Sesampainya di markas, Guardian pun langsung memarkirkan mobilnya menuju ke dalam parkiran khusus kendaraan hasil modifikasi. Di dalam mobil sudah tidak ada lagi Jarvis, sebab lelaki itu memang diperintahkan untuk memisahkan diri ketika berhasil mendapatkan Ethan.
Tentu saja tidak mudah menculik lelaki itu di dalam gedung milik Theo. Apalagi di sana banyak sekali kamera pengawas yang perlu disabotase oleh Beryl agar tidak terdeteksi secara natural. Sebab, lelaki itu telah merencakan semua kamera pengawas yang ada di Rainbow Night Club.
Sehingga kini yang berada di ruang monitor hanyalah rekaman beberapa hari lalu dibuatkan script oleh Gurbby. Sehingga lelaki itu mengganti seakan-akan rekaman tersebut terjadi hari ini. Sama sekali tidak meninggalkan jejak penculikan.
Bahkan semua kaki Guardian sudah dilapisi oleh plastik pembungkus untuk meminimalisir kenyataan bahwa identitas mereka akan terungkap jika meninggalkan jejak.
Grubby merenggangkan tubuhnya dengan mengeluarkan suara perenggangan yang begitu buruk, lalu menguap lebar tanpa memedulikan pandangan aneh dari temannya. Seakan hal tersebut sudah biasa.
“Kenapa kalian bertiga menatapku seperti itu?” tanya Grubby mengernyit bingung sembari menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Menimbulkan pergerakan cukup keras pada sendi yang sejak tadi tidak terpasang dengan baik.
Rasanya semua begitu kelelahan mengingat hampir selama satu jam penuh mereka berkendara menuju lokasi yang diberi tahu Rafif menjadi satu-satunya akses umum untuk siapa pun datang.
Bahkan jarang sekali orang mengetahui bahwa pemilik dari Rainbow Night Club tersebut adalah Theo. Jika banyak yang mengetahui, akan tidak sedikit mereka melakukan berbagai ancaman secara fisik dan verbal.
Selain tempat yang penuh kesenangan, Rainbow Night Club cukup membuat banyak penduduk sekitar resah. Karena setiap malam dentuman musik, mobil mewah, dan teriakan para pengunjung selalu memenuhi pinggiran jalan raya Kota Jakarta.
Akan tetapi, tidak sedikit dari penduduk sekitar merasa tidak perlu memperingatkan Theo. Karena lelaki itu memberikan banyak sekali kompensasi, baik itu berupa uang dan makanan pokok untuk kebutuhan rumah tangga.
Meski sudah mendapat banyak sogokan, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan tempat itu benar-benar meresahkan penduduk sipil yang mempunyai anak gadis cantik yang harus siap bertemu banyak lelaki dari berbagai latar belakang berbeda.
“Kerjaan lo cuma duduk di belakang sambil main game online, Grubby. Apanya yang pegal? Bahkan Ketua Tim yang berkendara itu pun sama sekali tidak mengeluh,” jawab Zyrach terdengar sinis.
“Justru itu!” sahut Grubby cepat. “Perwira Jarvis benar-benar menyebalkan sampai gue harus duduk di belakang menyempil di antara tumpukan barang milikku sendiri.”
“Siap suruh lo bawa banyak barang,” sungut Rafif memutar bola matanya kesal. Sebab, ia sudah terlalu malas memberikan banyak nasihat yang nyatanya hanya dianggap ringan oleh seorang lelaki berwajah menggemaskan di hadapannya.
“Untuk berjaga-jaga saja daripada terjadi yang tidak diinginkan. Lagi pula kita akan segera melakukan banyak kegiatan nanti. Jadi, sudah seharusnya kita bergegas merebahkan diri,” pungkas Grubby melenggang santai meninggalkan tiga rekan kerjanya yang masih berada di luar sembari memapah tubuh lemah Ethan tidak sadarkan diri akibat obat bius milik Zyrach.
Akhirnya, mau tak mau Beryl dan Rafif-lah yang membawa tubuh lunglai Ethan masuk ke dalam laboratorium. Di dalam lab, terlihat seorang wanita cantik tengah meracik sesuatu di tangannya sembari menyampurkan sedikit demi sedikit senyawa berwarna-warni itu ke dalam tabung kaca kecil panjang, lalu meletakkannya ke dalam kerangka tempat yang sudah berisikan beberapa tabung.
“Prof Aleena,” panggil Zyrach sembari membuka tirai penutup bangsal kosong untuk meletakkan Ethan.
Aleena yang mendengar namanya dipanggil itu pun menoleh, lalu mengernyit bingung sembari meletakkan semua barang kegiatan malam ini. Wanita cantik itu pun melepaskan kacamata dan meletakkannya ke dalam saku jas lab kebesaran.
“Siapa dia, Zyrach? Sepertinya aku tidak mengenalinya,” tanya Aleena penasaran, lalu melepaskan jas tersebut dan menggantungkan ke sebuah gantungan yang berada tidak jauh dari bangsal.
Kemudian, Aleena terlihat meraih stetoskop yang berada berada di kereta obat dan langsung membelah pagar antara Beryl bersama Rafif berdiri memperhatikan Ethan terbujur lemah dengan mata tertutup rapat.
“Dia pamanku, Prof,” jawab Rafif tersenyum kecut.
Entah kenapa Rafif masih tidak percaya dirinya melihat kembali seorang lelaki yang pernah membantai kedua orang tuanya dengan sangat kejam. Walaupun ia tidak melihat p*********n itu secara langsung, tetapi teriakan demi teriakan itu terus saja menghantuinya setiap malam.
Namun, Rafif tidak memiliki trauma. Lelaki itu malah berusaha untuk melupakannya dan akan membalaskan ketika waktu tiba. Akan tetapi, siapa sangka kalau ternyata dirinya bisa membalaskan dendam dengan cepat.
“Siapa pamannya Rafif?” sahuta Professor Faza yang baru saja datang dengan senyuman lebar di tangannya, lalu melihat pekerjaan Aleena lumayan baik. “Pekerjaanmu benar-benar bagus, Aleena. Aku akan melihatnya nanti.”
“Baiklah,” jawab Aleena singkat. “Prof Faza, lihatlah siapa yang dibawa oleh Guardian. Mungkin kamu akan mengenalnya.”
Mendengar hal tersebut, Faza pun mendekat dengan ekspresi penasaran. Lalu, melebarkan matanya tidak percaya melihat seorang lelaki yang sama sekali tidak dirinya duga akan berhadapan secara langsung.
“Bukankah ini tangan kanan Theo!?” seru Faza meninggikan suaranya dengan ekspresi terkejut.
“Iya, benar. Ini memang tangan kanan Theo sekaligus paman kandungku sendiri,” timpal Rafif tersenyum kecut, lalu melenggang santai untuk mendudukkan diri di bangsal kosong yang dulunya pernah menjadi tempat ketika Rafif tersadar pertama kali pada tempat ini.
Faza mengikuti arah langkah Rafif dengan gelengan pelan yang semakin tidak percaya. “Apa kamu yakin, Rafif? Ini benar-benar paman yang disebutkan oleh Pimpinan Abd?”
“Tentu saja aku tidak mengada-ngada!” balas Rafif tertawa pelan. “Aku tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk menjadi seorang polisi demi mengincar pamanku sendiri, termasuk menyelidiki permasalahan dua puluh tahun lalu tentang p*********n yang terjadi pada orang tuaku.”
“Aku memang sempat membaca beberapa poin di latar belakangmu, Rafif. Tapi, aku sama sekali tidak percaya kalau kamu benar-benar keponakan dari orang kepercayaan Theo. Karena setahu diriku, tidak ada satu pun pekerja atau pengikut LUCA memiliki kerabat dekat. Meminimalisir kemungkinan akan terjadinya target pencapaian,” balas Faza mengangguk beberapa kali.
“Entahlah, aku juga belum mengetahui dengan jelas motif Ethan membunuh kakaknya sendiri demi pencapaian yang mungkin memang sebanding dengan apa yang dilakukan dengan dirinya sendiri,” ungkap Rafif mengangkat bahunya acuh tak acuh, lalu tersenyum singkat.
Sedangkan Faza benar-benar dibuat terkejut itu pun menjadi lebih banyak diam. Lelaki itu jelas sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang selama ini menjadi objek pengembangan tertentu nyatanya memiliki kerabat pengikut LUCA.