Setelah keluar dari ruangan yang begitu menyesakkan, Regina pun bersandar pada dinding kantor polisi tersebut dengan memejamkan mata. Entah kenapa hatinya masih tidak rela mendengar keputusan yang terlontar tadi.
Dirinya jelas paham mengenai sistem yang dikeluarkan oleh kepolisian. Sebab, dirinya sudah mengetahui banyak hal akibat dari cerita yang sering dilontarkan dari Rafif. Hanya saja terkadang lelaki itu bersikeras melawan hukum dan meneruskan kembali pencariannya sampai dapat.
Namun, menjadi seseorang yang baik memang tidak selamanya menjadi seseorang yang spesial. Regina sama sekali tidak menyangka adiknya akan berakhir seperti ini. Setelah dua puluh satu tahun dulu sempat mengalami hal yang sama.
Di tengah lamunan tersebut, Regina mengusap wajahnya kasar ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Akan tetapi, sayang sekali gerakan tersebut kalah cepat dengan Jarvis yang sudah mendapati seorang wanita menangis dalam diam.
“Tidak apa-apa, menangislah, Regina. Kamu tidak terlihat lemah dengan menangis. Justru kamu malah terlihat sangat kuat. Hanya saja kamu membutuhkan sandaran sekarang, jadi izinkan aku berada di sampingmu,” ucap Jarvis tersenyum lembut membuat air mata Regina tanpa sadar semakin deras.
“Perwira Jarvis!!!” rengek Regina dengan menangis tersedu-sedu.
Jika dikatakan Regina baik-baik saja, maka salah besar. Orang bodoh yang kehilangan keluarganya pun akan menangis. Apalagi Regina yang selama ini membesarkan Rafif seorang diri tanpa ada orang tuanya.
Untuk menerima semua ini bukanlah hal yang mudah. Pastikan Regina melihat wujud atau jasadnya Rafif ketika lelaki itu benar-benar dinyatakan meninggal. Namun, sampai hari ini tidak ada siapa pun yang bisa mengungkapkannya. Membuat Regina merasa tertekan.
Dengan ragu Jarvis merangkul Regina dan merapatkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tanpa sadar perlakuan tersebut disambut hangat oleh wanita yang sudah hilang akalnya. Kalau saja tidak ada Jarvis, mungkin Regina akan nekat menaiki lantai 10 tadi untuk terjun bebas ke bawah menyusul sang adik.
“Semua akan baik-baik saja. Saya tahu Rafif tidak akan semudah itu tumbang di bawah penyiksaan Pimpinan Vald. Karena semasa sekolah dulu, Rafif benar-benar menjadi murid kebanggaan. Bahkan bisa dikatakan Rafif lulus dari tim investigasi dengan nilai sempurna,” bisik Jarvis tepat di depan telinga Regina sembari berusaha menguatkan seorang wanita yang berada di dalam pelukannya.
“Gue tahu Rafif enggak akan semudah itu tumbang, tapi tetap aja menerima kenyataan ini membuat hati gue terasa begitu sakit. Bahkan rasanya gue enggak bisa bernapas,” keluh Regina memukul-mukul da*danya sendiri membuat Jarvis langsung mencekal pergelangan tangan tersebut, dan terus memegangnya agar tidak melakukan hal-hal konyol yang bisa membahayakan nyawa.
“Jangan menyalahkan diri sendiri, Nona Owl. Ini memang bukan kehendak Rafif sendiri, tetapi kamu ingat bahwa militer memiliki hukum tersendiri untuk menangani masalah ini. Meskipun tanpa ada campur tangan siapa pun,” sanggah Jarvis mengangguk menyakinkan.
Namun, Regina terus menggeleng dengan melingkarkan kedua tangannya erat pada sekeliling pinggang Jarvis yang terasa begitu kokoh.
Sementara itu, di sisi lain, Rafif terlihat menatap media yang berada dari televisi besar menampilkan wajahnya. Mereka semua beranggapan bahwa dirinya sudah mati. Walaupun pada kenyatannya hidup kembali bagaikan mumi.
“Zyrach, apa yang harus gue lakukan. Pasti Kak Regina merasa cemas melihat gue belum kembali sampai sekarang,” keluh Rafif meminta pendapat.
Memang sudah bisa dikatakan bahwa Rafif dan Regina sudah berlaku layaknya sebagai saudara kandung. Bahkan mereka sudah dikatakan tidak malu lagi mengatakan pakaian santai dengan hot pants yang tenggelam akibat kausnya kebesaran.
“Zyrach, bagaimana dengan aku? Kak Regina pasti akan mencariku dengan elakukan apa pun,” celetuk Fairel mengembuskan matanya beberapa kata dan kalimat yang bisa diajakan sebagai war hukumannya memli taks miing pelan.
“Jangan, Raf! Akan lebih baik jika keluargamu mengetahui bahwa kamu sudah mati. Sebab, kekuatan hanya akan tetap bertahap tanpa dengan melakukan hal bodoh tersebut merupakan pencapaian cukup kuat untuk melawan ketidakadilan yang sering digunakan untuk menguatkan benaknya kembali,” tolak Zyrach menggeleng pelan.
“Lantas, bagaimana agar gue bisa menenangkan Regina tanpa membuatnya lebih khawatir? Lihatlah, wanita yang tanpa sengaja kena sorot kemrah itu pun terpaku pada tatapan mata yang terlihat sedih,” sungut Rafif semakin dibuat gila akibat perkataan yang awalnya terdengar mudah.
“Tentu saja berita ini hanya semata-mata untuk menggiring banyak opini tersebut ke dalam suatu permasalaahan cukup besar. Apalagi melibatkan seorang transmigran dengan visa liburan,” balas Zyrach dengan mengembuskan napasnya singkat.
“Bukankah itu seharusnya dicegah oleh Professor Darwon, maka merdeka lagi tanpa adanya ada, bukan? Sebab, beberapa saat lagi kita akan makan malam apa pun milik Rafif,” ungkap Rafif menatap seorang gadis cantik di hatinya, tetapi ia juga yakin bahwa gadis itu mampu melakukan segala sesuatu dengan mudah.
Setelah mendengarkan banyak petuah yang disampaikan oleh Zyrach, akhirnya siang itu pun mereka berdua menjalankan mobil untuk meninggalkan pekarangan, Meskipun sesekali mereka berdua menjalankan berbagai kasus bersama-sama.
Kini mobil yang ditumpangi Regina pun bergerak keluar dari pekarangan cukup luas milik Mabes Porli, meskipun hanya mengandalkan uang negara. Akan tetapi, tetap saja bagi Regina hal tersebut sangat disayangkan ketika dilewatkan.
Regina sudah terlihat lebih baik, tetapi sesekali wanita itu itu menyeka wajahnya agar tidak lagi membanjiri air mata pada kemeja yang dikenakan oleh Jarvis. Namun, lelaki tampan itu terlihat sama sekali tidak keberatan. Membuat wanita itu percaya diri bahwa adiknya akan baik-baik saja.
“Bagaimana perasaanmu, Nona Owl?” tanya Jarvis menoleh sesaat pada wanita yang tersenyum sendu.
“Jauh lebih baik,” jawab Regina mengangguk singkat, lalu melirik ke arah bagian kemeja lelaki tampan di sampingnya yang terlihat basah. “Maafkan aku sudah mengotori pakaianmu.”
“Tidak apa-apa. Ini masih bisa dicuci. Lagi pula hari ini akan ada dinas lapangan, sehingga aku akan memakai pakaian loreng. Jadi, kamu tidak perlu khawatir mengenai kemeja ini. Aku hanya akan mengenakannya ketika masih dalam masa bersantai.” Jarvis tersenyum ringan, lalu kembali menoleh ke arah depannya untuk memfokuskan diri menyetir.
“Berikan padaku! Aku akan mencucinya secepat mungkin,” pinta Regina mengulurkan kedua tangannya seakan meminta sesuatu pada bapak muda yang sudah mapan dengan pekerjaannya.
“Tidak perlu. Aku akan mencucinya sendiri,” sanggah Jarvis tertawa pelan, lalu mengerti bingung menyadari perubahan kosa kata yang dipakai oleh wanita di sampingnya. “Nona Owl, sepertinya aku tidak salah dengar kalau kau sempat memanggil kita dengan sebutan santai.”
Regina tersenyum malu, lalu menjawab, “Itu hanya akan terjadi ketika aku dalam keadaan biasa. Nyatanya aku sama sekali tidak terbiasa.”