Regina benar-benar menunggu kedatangan Lizian yang benar-benar ingin mengambil semua bukti ketiadaaan atau hanya rekayasa para orang iseng. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada beberapa rekaman yang dikamuflase agar wanita itu mempercayai bukti konkret seorang polisi.
Namun, saat wanita itu menonton semua rekaman yang ada, Regina benar-benar dibuat tidak masuk akal. Beberapa kali dirinya merasa ada sebuah gerakan aneh yang seakan memotong kejadian cukup penting.
Akan tetapi, benaknya selalu mengatakan itu semua hasil perolehan dari polisi sehingga tidak menutup kemungkinan ada beberapa rekaman yang memang tidak bisa dibagikan secara umum.
Regina menyudahi tontonannya, karena percuma saja tidak ada apa pun yang perlu dilakukan, terlebih semua video tersebut benar-benar bukan asli rekaman. Membuat wanita itu merasa sia-sia saja dirinya menonton lebih lanjut.
“Gue enggak peduli mau lo ngasih video sebanyak apa pun, Zian. Tapi, tolong kalau ada masalah apa pun yang berkaitan dengan Rafif, lo harus kasih tahu gue. Jangan seperti kemarin gue kayak orang gi*la nyari informasi di internet, dan nyatanya sia-sia aja,” papar Regina menggeleng tidak percaya. Tanpa sadar wanita itu benar-benar kecewa dengan semua yang telah dilakukan oleh Lizian, termasuk lambatnya laporan
“Maafkan aku, Kak. Aku baru menerima laporan itu pagi ini, jadi memang tidak ada persiapan apa pun. Sehingga ketika kasusnya menyebar di internet, tidak ada satu polisi pun yang mengetahuinya,” sesal Lizian menatap wanita di hadapannya bersungguh-sungguh. Sebab, memang tidak ada laporan apa pun ketika berita tersebut terbit.
Regina memandangi wajah Lizian dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu berkata, “Gue mau tanya, Zian. Tapi, lo harus jawab dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.”
“Tentu saja, Kak. Kamu bisa bertanya apa pun,” balas Lizian tersenyum lebar.
“Apa lo yakin kalau Rafif benar-benar menghilang?” tanya Regina merendahkan suaranya.
Sontak hal tersebut membuat Lizian langsung terdiam tak bersuara. Jujur saja, mendengar pertanyaan yang cukup serius sekaligus menegaskan itu membuat Lizian benar-benar dibuat tidak berkutik.
Akan tetapi, keberuntungan tengah berpihak padanya. Sebab, tiba-tiba saja Hafa meringsek masuk tanpa mengetuk pintu dulu membuat dua orang yang ada di dalam langsung menoleh cepat dengan melebarkan matanya terkejut.
“Maaf sudah mengganggu waktu kalian berdua, tetapi ini sangat mendesak. Lizian harus segera menyelidiki kasus,” sesal Hafa meringis pelan.
Lizian mengernyit penasaran, lalu menghampri polisi wanita yang selama ini sudah menjadi teman baiknya dalam bekerja.
“Ada apa, Hafa? Katakanlah dengan perlahan, jangan terburu-buru,” titah Lizian lembut berusaha menenangkan gadis yang ada di hadapannya.
Sejenak Hafa menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. Kemudian, perasaan gadis itu menjadi sedikit lebih baik.
“Ini masalah anggota LUCA, dan sekarang Pak Andri sedang menunggu di ruangannya,” ucap Hafa tersenyum lega.
Lizian mengernyit bingung, lalu menoleh pada Regina yang terlihat menunggu jawab dirinya. “Kak, untuk masalah Rafif akan aku selesaikan. Sekarang benar-benar mendesak, jadi aku tidak bisa memberikan penjelasan untukmu.”
Tanpa menunggu jawaban dari wanita cantik itu, Lizian pun langsung melenggang pergi diikuti Hafa di belakangnya. Meninggalkan Regina sendirian di dalam ruangan.
Tak lama setelah keduanya pergi, Regina pun memutuskan untuk hengkang. Sebab, tujuannya datang ke sini hanya menginginkan penjelasan mengenai sang adik. Namun, tidak ada siapa pun yang bisa memberikan jawaban memuaskan.
Akhirnya, Regina pun kembali dengan wajah lesu dan tangan kosong tanpa mendapatkan jawaban apa pun. Sebenarnya ia benar-benar lelah dan menginginkan jalan hidup yang biasa saja, tetapi ketika memikirkan Rafif yang masih berada di luar tanpa kabar membuat Regina berkali-kali mengurungkan niatnya tersebut.
Saat wanita itu hendak membuka mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kantor polisi tiba-tiba ponsel dari dalam tas tangan berdering singkat. Menandakan ada pesan singkat masuk.
Tanpa pikir panjang, wanita itu pun menutup pintu mobilnya kembali, lalu memilih untuk membuka pesan tersebut di luar mobil. Regina tampak mengernyitkan keningnya nyaris tidak percaya sekaligus merasa benar-benar dibodohi.
Tepat di sebuah pesan masuk tersebut menampilkan wajah tampan Rafif di salah satu restoran mewah, tetapi sayang sekali fotonya terlihat seperti diambil bukan pada hari ini. Karena terik cahayanya terlihat sedikit aneh, karena dipadukan oleh awan mendung yang menyelimuti langit.
Sejujurnya Regina ingin sekali membalas pesan tersebut, tetapi tepat di ujung pesan sudah diberi tahu bahwa dirinya jangan pernah membalas semua chat yang sudah dikirim. Kalau melanggarnya, maka dengan berat hati semua tentang Rafif akan lenyap.
Karena tidak ingin kehilangan kabar sang adik, Regina pun meringsek masuk ke dalam mobil tanpa menyentuh ponselnya kembali. Ia senang sekaligus cemas melihat Rafif benar-benar masih dalam keadaan sehat berada di luar. Walaupun beberapa kali terlibat dalam situasi cukup menegangkan.
“Gue harap lo baik-baik aja, Raf,” gumam Regina tersenyum tipis, lalu menarik pedal gas mobil secara perlahan keluar dari pekarangan kantor polisi tersebut.
Sementara itu, tanpa disadari ada sepasang mata yang memperhatikan kepergian Regina dengan sendu. Ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan diri menjadi penyelamat Rafif, tetapi siapa pun akan menyadari bahwa lelaki tersebut pasti melakukan apa pun untuk menjadikan sahabatnya terlewat dari situasi cukup menegangkan.
Tujuan Regina tidak lain tidak bukan adalah kembali ke rumah, tetapi sebelum benar-benar kembali ke tempat itu, ia selalu meluangkan waktunya untuk melihat beberapa makanan kuliner murah yang berada di pinggir jalan.
Wanita itu tersenyum senang ketika melihat beberapa makanan kesukaannya tampak ikut meramaikan suasana. Hanya saja cita rasa yang digunakan tidak terlalu pekat, sehingga cukup untuk menjadi hidangan pendamping saja.
Karena menutut penduduk asli yang terkadang beli mengatakan bahwa jauh lebih baik membuatnya sendiri. Mungkin bagi sebagian pedagang yang menginginkan dagangannya laris pun lebih memilih tidak membongakr apa pun.
Sebab, resep makanan yang sudah dibuat secara pribadi memang sulit mendapatkan komersial. Sehingga tidak menutup beberapa tokonya untuk melakukan penjualan merasa sedikit tersaingi.
Tanpa disadari wanita itu mendadak menginginkan sebuah restoran hasil keringatnya sendiri untuk melakukan banyak hal, tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada kerugian dan keuntungan yang selalu menghantui ketika masa penertiban masalah lalu lintas sembari menampilkan sebuah lelucon di tengah-tengah kebosanan melanda.
Namun, sepertinya keinginan wanita itu tidak akan mengekspresikan diri. Karena Regina menyadari perubahan, termasuk pada dirinya yang mulai menyukai hal-hal memasak. Meskipun sejak dulu dirinya tidak pernah memasak apa pun, karena benar-benar menyeramkan. Bisa dikatakan Regina bisa membakar seisi apartemen dalam sekejap saja.