Saat semua keadaan di luar gempar akibat dikeluarkannya berita bahwa dinyatakan bahwa pencarian terhadap polisi yang menghilang itu pun membuat beberapa opini menyuarakan ketidakterimaan membuat banyak sekali warga melakukan unjuk rasa atas semua keputusan memihak tersebut.
Sementara itu, di sisi lain Rafif tengah berlatih dengan sangat keras bersama ketiga temannya yang baru saja bersama beberapa hari. Mereka semua terlihat begitu keras sampai melupakan batasannya sendiri.
Bahkan Rafif yang bisa dikatakan sangat berbakat dalam ketahanan tubuh pun langsung merasa kelelahan. Kemudian, lelaki itu menyandarkan tubuhnya sembari menatap dua lelaki perkasa dengan satu gadis yang terus melakukan penguatan tubuh.
“Raf, ayo bangun! Kenapa kamu malah diam seperti itu?” ajak Zyrach mengulurkan tangannya.
Rafif menggeleng pelan. “Tidak, aku benar-benar lelah, Zyrach. Pelatihan hari ini sangat keras, aku tidak bisa melakukannya lagi.”
“Jangan menyerah. Kamu akan segera terbiasa,” ucap Zyrach mengembuskan napasnya panjang. “Aku juga dulu seperti dirimu. Benar-benar lelah.”
“Kalau begitu, izinkanlah aku beristirahat sebentar saja,” balas Rafif menyandarkan tubuh.
Akhirnya, mau tak mau Zyrach pun mengkode pada dua lelaki dewasa yang terlihat melakukan penguatan otot. Salah satu lelaki dewasa itu tampak berlari dan mendudukkan diri dengan kasar di samping Rafif.
“Kamu jauh lebih baik daripada ketika aku datang dulu, Raf,” celetuk Grubby tertawa pelan. “Dulu aku terlalu banyak duduk ketika melakukan peretasan. Sehingga fisikku tidak terlalu kuat dibandingkan denganmu.”
“Bukankah kamu sabuk hitam kendo?” tanya Rafif bingung.
Grubby mengangguk pelan. “Aku memang sabuk hitam, tapi sudah lama sekali menghabiskan waktu di dalam rumah membuat aku sudah tidak memiliki kekuatan sebesar dulu.”
“Astaga, aku pikir kamu benar-benar kuat ketika datang pertama kali,” gumam Rafif tersenyum lebar. Ia merasa jauh lebih baik ternyata bukan hanya dirinya saja yang merasa kelelahan.
Setelah itu, Grubby pun mengalihkan perhatiannya pada seorang lelaki yang paling dewasa di antara mereka. “Ketua Olf, aku tidak menyangka kalau Rafif jauh lebih baik daripada yang dikatakan oleh Pimpinan Abd.”
Seorang lelaki yang disebut sebagai ketua itu pun mengangguk singkat. “Dia memang jauh lebih baik daripada kalian berdua ketika baru pertama kali berada di sini.”
Zyrach tersenyum lebar. “Wajar saja jika Rafif menjadi satu-satunya polisi unggulan. Karena dari sekolah pun sudah terlihat bakat dan minatnya menjadi seorang polisi.”
Mendengar banyak pujian yang dilontarkan membuat Rafif tersenyum malu-malu. Ia tidak bisa bereaksi berlebihan, sebab semua pujian tersebut memang benar adanya. Sehingga dirinya tidak bisa melakukan banyak hal.
Setelah itu, dua orang professor yang pernah merawat Rafif pun melangkah mendekat. Akan tetapi, kali ini keduanya memakai pakaian santai, bukan jubah kebesaran berwarna putih.
“Kak Leena!” sapa Zyarch tersenyum lebar.
Aleena mengangguk singkat, lalu tatapannya terpaku pada wajah lelah Rafif. Kemudian, ia tersenyum geli. Jelas saja lelaki itu kelelahan, karena melampaui batasannya sebagai manusia biasa, tidak seperti tiga rekannya.
“Rafif, apa kamu baru saja selesai berlatih?” tanya Faza menatap penasaran, karena keringat yang dikeluarkan lelaki itu sangat berlebihan.
“Iya, Professor Faza,” jawab Zyrach dengan nada sedikit cemas.
Tanpa pikir panjang Aleena dan Faza itu pun memposisikan diri tepat di samping Rafif yang terlihat setengah sadar. Bahkan lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali saat menyadari pandangannya mulai mengabur.
Zyrach yang sibuk memperhatian setiap gerak-gerik Rafif pun mendadak panik, lalu gadis itu dengan spontan memegang tangan lelaki itu sembari menatapnya dengan sendu.
Sejenak Aleena menatap apa yang dilakukan Zyrach, tetapi ia langsung tersenyum tipis dan kembali melakukan pemeriksaan terhadap semua yang telah dilakukan oleh rekan kerjanya.
“Bagaimana keadaan, Rafif?” tanya Aleena sibuk mencatat sesuatu di ponselnya menggunakan pen.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya kekuarangan asupan ion saja, tetapi kalau terus dipaksakan akan menimbulkan kesalahan fatal,” jawab Faza mengembuskan napasnya lega.
“Kalau begitu, usahakan semua pelatihan hari ini jangan terlalu keras, Rafif. Kami tahu fisikmu luar biasa, tetapi kalau terlalu dipaksakan akan timbul kesalahan juga. Jadi, setiap pelatihan satu jam harus ada istirahat selama lima belas menit,” tutur Aleena menatap satu per satu semua pelatihan di sana, termasuk Zyrach.
Beryl yang dipercayakan menjadi ketua tim sekaligus anggota terlama itu pun mengangguk singkat. “Dapat dimengerti! Terima kasih, Prof Aleena dan Prof Faza.”
Sepeninggalnya dua professor yang baru saja melakukan pengecekan itu pun membuat Beryl bangkit dari tempat duduknya, lalu berkata, “Pelatihan hari ini lebih baik kita tunda sampai kondisi Rafif memungkinkan. Karena memang salahku tadi terlalu memaksakannya berlatih keras di hari pertama.”
“Tidak apa-apa, Ketua Olf. Ini bukan sepenuhnya salahmu,” sanggah Rafif dengan lemah dan berusaha bangkit dari sandaran tubuhnya.
Zyrach mengangguk beberapa kali. “Benar, Ketua Olf. Jangan salahkan diri sendiri.”
Sedangkan Grubby tersenyum menggemaskan mencairkan suasana yang sempat terasa lebih tegang.
“Kalau begitu, mengapa kita tidak makan siang di luar saja!” usul Grubby bersemangat.
“Boleh juga!” balas Zyrach mengangguk cepat, lalu menoleh pada Rafif yang mengangguk lemah.
“Bagaimana, Ketua Olf? Hanya kamu saja yang belum menyetujuinya,” tanya Grubby bersamaan dengan Zyrach untuk merayu satu-satunya lelaki berwajah datar yang memiliki hati cukup lembut.
Dan benar saja, Beryl mengembuskan napasnya panjang sembari mengangguk beberapa kali. Kemudian, lelaki itu melenggang pergi meninggalkan tiga anggota timnya yang ber-high five dengan gelak tawa terdengar sampai keluar.
Sedangkan dua professor yang sempat mendengar perbincangan mereka pun langsung melayangkan senyuman geli. Karena jarang sekali Beryl menunda pelatihan. Jika bukan karena lelaki itu benar-benar merasa bersalah.
Tanpa pikir panjang, Grubby pun langsung membantu Rafif bangkit dari tempat duduknya. Sedangkan Zyrach berlari membuka pintu ruangan yang beberapa jam sudah dipakai untuk melakukan banyak pelatihan.
Ketiganya tampak melangkah secara beriringan di sepanjang koridor berdinding besi yang cukup kedap suara. Tentu saja langkah mereka menuju kamar masing-masing yang sudah ditetapkan secara permanen melalui ukiran nama terletak di samping pintu dekat kotak surat.
“Apakah kamu sudah menentukan ke mana kita akan pergi, Grubby?” tanya Zyrach menoleh pada lelaki yang seusia dengan dirinya. Hanya saja Grubby memiliki baby face sehingga kelihatan jauh lebih muda.
“Aku akan memikirkannya nanti,” jawab Grubby tidak menghentikan senyuman lebar yang terpatri jelas di wajahnya.
Sedangkan Rafif yang mendengar perbincangan mereka berdua pun menggeleng tidak percaya. Ternyata keduanya adalah pencair suasana di Guardian. Kalau tidak ada mereka, maka tim akan terasa seperti sekumpulan patung bernyawa. Membuat Rafif membayangkan dirinya masuk saat itu akan terasa jauh lebih mengerikan.