Selama beberapa saat membersihkan tubuh di kamar mandi asrama, Rafif pun bersiap untuk keluar dari kamar menemui tiga teman barunya yang terlihat sudah berdiri tepat di pintu keluar gedung pelatihan sekaligus tempat tinggal untuk para pengurus Guardian.
“Rafif, bagaimana keadaanmu? Sudah jauh lebih baik?” tanya Grubby tersenyum lebar.
Rafif mengangguk. “Iya, aku jauh lebih baik daripada tadi. Sepertinya memang bukan hal serius, karena aku bisa mengisi energi dengan meminum minuman ion yang diberikan oleh Professor Aleena.”
“Wah, perhatian sekali!” sahut Zyrach tersenyum manis.
Beryl memandangi sekujur tubuh Rafif yang memang sudah terlihat jauh lebih segar daripada tadi. “Jadi makan siang di luar atau tidak?”
“Ya, jadi!” balas Grubby cepat, lalu merangkul bahu ketua tim dan membawanya keluar dari gedung.
Sebelum itu, Grubby menyempatkan diri untuk mengkode pada Zyrach yang masih menatap Rafif dengan tatapan cemas. Ia jelas tahu bahwa Zyrach merupakan rekan kerja Rafif ketika masih berada di kepolisian, sehingga wajar saja jika gadis itu memperhatikan Rafif dengan begitu dekat.
“Sudah jauh lebih baik, bukan? Ayo, kita makan di luar! Tapi, kamu harus ingat untuk tetap memakai pelindung wajah dan kepala agar tidak ada yang mengenalimu,” ajak Zyrach tersenyum singkat, lalu melenggang lebih dulu mendahului Rafif yang terlihat mulai mengenakan masker dan topi hitamnya. Tak lupa lelaki itu menaikkan tudung kepalanya untuk menyembunyikan identitasnya dari umum.
Tim Guardian itu pun berangkat menggunakan mobil sedan mewah milik perusahaan. Jelas saja mobil yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa itu terlihat sangat cocok gunakan untuk petarung andal. Karena semua yang terpadang di sana rakitan hebat dari kolaborasi Grubby, dan Faza dalam melakukan penyatuan bada. Kemudian, di susul dengan beberapa program dari Aleena untuk menyesuaikan semua kelengkapan.
Memang bisa dikatakan semua anggota Guardian bukanlah orang sembarangan. Bahkan Beryl pun memiliki satu kelebihan, yaitu kuat mengangkat beban tiga kali lipat dari bobotnya sendiri. Sehingga ketika melakukan banyak pembangunan terhadap gedung tersebut, Beryl jelas melakukan jasa dalam pendirian dinding.
Sedangkan Zyrach mantan anggota kepolisian dalam forensik pun sering kali melakukan banyak penelitian untuk pengembangan cairan tubuh untuk penguat lengan baja Beryl. Karena lelaki itu sempat tertimpa bencana ketika masih berada di dalam ketentaraan. Ia tidak sengaja tertusuk pohon hingga tangannya harus benar-benar dihilangkan.
Selama perjalanan menuju tempat yang sudah dikatakan oleh Grubby tadi terasa sepi senyap, kini mulai terasa lebih hidup. Karena tujuan yang hendak mereka datangi benar-benar ramai akan pengunjung.
Jelas saja tempat makan modern sudah menjadi banyak incaran bagi kaum muda. Bahkan semua yang bekerja di sana menggunakan sistem robotik modern. Sehingga mengerti bahasa apa pun yang keluar, termasuk uang kertas dalam mengambil uang lebih dalam sistem kembalian.
“Di sini benar-benar luar biasa, Grubby. Bagaimana kamu menemukannya?” tannya Zyrach setengah berbisik, karena dirinya benar-benar terlihat seperti orang udik yang terus menganga mengagumi keindahan di sana.
“Aku menemukannya saat tidak sengaja melakukan banyak hal di internet. Sampai tiba-tiba ada salah satu teman online menyarankan tempat ini dikunjungi ketika berada di Kota Jakarta,” jawab Grubby tersenyum penuh gaya dengan alis diangkat sesaat.
“Kamu luar biasa!” puji Zyrach menggeleng tidak percaya.
Kemudian, mereka berempat pun disambut ramah oleh dua pelayan cantik yang terlihat masih muda. Ternyata ketika di depan dipenuhi oleh robot, lain halnya ketika berada di sini. Semua pelayan manusia tampak menunggu per satu meja.
“Selamat datang, Tuan dan Nona! Apakah kalian ingin memesan makan di sini?” sapa pelayan cantik itu tersenyum ramah.
“Iya, ada rekomendasi tempat untuk kita?” balas Zyrach tersenyum lebar, meskipun hal tersebut sama sekali tidak diketahui. Sebab, gadis itu mengenakan masker dan topinya.
“Silakan ikuti saya!” pinta pelayan tersebut membungkuk ramah, lalu melenggang dengan santau anggun bersamaan pinggulnya berlenggak-lenggok sesuai irama.
Setelah mengikuti pelayan tersebut selama beberapa saat, akhirnya mereka pun sampai di sebuah ruangan tertutup membuat Zyrach menoleh menatap tiga teman seperjuangannya.
“Ruangan ini khusus untuk tamu yang memiliki oleh pemilik perusaah. Sehingga akan menjadi trend yang menarik kalau beberapa orang mengikutinya,” ucap pelayan tersebut dengan ramah.
“Apakah kita akan mendapat pita itu juga?” tanya Zyrach mendapati sekeranjang pita merah kayaknya anak kecil.
“Tentu saja,” jawab pelayan tersebut mengangguk pelan.
Kemudian, pelayan cantik itu tampak mengambil sekotak berisikan banyak sekali pita jadi untuk pelengkap souvernir yang hampir habis.
Menjadi satu-satunya seorang gadis di Tim Guardian membuat Zyrach merasa dirinya begitu diistimewakan tanpa mengetahui bahwa lelaki di belakangnya bersikap seperti pengawal.
Setelah sibuk memilih souvenir untuk dijadikan pengabadian telah berada di sini, akhirnya mereka pun masuk ke dalam ruang makan yang ternyata cukup luas. Hanya saja sebelum melepaskan maskernya, Zyrach tampak mengkode pada Grubby untuk mendeteksi ada alat tersembunyi yang melakukan pekerjaannya.
Sejenak Grubby mulai memberikan sensor pada setiap sudut dan beda yang berada di sama. Namun, semuanya benar-benar bersih membuat lelaki itu menggeleng pelan.
“Tidak ada apa pun,” ucap Gurbby tersenyum singkat.
Akhirnya, tiga lelaki dengan satu orang perempuan itu mendudukkan diri di pinggiran meja besar nan panjang yang digunakan para warga Jepang untuk makan.
“Sepertinya tempat ini bergaya jejepangan,” celetuk Rafif melihat perbedaan yang begitu kontras.
“Pantas saja ketika di luar banyak sekali robot, ternyata memang hasil dari produksi mereka sendiri sekaligus lambing kenegaraan pengambil nikel terbesar dari Indonesia,” balas Zyrach mengangguk beberapa kali.
“Aku menjadi miris pada negara sendiri yang begitu kuat dijajah dalam produk perlahan masuk dan laku keras. Padahal bisa saja menggunakan bahan alami tanpa ada campur tangan robor,” gumam Grubby mengembuskan napasnya panjang.
“Tapi, Indonesia tetap mempunyai ciri khas sendiri,” sanggah Rafif percaya diri.
“Apa itu?” tanya Grubby dan Zyrach secara bersamaan.
“Kita jelas kuat dalam pertahanannya. Sehingga tidak ada pertahanan apa pun yang bisa memembus Indonesia. Karena kita memiliki sebuah hukum alam yang begitu adil,” jawab Rafifi menyiratkan sesuatu.
“Sesuatu?” gumam Zyrach bingung.
“Astaga, bukankah kita dikenal akan ilmu gaib yang bernama santet? Sehingga jarang ada orang yang lolos dari p*********n belakang itu,” seru Rafif mengembuskan napasnya kasar menatap wajah polos dia orang yang ada di sampingnya.
Sedangkan Beryl terlihat santai sembari memandangi buku menu yang ada di atas meja. Lelaki itu benar-benar kurang dalam hal berkomunikasi, tetapi cukup netral jika diminta penilaian. Karena lelaki itu jelas tidak akan memihak pada siapa pun. Ketika menurut dirinya tidak cocok. Sehingga sedikit menguntungkan memiliki ketua tim seperti itu.