Setelah beberapa hari dikurung demi memulihkan energinya lagi, kini Rafif tampak termenung di atap gedung menatap hamparan hutan yang begitu besar. Sebab, tempat ini memang jauh dari keramaian sehingga sangat cocok untuk dibangun sebuah gedung pertahanan rahasia.
Kegiatan tersebut tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang membuat Rafif menoleh sesaat dan kembali menatap hamparan hutan tersebut.
“Raf, gimana keadaan lo?” tanya Zyrach mendudukkan diri tepat di samping lelaki itu, dan diikuti Grubby dan Beryl yang memilih duduk di ruang kosong samping Rafif. Dengan posisi Grubby di samping Rafif, sedangkan Beryl di samping Grubby.
Kedua kaki mereka tampak menggantung di pinggiran gedung, dan hanya menapak pada sisi kecil yang digunakan sebagai pembatas pagar rooftop. Dari mereka tidak ada yang acrophobia sehingga tidak merasa takut ketika di bawahnya ternyata hamparan rumput berwarna hijau.
“Jauh lebih baik,” jawab Rafif mengembuskan napasnya panjang. “Maafin gue udah buat kalian semua cemas.”
“Enggak apa-apa, Raf. Ini bukan salah lo. Lagi pula punya dendam itu wajar, tapi kalau lo membalasnya pada bukan waktu yang tepat. Maka, bersiap aja akan menjadi boomerang buat lo sendiri,” sahut Grubby masuk akal.
Beryl mengangguk setuju. “Apa yang dikatakan Grubby memang benar, Raf. Dan lo tahu, dia juga mantan anggota LUCA.”
Perkataan tersebut justru mengundang tatapan terkejut dari Rafif, lalu memandangi wajah menggemaskan Grubby bisa menjadi salah satu anggota LUCA.
“Jangan salah, Raf. Biar wajah gue enggak akan gentle-nya, tapi kemampuan peretasan gue wajib diacungi jempol,” sinis Grubby seakan mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Rafif.
“Lantas, kenapa lo malah jadi ada di sini?” tanya Rafif penasaran.
“Kejadian ini udah lama banget, yaitu pas gue masih kuliah. Sebenarnya gue kerja sama LUCA sejak SMA, tapi entah siapa yang memberikan fitnah. Tiba-tiba anggota LUCA datang ke rumah gue dan langsung membunuh gue gitu aja pakai bom,” jawab Grubby mengangkat bahunya acuh tak acuh. Seakan apa yang dikatakan lelaki itu memang benar.
“Bom?” beo Rafif tidak percaya.
“Enggak terlalu besar, tapi cukuplah buat musnahin gue sendirian,” sambung Grubby mengangguk singkat. “Untungnya hari itu orang tua gue lagi keluar kota, jadi mereka enggak tahu kalau anaknya hampir aja meninggal.”
“Lantas, siapa yang nolong?” tanya Zyrach penasaran. Karena dirinya memang tidak pernah tahu akan cerita tersembunyi itu, sebab dirinya terlalu lama mengawasi setiap gerak-gerik Rafif ketika masih berada di kepolisian.
“Pimpinan Abd,” jawab Grubby lugas. “Gue enggak tahu bagaimana caranya mereka masuk, tapi ketika gue membuka mata dan udah ada di sini. Tepat gedung ini dan bertemu dengan Ketua Beryl. Tapi, gue juga sering dengar keberadaan Zyrach yang katanya melakukan tugas di luar.”
Zyrach mengangguk mengerti. “Pantas aja waktu gue datang agak bingung ngelihat lo di LAB dengan sekujur tubuh penuh alat penopang hidup.”
“Setiap orang punya cerita masing-masing ke sini. Hanya saja keterbukaan itulah yang membuat kita merasa nyaman. Dari empat di antara kita, hanya gue dan Zyrach yang mampu membuka suasana. Sedangkan Rafif dan Ketua Beryl, kalian berdua benar-benar membosankan,” celoteh Grubby diakhiri dengan gelengan penuh miris.
Sementara itu, di kepolisian metropolitan yang menjadi kantor terdahulu Rafif pun terlihat ricuh. Banyak sekali wartawan media berkumpul mencari informasi atas hilangnya seorang polisi berbakat dan tiba-tiba muncul di sebuah situs rahasia ber-headline cukup memikat, yaitu “Seorang Polisi Interpol yang Dinyatakan Hilang, Malam Hari Kemarin Mendadak Terlihat Di Sebuah Gedung Kosong Terbengkalai. Apa yang sebenarnya terjadi?”.
Kutipan judul tersebut benar-benar membuat gempar seluruh kantor polisi, terutama ruangan yang didiami oleh Lizian. Lelaki itu mendadak memiliki banyak sekali pekerjaan. Sehingga ruangannya dipenuhi banyak laporan yang meyakini keberadaan Rafif.
“Kak Zian, apa yang harus kita lakukan?” tanya Hafa mengembuskan napasnya berat. Gadis itu mendudukkan diri di samping Lizian sembari merendahkan tubuhnya dengan bersandar pada kursi. Tentu saja Hafa sudah mulai lelah menghadapi banyak wartawan yang memenuhi halaman kantor polisi.
“Biarkan saja. Mereka tidak akan pergi sebelum kita mengeluarkan opini. Sekarang yang jelas kamu harus terus mengawasi semua laporan ini tanpa terlewat satu pun. Aku ingin meminta izin pada Pak Andri,” jawab Lizian bangkit dari tempat duduknya, lalu meraih kartu pengenalnya dan kembali dipakai pada leher.
“Baiklah, aku akan kembali melanjutkan penyelidikan,” putus Hafa mengangguk singkat.
Setelah itu, Lizian pun bergegas keluar ruangan, tetapi lelaki tersebut tidak langsung menuju ruangan Pak Andri melainkan menuju toilet. Sejenak lelaki itu memastikan bahwa tidak ada siapa pun selain dirinya.
Kemudian. Lizian berdiri menghadap cermin wastafel sembari menempelkan ponselnya di telinga. Membuat suara dering panggilan tunggu terdengar beberapa saat.
“Halo, Raf!” sapa Lizian tepat ketika panggilannya tersambung.
Seseorang yang disapa ‘Raf’ oleh Lizian memang tidak lain tidak bukan adalah Rafif. Polisi Interpol dilaporkan hilang itu pun mendadak memunculkan diri di tengah kota. Melalui website tersembunyi, Rafif benar-benar muncul.
“Lo benar-benar nyiksa gue, ya, Raf. Setelah susah menghilang, sekarang lo malah memunculkan diri,” keluh Lizian mengacak rambutnya kesal, lalu bersandar pada dinding toilet berwarna putih.
Tawa tanpa beban terdengar renyah membuat Lizian mendengkus pelan. Lelaki itu memang tidak memiliki pilihan lain, selain menenangkan opini publik agar tidak terlalu memojokkan Rafif.
“Oh ya, Raf, kapan lo mau ke sini? Beberapa anggota penting LUCA udah gue tahan. Mungkin di antaranya ada orang lo cari,” lanjut Lizian melirik handle pintu yang bergerak pelan.
Hal tersebut membuat Lizian langsung bergerak cepat memasuki salah satu bilik toilet dan menutupnya dengan rapat. Sedangkan ponselnya ia rendahkan volume agar tidak terlalu keras.
“Setelah rapat gue ke sana, Zian,” jawab Rafif mantap.
“Baiklah. Gue akan pastiin di kantor enggak ada siapa pun,” pungkas Lizian mengangguk singkat.
Setelah itu, panggilan pun terputus. Kemudian, Lizian langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Akan tetapi, ada yang aneh, ia sama sekali tidak mendengar suara dari luar.
Dengan rasa penasaran yang utuh, Lizian pun membalikkan kepalanya ke bawah untuk mengintip melalui celah pintu. Terlihat dua pasang kaki lelaki berdiri berdampingan menghadap cermin wastafel.
Akhirnya, Lizian pun memutuskan untuk duduk di closet sembari menunggu dua lelaki yang baru saja datang itu selesai dengan aktivitasnya. Entah apa yang mereka lakukan, tetapi cukup mencurigakan karena tidak ada suara apa pun, selain gesekan demi gesekan. Membuat Lizian mendadak penasaran.
“Apa yang mereka lakukan?” gumam Lizian mengernyit penasaran, lalu berniat untuk mengintip dari atas bilik yang kebetulan sekali hampir menyamai tinggi tubuhnya.