Bahkan ia menulikan telinganya untuk mendengar semua panggilan dari rekan kerja. Jelas saja mereka akan menjadi khawatir, tetapi emosi Rafif mendadak memuncak akibat melihat seorang lelaki yang sejak dulu menjadi incarannya selama berprofesi sebagai polisi. Akan tetapi, siapa yang menyangka kalau mereka berdua akan bertemu di saat seperti ini.
“Paman Ethan, tunggu aku ke sana!” gumam Rafif tersenyum sinis. Kilatan masa lalu di mana orang tuanya dibunuh secara tragis oleh pamannya sendiri. Membuat luka yang perlahan mongering itu kembali basah dengan sangat perih. Seakan ada air garam yang menumpahinya.
Tanpa sadar ternyata gumaman tersebut didengar oleh Beryl dan Grubby. Keduanya langsung menghentikan langkah secara spontan, lalu saling berpandangan. Meskipun keduanya dalam jarak dan tempat yang berbeda, tetapi mereka terlihat benar-benar saling berpandangan.
Sedetik kemudian, Beryl dan Grubby langsung berlari menyusul keberadaan Rafif yang ternyata tidak jauh dari mereka. Sebab, suara yang terdengar dari earpiece begitu jelas membuat mereka tanpa pikir panjang menyusul.
Dan benar saja, mereka berdua bertemu di arah yang berlawanan, lalu menatap punggung kokoh dengan kedua tangannya terkepal kuat menahan gejolakan emosi yang siap tumpah begitu saja.
“Rafif, ingat setiap emosi lo harus di tahan!” ucap Beryl menepuk pundak lelaki itu sedikit keras seakan berusaha menyadarkannya.
Embusan napas kesal seiring dengan kepalan tangan itu perlahan mengendur, Rafif pun menoleh dan berkata, “Aku tidak akan seceroboh itu mengedepankan emosi.”
Mendengar hal tersebut, Grubby pun mengangguk singkat. Lelaki itu kembali membuka ransel hitamnya dan mengeluarkan sebuah teropong besar yang bisa digunakan untuk melihat sesuatu dari jarak jauh.
“Kapal pengangkutnya sudah lumayan mendekat,” ucap Grubby melepaskan teropong tersebut, lalu menatap dua rekannya penasaran. “Apa yang harus kita lakukan?”
“Rencana A!” titah Beryl melalui earpiece membuat Zyrach langsung menyungging senyuman senang.
Gadis cantik itu pun turun dari mobil sembari melakukan sebuah rencana yang telah dirapatkan ketika berada di markas Guardian. Zyrach memang sebuah lampu sirine khas mobil ambulance melalui ponselnya untuk mengelabui beberapa pengawal yang hendak datang dari kejauhan membuat mereka langsung memutar balik.
“Rencana A selesai!” ucap Zyrach senang.
Ternyata semua perhitungan yang dilakukan oleh Beryl benar-benar terlaksana dengan baik. Sebab, tidak ada satu mobil pun yang datang membuat beberapa pengawal LUCA mulai bergerak gelisah.
Sampai salah satu dari mereka langsung melaporkan situasi pada seorang lelaki yang terlihat duduk santai di kursi. Jelas saja lelaki itu bisa ditebak dengan baik bahwa Pimpinan Vald. Tidak ada lelaki mana pun yang dihormati dengan begitu patuh.
“Pimpinan Vald, semua pemesan dan mobil pengangkut belum juga datang,” ucap lelaki berpakaian formal itu sedikit takut.
Theo menoleh kesal. “Bagaimana bisa? Bukankah kalian memberikan undangannya dengan tepat waktu? Mengapa tidak ada satu pun yang datang?”
Mendengar hal tersebut, Ethan tampak melirik arloji yang ada di tangan kirinya. Dan benar saja, semua sudah ditentukan. Sehingga cukup mencurigakan kalau tidak ada satu undangan pun datang.
“Bagaimana kalau kita mengangkut manusia itu sebelum diperjual-belikan, Bos?” usul Ethan berusaha menengahi bosnya yang terlihat kesal.
“Itu memang langkah terbaik, tetapi bisakah mobil kita menampung semuanya?” balas Theo mengangguk beberapa kali.
“Coba sekarang cek ada berapa angkutan yang bisa melewati jalan raya!” titah Ethan pada lelaki berpakaian formal tersebut dengan tegas.
Lelaki yang terlihat sedikit ketakutan itu pun bergegas pergi dari sana untuk segera memberikan jawaban pada pemimpin sekaligus tangan kanannya bos. Agar tidak menjadi masalah.
Setelah mendapat jawaban yang pasti, lelaki itu kembali menghampiri Theo sembari memberikan daftar mobil tugas pengangkut di jalan raya. Namun, sayang sekali mereka kekuarangan satu mobil membuat Ethan mengembuskan napasnya panjang saat menerima berkas itu mewakili sang bos.
“Kita kekurangan satu mobil, Bos!” ucap Ethan memberikan berkas tersebut kembali pada lelaki yang menjadi kepala pengawal LUCA.
“Baiklah, itu akan kita pikirkan nanti. Sekarang kapal pengangkut sudah mau datang dan kita belum melakukan apa pun,” balas Theo mengangguk singkat membuat Ethan yang mendengar hal itu langsung bergegas menghampiri dua pengawal bertugas menjaga kapal pengangkut.
Sedangkan Rafif yang melihat LUCA mulai bergegas pun langsung tersebut miring di balik maskernya. Lelaki itu keluar begitu saja diikuti Grubby di belakangnya sembari membawa sebuah bantalan yang cukup keras untuk meninju siapa pun.
“Mengapa kamu terlihat terburu-buru sekali, Pimpinan Vald!” seru Rafif melangkah mendekat dengan santai membuat beberapa pengawal LUCA langsung bergegas membentuk pagar untuk melindungi satu-satunya penerus sekaligus bos.
Theo mendengar suara tidak asing di telinganya itu pun bangkit dari tempat duduk, lalu membelah pagar tersebut dengan menatap di balik kacamata tebalnya. Lelaki yang kemarin masih terlihat tampan nan menawan itu sudah berubah sedikit jauh lebih buruk. Mungkin diakibatkan oleh pengaran polisi, sehingga lelaki itu harus hidup berpindah-pindah tempat.
“Kamu ....” Ucapan Theo menggantung membuat Rafif memutar bola matanya malas, tetapi siapa sangka kalau secara diam-diam Beryl mulai melumpuhkan satu per satu pengawal LUCA, termasuk Zyrach yang pada saat bersamaan ikut bergabung.
Kali ini emosi Rafif sedikit terkontrol akibat lelaki itu belum mendapati Ethan di sana. Sehingga ia masih bisa melakukan hal, termasuk menggoda Theo agar segera menyadari dirinya tanpa harus berkenalan ulang.
“Pimpinan Vald, apa kalian tidak takut kalau aku melaporkan tempat ini pada polisi?” tanya Rafif berusaha mengulur waktu dengan terus berkomunikasi pada Grubby.
Theo tersenyum sinis. “Kamu tidak akan memiliki kekuatan apa pun untuk melaporkan semuanya pada polisi. Memangnya kamu siapa?”
Siapa pun yang mendengar hal itu langsung tercengang, termasuk Grubby tanpa sadar menyuarakan keterkejutannya membuat Rafif mengembuskan napas panjang. Lelaki tampan itu jelas merasa bingung sekaligus tidak percaya.
Rafif mengangguk beberapa kali, lalu tatapannya terpaku pada kapal pengangkut yang mulai membunyikan suara terompetnya. Membuat Theo langsung mengkode pada gerakan tangan.
Sontak semua pengawal LUCA yang tersisa itu pun mulai saling menghantam Grubby dan Rafif secara bergantian. Membuat Beryl dan Zyrach yang melihatnya langsung ikut bergabung bersama mereka.
Jelas saja melumpuhkan satu per satu pengawal yang lumayan terlatih itu membutuhkan waktu dan tenaga. Akan tetapi, tidak dalam waktu lama semua pengawal LUCA dilumpuhkan oleh 4 Guardian yang kini melipat kedua tangannya di depan d**a membentuk banjar dengan sorot mata tajam mengarah pada Rafif.
Meskipun bisa dikatakan Beryl ketua timnya, tetapi aura keberadaan Rafif yang mendominasi membuat beberapa saat terasa begitu mencekam. Bahkan diam-diam Zyrach melirik lelaki yang ada di sampingnya yang terasa beraura lebih dingin. Mungkin dikarenakan Rafif telah melihat keberadaan Ethan selaku pamannya yang menghampiri Theo.
“Apa yang kamu lakukan, Pimpinan Vald? Gugatan kemarin saja belum ada keputusannya, dan sekarang kamu ingin berbuat ulah lagi?” sinis Grubby yang terlanjur gemas ingin sekali dirinya langsung membogem mentah lelaki itu.