“Rafif!!! Rafif!!! Rafif!!!”
Teriakan menggema tersebut kembali berulang-ulang membuat seorang lelaki berpakaian serba hitam tengah melakukan perenggangan itu pun menghentikan kegiatannya, lalu mengembuskan napas panjang.
“Kenapa, Grubby? Gue ada di dalam,” jawab Rafif mengeraskan suaranya agar seorang lelaki yang berada di luar mendengar.
Dan benar saja, Grubby pun masuk dengan senyuman lebar yang terpatri di wajahnya. Kemudian, mata lelaki menggemaskan itu pun mendelik saat melihat oto tubuh Rafif yang benar-benar tercetak sempurna.
“Wah, ternyata tubuh lo semakin hot aja, Raf,” goda Grubby hendak menyentuhnya.
Akan tetapi, dengan cepat Rafif menghindar dan melompat pada tumpukan matras yang biasa digunakan untuk pelatihan memanjat dalam gerakan lompatan. Membuat Grubby yang berada di bawah langsung mendengkus kesal.
“Apa yang lo mau bicarain? Tetap di sana dan jaga jarak!” sinis Rafif kesal.
“Astaga, iya, iya. Mau pegang sebentar aja udah panik banget,” keluh Grubby kesal, lalu kembali berkata, “gue cuma mau bilang kalau sepertinya lo harus melakukan sebuah aksi.”
“Aksi apa?” tanya Rafif penasaran.
“Lo tahu? Hari ini Ethan ingin melakukan transaksi pertamanya setelah penangkapan kemarin. Sepertinya ini cocok untuk lo melakukan balas dendam lagi, Raf,” jawab Grubby tersenyum lebar dengan makna penuh.
“Apa maksud lo?”
“Jadi begini, Ethan akan melakukan transaksi terhadap obat-obatan terlarangnya malam ini di Rainbow Night Club,” ungkap Grubby berusaha menjelaskan dengan rinci. “Dan, ini kesempatan bagus buat lo melakukan balas dendam di sana. Karena dari yang gue dengar, tempat itu telah dijaga oleh polisi, jadi mungkin akan ada beberapa peraturan yang berbeda.”
“Lo gi*la!?” seru Rafif tidak percaya. “Ini sama aja bunuh diri, Grubby. Bukannya lo tahu sendiri kalau gue itu sama sekali enggak bisa buat pergi ke mana pun.”
“Memang benar, tapi ini benar-benar kesempatan bagus buat lo melakukan balas dendam, Raf. Karena mungkin Ethan sudah kembali menyibukkan diri dengan Theo,” balas Grubby sedikit masuk akal.
Sejenak Rafif mulai memikirkan semua yang dikatakan oleh Grubby, memang benar jika ini merupakan kesempatan terbaik. Akan tetapi, dirinya akan segera menemui Reni, salah satu wanita kelas malam yang dirinya sukai.
Tentu saja hal tersebut menjadi kesusahan tersendiri. Apalagi selama ini dirinya sudah diberitakan meninggal dunia. Bahkan kemunculannya kemarin pun dengan cepat Lizian sanggah melalui bukti-bukti konkret. Karena memang Rafif tidak pernah melepaskan maskernya selama berada di luar, kecuali ada oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan semuanya tanpa dosa.
“Sepertinya memang kesempatan yang bagus, Grub. Cuma gue agak ragu kalau kita datang ke sana memakai pakaian sangat mencolok. Bukankah itu akan menimbulkan keraguan cukup besar?” ucap Rafif mengernyitkan keningnya tidak percaya.
“Mungkin ini memang bisa dibilang bukti valid sekaligus kuat untuk menumbangkan LUCA secara keseluruhan, Raf. Karena sebagian polisi ada di belakang Lizian, dan beberapa pengikut LUCA sudah ditanggap diam-diam,” balas Grubby mengangguk mantap.
Sejujurnya hal tersebut membuat Rafif semakin tidak percaya. Dirinya akan mendapatkan kesempatan lagi untuk membalaskan dendam pada sang paman yang telah melenyapkan keluarganya secara sadis hanya menginginkan harta tak terkira.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Zyrach yang baru saja masuk bersama Beryl di belakangnya.
Sontak hal tersebut membuat Grubby tersenyum lebar. “Gue baru mendapat kabar kalau Ethan akan melakukan transaksi di Rainbow Night Club.”
Mendengar nama yang tidak asing itu pun membuat Zyrach langsung melayangkan tatapannya pada Rafif.
“Iya, benar. Itu salah satu tempat yang masuk daftar dalam penyelidikan gue,” timpal Rafif mengangguk singkat.
Zyrach mengangguk mengerti, lalu kembali menatap pada Grubby. “Apa yang akan dia lakukan? Bukankah kemarin baru saja dilepaskan? Sekarang sudah ingin melakukan ulah lagi.”
“Gue pikir, ini mungkin ada kaitannya dengan obat yang sedang mereka kembangkan, Zy. Karena beberapa waktu lalu, gue menerima laporan kalau ada limbah medis yang dibuang secara sembarangan,” tutur Grubby mengangguk beberapa kali.
Sedangkan Beryl yang sejak tadi hanya memperhatikan pun mulai mengangguk mengerti. Lelaki tampan berwajah datar itu terlihat sedikit serius.
“Kalau kita ingin melakukan p*********n nanti malam, ada baiknya kalau kita melakukan hal itu dengan perundingan rencana. Karena akan lebih baik melakukannya secara bersama-sama tidak seperti kemarin. Sebab, ini menyangkut juga dengan masa depan Guardian,” usul Beryl membuat semua anggota tim yang ada tampak setuju.
“Begini saja, kita membicarakan hal ini dengan Pimpinan Abd. Karena beliau juga sedang memikirkan sebuah rencana untuk melumpuhkan LUCA, dan tidak hanya Theo saja. Sehingga membutuhkan banyak rencana dan masukan dari kita agar cepat menyelesaikan kasus ini,” timpal Zyrach yang tiba-tiba terlintasi sebuah ide menarik.
Mendengar hal tersebut, Beryl, Grubby dan Rafif pun mengangguk bersamaan. Tanpa sadar mereka sudah dalam penyatuan tim yang selama ini diinginkan oleh Xavier, yaitu kebersamaan Guardian dalam memutuskan banyak hal, termasuk pelumpuhan yang akan dilakukan untuk anggota dan pengikut LUCA.
Benar-benar akan menjadi satu-satunya rencana terbesar yang akan segera mereka lakukan. Hanya saja memang membutuhkan banyak waktu untuk berkembang. Apalagi anggota Guardian berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, hanya Rafif dan Zyrach memiliki kesetaraan. Karena keduanya berasal dari abdi negara, meskipun dalam ruang lingkup yang berbeda.
Namun, hal tersebut jelas tidak pernah menyulutkan semangat Guardian untuk segera melakukan banyak aksi bersama. Walaupun dapat melihat bahwa semakin cepat kasus terselesaikan, maka kebersamaan mereka akan segera menipis.
Entah apa yang akan dilakukan Xavier ketika Guardian telah menyelesaikan tugasnya. Akan tetapi, untuk sekarang para Guardian tidak pernah memikirkan hal tersebut. Pertemuan dan perpisahan jelas sudah menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga tinggal menunggu waktu saja yang akan menjawabnya.
Setelah itu empat Guardian yang memiliki rencana pun langsung melenggang pergi menuju ruang kerja milik Xavier. Di dalam ruangan sepi nan senyap itu, hanya ada seorang lelaki tengah melakukan beberapa kegiatan mengetik melalui layar komputer di hadapannya, meskipun sesekali menerima panggilan dan berakhir dengan helaan panjang panjang.
Beryl memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan itu pun mengalihkan sedikit perhatian Xavier membuat lelaki paruh baya dengan guratan lelah tercetak jelas di wajahnya menoleh.
Xavier menatap satu per satu anggota Guardian yang masuk ke dalam, lalu mendudukkan diri di jejeran sofa berada di tengah ruangan. Membuat Xavier bangkit dan ikut mendudukkan diri di sana.
“Apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya Xavier yang sudah menebak kedatangan Guardian ke dalam ruangannya.