Empat Guardian itu pun benar-benar melenggang masuk melalui pintu samping yang ternyata sudah tidak ada lagi kamera pengawas. Lizian sangat memperhatikan setiap detail masalah agar tidak meninggalkan jejak.
Seakan hafal dengan tempat ini, Rafif menuntun ketika rekan kerjanya menuju sebuah pintu yang berbelok kiri membuat Zyrach mengernyitkan keningnya sesaat.
“Raf, lo yakin ini udah aman?” tanya Zyrach sedikit waspada akibat dirinya yang terlalu takut untuk terekspos lebih cepat.
“Tenang aja kali, Zy. Kita semua pakai masker, mustahil kalau ada orang-orang yang mengenali,” jawab Grubby santai.
Kemudian, mereka berempat pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ruang tahanan yang telah di sampai oleh Lizian. Tidak perlu menunggu lama, Rafif benar-benar membawa rekan kerjanya menuju tempat yang sudah hafal di luar kepala.
Sesaat mereka tampak memandangi sekitar dengan penuh waspada, lalu menyelinap masuk dengan Beryl yang berada di belakang untuk mengawasi anggota timnya agar tidak ada masalah.
Sejenak Rafif terpaku pada seorang lelaki berjas hitam tengah bersandar pada dinding tahanan sembari meletakkan kepalanya pada lutut sembari mengembuskan napasnya teratur.
“Kalian sudah datang?” celetuk Lizian membuat empat Guardian itu pun menoleh, termasuk satu orang penting yang berada di LUCA.
Rafif tersenyum miring, tetapi hal tersebut dapat disadari oleh Lizian yang berada di hadapannya.
“Gue datang cuma buat ngasih ini, jadi lo segera menyelesaikan masalah dan pergi dari sini sebelum ada seseorang yang mengenali lo,” pinta Lizian menyerahkan kunci tahanan tepat di tangan Rafif, lalu melenggang pergi begitu saja.
Sepeninggalnya Lizian yang tidak ingin ikut campur sekaligus menghindari semua masalah demi sahabatnya, kini Rafif memutar-mutar kunci tersebut menggunakan jemari telunjuk dan melangkah dengan santai menghampiri seorang lelaki yang sejak dulu sangat ingin membalaskan dendam. Akan tetapi, Rafif belum mempunyai kesempatan itu, sampai tiba hari ini membuat Rafif benar-benar merasa takdir mempermainkan dirinya.
Dalam sekejap kunci sel pun terbuka membuat Rafif melenggang masuk. Sedangkan anggota Guardian lainnya terlihat mendudukkan diri di kursi dan meja kosong yang berada di sana. Memperhatikan Rafif agar tidak kalap dalam memberikan peringatan.
Tentu saja Ethan langsung ketakutan melihat sesosok serba hitam yang menghampirinya. Lelaki itu spontan bangkit dan hendak lari, tetapi kalah cepat dengan Rafif yang langsung mencekik lehernya begitu kuat. Lalu, memojokkan ke dinding untuk menahan Ethan agar tidak memberontak.
Sejenak Rafif menatap lelaki itu berapi-api membuat Ethan yang mengenal tatapan itu mendadak terdiam, lalu bibirnya bergerak tanpa suara akibat cekikkan yang terlalu kuat.
“Kenapa? Kamu sudah mengenalku, Paman?” tanya Rafif dengan suara layaknya anak kecil.
Sontak hal tersebut membuat tangan Ethan bergetar, lalu menatap Rafif dengan pandangan tidak percaya. Namun, sebelum lelaki itu kembali bersuara, Rafif langsung melayangkan pukulan tajam sekaligus mematikan. Hingga satu pukulan saja sudah menembus hingga organ dalam Ethan. Membuat lelaki itu memuntahkan darah dari mulutnya.
Setelah itu, Rafif melempar tubuh lemas Ethan begitu saja. Kemudian, membuang kunci sel di atas meja. Tatapannya masih sangat tajam membuat lelaki itu tidak mengatakan apa pun selain melenggang keluar bersama ketiga rekan kerjanya.
Rafif benar-benar melenggang pergi dari kantor polisi menuju di mana mobilnya terparkir rapi. Tanpa lelaki itu sadari ternyata ada sesosok wanita yang baru saja datang mendapati siluet tubuh tidak asing keluar dari gedung kepolisian metropolitan.
Hal tersebut membuat Regina langsung berlari mengejarnya. Namun, sayang sekali mobil yang ditumpangi Rafif telah melesat dengan cepat. Membuat Rafif tidak bisa dikejar kembali oleh Regina.
“Apa itu benar-benar Rafif atau hanya hayalanku saja?” gumam Regina sembari mengernyit bingung.
Namun, saat wanita itu hendak mengejar kepergiannya, tiba-tiba ia kembali teringat untuk menanyakan keberadaan Rafif pada Lizian. Akhirnya, wanita itu pun mengurungkan niatnya untuk mengejar mobil tersebut dan langsung menuju kantor polisi.
Saat Regina hendak melenggang masuk telinganya mendadak mendengar sesuatu yang menjadi perbincangan dua polisi wanita duduk di meja resepsionis.
“Pimpinan Vald benar-benar datang ke sini untuk menghadiri interogasi?”
“Iya, aku dengar katanya tangan kanan dia yang tertangkap saat melakukan peringkusan di dermaga kemarin.”
“Siapa namanya? Aku menjadi penasaran.”
“Aku dengar, dia bernama Ethan Osm Rafandra.”
“Wah, benar-benar sulit dipercaya Pimpinan Vald bisa merendahkan harga dirinya demi seorang tangan kanan.”
Sesaat kemudian, perbincangan mereka tampak terhenti membuat Regina mendadak penasaran, lalu mengintip melalui celah pintu yang berada di sana. Kemudian, matanya melebar sempurna melihat seseorang yang sangat kental di ingatannya.
Tanpa pikir panjang, wanita itu pun langsung berlari bersembunyi agar tidak diketahui oleh seorang lelaki yang selama ini menjadi buronan bagi Rafif. Ia tidak menyangka bahwa Ethan akan menjadi tangan kanan Theo sekaligus orang kepercayaan bosnya sendiri.
Namun, Regina benar-benar merasa bodoh selama ini dirinya tidak pernah mengenali seorang lelaki yang beberapa kali melangkah bersama bosnya itu adalah Ethan. Orang yang begitu tega membunuh keluarganya sendiri sekaligus musuh bebuyutan Rafif untuk membalaskan dendam.
Sejenak dalam hari Regina ingin sekali membuat perhitungan dengan lelaki tersebut. Akan tetapi, ia masih belum memiliki kekuatan. Sehingga akan lebih baik memang tetap berada di persembunyian seperti ini daripada mempertaruhkan ketenangan hidupnya sendiri, sebab Regina masih menunggu kedatangan Rafif.
Setelah memperhatikan mereka benar-benar pergi dari kantor polisi, akhirnya Regina pun memberanikan diri untuk melenggang masuk menemui Lizian yang akan dipertanyakan mengenai keberadaan Rafif. Akibat dari pemberitaan yang ada di media begitu ramai.
“Cepat panggilkan Lizian ke sini!” pinta Regina dengan wajah kesal membuat Hafa yang melihat kedatangan seorang wanita kerabat dari Rafif itu pun meringis pelan.
Sedangkan Nailaraa yang tidak mengenal pun hanya mengernyit bingung, lalu memperhatikan rekan sampingnya langsung menyambungkan panggilan.
“Siapa dia, Fa?” tanya Nailaraa penasaran.
“Itu namanya Regina. Kakak Rafif yang beberapa hari lalu datang,” jawab Hafa meringis pelan sembari terus berharap bahwa Lizian segera mengangkat panggilannya.
“Kenapa dia datang lagi?”
“Tentu saja dia akan datang ketika mendengar media begitu ramai akan kemunculan Rafif di gedung kosong nan terbengkalai.”
“Astaga, kau benar, Hafa!” gumam Nailaraa mengangguk beberapa kali, lalu berpura-pura menyibukkan diri untuk menghindari wanita yang terlihat kesal tersebut.
Tak lama kemudian, Lizian pun datang sesuai dengan permintaan Hafa. Lelaki itu mengembuskan napasnya panjang melihat kedatangan Regina yang sudah dirinya duga. Akan tetapi, ia tidak tahu akan datang secepat ini. Bahkan ketika dirinya baru saja membereskan kekacauan akibat kedatangan Pimpinan Vald yang berusaha mematahkan semua alibi dari kejadian di dermaga. Membuat Lizian tidak mempunyai pilihan lain, selain melepaskannya begitu saja.