“Rafif, apa lo yakin mau ke kantor polisi?” tanya Zyrach penasaran.
Kini Guardian tengah berada di ruang santai yang bisa dimasuki oleh siapa pun, termasuk para pekerja sistem. Mereka terbiasa mencari udara segar dengan menikmati keindahan yang berada di belakang gedung. Selain tempatnya yang begitu mewah, tempat istirahatnya sangat unik.
Sebab, ruang istirahat tampak berbentuk segi lima itu diisikan sofa single berwarna putih yang begitu mungil. Memang hanya muat untuk satu orang saja, jika dipakai untuk berdua mungkin tidak akan muat. Lalu, di hadapannya terdapat meja kaca yang sama sekali bukan bahan kaca, melainkan semi kaca.
Sementara itu, di beberapa spot kosong belakang sofa terdapat rak buku bacaan dengan sesuai jenis dan nomor bukunya. Sehingga mereka tidak perlu melakukan banyak hal untuk mencari buku bacaan, cukup mengetikkan sesuatu papan ketik yang berada di sana dan buku pun siap untuk dibaca dengan nyaman.
Selain Xavier menginginkan inovasi baru terhada tentaranya, lelaki paruh baya itu pun jelas memberikan fasilitas cukup memumpuni.
“Tenang aja, Lizian sudah mengabari bahwa kita ke sana saat kantor sudah kosong,” jawab Rafif santai membuat Grubby mengangguk beberapa kali.
“Gue pikir, memang lebih baik kita ke sana, Zy. Sebelum dia lepas lagi dengan alasan yang enggak masuk akal. Karena kantor polisi enggak akan bisa menegakkan hukum secara adil kalau di belakang mereka masih ada pistol tanpa peluru,” sahut Grubby menatap Zyrach berusaha meyakinkan gadis itu.
Setelah kejadian yang menimpa Rafif, Zyrach memang sulit sekali untuk diajak keluar. Gadis itu masih beranggapan bahwa kesehatan Rafif belum terlalu pulih. Hanya saja lelaki itu memiliki sistem imun tubuh yang jauh berbeda, sehingga dirinya tidak akan seperti manusia biasa.
Mendapat banyak keyakinan dan melihat Rafif benar-benar ingin membalas dendam, akhirnya Zyrach pun tidak memiliki pilihan lain. Gadis itu mengangguk setuju, walaupun jauh dari dalam lubuk hatinya merasa sangat tidak percaya.
“Kalau begitu, gue mau hubungi Bang Jarvis dulu,” ucap Zyrach membuka ponselnya.
Sontak hal tersebut membuat Rafif yang mendengarnya pun langsung mengernyit tidak percaya. “Pak Jarvis tahu lo ikut Guardian!?”
“Santai aja kali, Raf. Lo kaget banget,” gumam Grubby mengusap da*danya yang berdebar cukup keras akibat terkejut.
Melihat rekan kerjanya yang terkejut, Rafif pun langsung menepuk pundak lelaki itu sembari tertawa lepas. Ia tidak percaya perkataannya benar-benar menggelegar sampai Grubby yang mendengarnya pun terkejut.
“Bang Jarvis memang tahu, Raf. Bahkan ketika Kak Regina panik saat gue di rumah sakit mendadak hilang pun, Bang Jarvis udah tahu. Jadi, enggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,” jawab Zyrach tersenyum ringan.
“Tapi, kenapa Kakak gue enggak boleh dikasih tahu? Dia juga wajib tahu dong!” ucap Rafif tidak terima.
“Raf, Pimpinan Abd pasti punya alasan tersendiri ngelarang lo ngasih tahu Kak Regina,” balas Zyrach tersenyum lembut memberikan sisi positif agar lelaki yang ada di sampingnya tidak terlalu memikirkan hal-hal tidak penting.
Rafif mengangguk lemah. “Gue hanya enggak mau kalau Kak Regina khawatir, karena sampai hari ini gue belum ada kabar. Malah tadi ada berita di media yang tersebar.”
Mendengar hal tersebut membuat Beryl mengangguk singkat. “Kapan kita akan ke sana?”
“Sekarang, Ketua Tim!” jawab Rafif mendadak bersemangat.
“Kalau begitu, kita harus bergegas. Agar tidak terlalu lama di sana,” putus Beryl membuat satu per satu Guardian mulai membubarkan diri.
Tak lama kemudian, malam pun tiba, waktunya mereka melakukan sebuah aksi yang cukup menawan. Guardian tampak siap dengan pakaian yang biasa dikenakannya, yaitu serba hitam dengan masker penutup wajah.
Mereka berempat bergerak secara bersamaan menuju sebuah mobil mewah yang dimodifikasi khusus hanya untuk memudahkan Guadian melakukan tugas-tugasnya. Sebab, mereka memiliki tugas yang lebih berat daripada polisi.
Beryl memposisikan menjadi supir, sedangkan Rafif terlihat mendudukkan diri di jok penumpang membuat Zyrach yang terdiam sesaat. Kemudian, gadis itu beralih pada jok penumpang yang berada di samping kemudi.
Hal tersebut membuat Beryl menoleh sesaat, lalu mulai mengenakan sabuk pengaman sembari menatap dua rekannya yang terlihat baru saja masuk ke dalam mobil. Dan mereka pun melakukan hal yang sama.
Mobil mewah itu pun secara perlahan bergerak keluar dari wilayah gedung Guardian. Tanpa mereka sadari ternyata sepasang mata tajam yang memperhatikan seiring mobil hasil buatannya bergerak secara perlahan.
“Pimpinan Abd, apakah kita perlu mengawasi kepergian mereka?” tanya Faza terdengar sedikit cemas.
“Tidak perlu. Mereka bisa menjaga diri ketika ada polisi yang mencurigakan,” jawab Xavier tersenyum tipis, lalu membalikkan tubuhnya lagi menatap dua professor berbakat yang tengah sibuk memeriksa hasil laporan kesehatan para Guardian.
Sesampainya di kepolisian metropolitan, mobil yang ditumpangi oleh Guardian itu pun terhenti tidak jauh dari kantor. Membuat empat Guardian turun dengan langkah santai tanpa memedulikan di sisi mereka masih terlihat beberapa pejalan kaki sepulang dari kantor dan anak-anak kecil berlarian begitu riang.
Di sela langkahnya menuju tempat yang ditentukan, tiba-tiba ponsel Rafif berdering membuat lelaki itu menghentikan langkah. Mengundang ketiga lainnya penasaran dan ikut memberhentikan diri.
“Gue udah sampai di kantor,” ucap Rafif memandangi gedung yang sudah lama sekali menjadi teman ketika dirinya masih berada di sana, tetapi sayang semua harus sirna ketika dirinya menjadi penjaga elit menggantikan struktur polisi yang seharusnya melindungi rakyat sipil.
“Lewa pintu samping, Raf. Di luar ada penjaga Theo yang baru datang menghadiri interogasi demi menyelamatkan orang-orang LUCA,” pinta Lizian sedikit membingungkan.
“Apa maksud lo?” tanya Rafif.
“Kesempatan lo kali ini doang, Raf. Gue enggak sengaja menangkap orang penting di LUCA, jadi Theo benar-benar datang ke sini menyelamatkan dia,” jawab Lizian mengembuskan napasnya panjang. “Gue tutup lagi panggilannya. Pak Andri udah minta buat tiga menit balik ke ruang interogasi. Jadi, lo harus hati-hati.”
“Baiklah, gue tahu,” pungkas Rafif memutuskan panggilannya dan menatap ketua tim yang terlihat penasaran. “Sepertinya Lizian menangkap Pamanku.”
Mendengar hal tersebut sontak membuat Zyrach melebarkan matanya tidak percaya, lalu berkata, “Astaga, berani sekali Lizian menangkap tangan kanan Theo.”
“Gue rasa, dia salah membawa orang,” sahut Grubby mengangguk beberapa kali.
“Iya, benar. Lizian memang mengatakan bahwa dia salah melakukan instruksi,” balas Rafif membenarkan.
“Tapi, ini enggak akan sesederhana itu, Rafif. Kita datang ke sini tanpa rencana apa pun, jadi harus tetap berhati-hati,” timpal Beryl menggeleng pelan.
“Gue tidak akan mengorbankan seluruh rekan kerja gue demi masalah pribadi. Tenang aja, kalau ada sesuatu yang tidak terduga, gue akan bertanggung jawab sendirian,” ungkap Rafif terdengar sangat bertanggung jawab membuat tatapan rekan kerjanya terlihat sendu. Mereka tidak tahu beban yang ditanggung Rafif sendirian ternyata tidaklah sederhana. Buktinya lelaki itu mampu menanggungnya sendirian, meski bisa saja berbagai pada mereka.