mereka semua tampak mengernyit bingung akibat melupakan Regina yang memang jarang sekali datang. Sehingga banyak sekali yang tidak mengenal wanita itu, termasuk salah satu nenek duduk di kursi roda.
Wanita lansia yang terlihat menatap Regina penuh rasa penasaran itu pun sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya.
“Halo, Nenek! Perkenalkan namaku Regina, anak gadisnya Nyonya Osm yang berada di kamar ujung,” ucap Regina tersenyum ramah membuat wanita lansia itu mengangguk pelan.
“Sepertinya kamu jarang terlihat, ya? Nenek biasanya hanya melihat pemuda berpakaian polisi yang datang ke sini,” balas nenek kursi roda itu dengan suara rentanya.
“Itu adikku, Nek. Dia memang memiliki banyak waktu luang dibandingkan aku,” ungkap Regina menyembunyikan kesedihannya terhadap Rafif.
“Benarkah? Wah, adikmu sangat tampan dan baik, Nona Regina. Terkadang dia membawakan banyak barang ke tempat ini. Tapi, Nenek sangat sedih, sudah lama sekali dia tidak datang lagi. Apakah dia baik-baik saja?” tutur wanita lansia itu dengan raut wajah kekhawatiran begitu jelas.
Regina tersenyum paksa. Ia tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya, karena Rafif benar-benar dicintai oleh banyak orang. Berita tentang hilangnya lelaki itu akan membuat luka tersendiri bagi siapa pun.
“Dia pasti akan baik-baik saja. Nenek tidak perlu khawatir,” balas Regina mengandung nada yang tersirat dalam. Akan tetapi, wanita lansia itu sama sekali tidak menyadarinya.
“Kalau semua urusannya sudah selesai, ajaklah dia datang ke sini, Nona Regina,” pinta wanita lansia itu dengan mengerucutkan bibirnya manja membuat Regina tidak bisa menyembunyikan ekspresi gelinya melihat lansia tersebut.
“Aku akan segera meminta dia untuk datang ke sini lebih sering lagi, Nenek. Jangan khawatir,” jawab Regina menggenggam jemari lansia tersenut dengan begitu erat.