Selesai makan siang, tiba-tiba Regina mendapat panggilan dari Lizian membuat wanita itu langsung bergegas ke kantor polisi. Membuat Jarvis yang membawa Regina bepergian lumayan jauh itu pun langsung bergegas mengantarkannya ke tempat.
Sesampainya di Markas Besar Polisi Republik Indonesia, Regina langsung berlari turun. Ia terlihat menatap sekitar dengan wajah kebingungan, tetapi dengan langkah begitu gentleman Jarvis menarik lembut pergelangan Regina masuk ke sebuah ruangan.
Di sana tidak ada hiasan apa pun, selain banyaknya map berbisikan dokumen yang dipercayai adalah kasus selama Mabes Polri berdiri. Regina mendudukkan diri di kursi kosong dekat beberapa orang polisi, termasuk Lizian. Lelaki itu terlihat menatap tajam pada seseorang yang berada di samping Regina.
“Kakaknya Pak Rafif, ya?” sapa seorang polisi berperut buncit, tetapi memiliki pangkat cukup tinggi. Lelaki paruh baya itu menghampiri Regina untuk bersalaman.
Sontak wanita itu langsung bangkit untuk membalas sapaan lelaki paruh baya yang sama sekali tidak dikenalinya, tetapi ia jelas harus memiliki tata krama dan sopan santun.
“Iya, Pak. Saya Regina Owl Prafulla,” jawab wanita itu tersenyum ramah. “Kalau boleh tahu, ada apa saya dipanggil kemari, Pak?”
“Silakan duduk dulu. Ada banyak hal yang ternyata berkaitan dengan Rafif, karena dia sudah termasuk lama menjadi seorang Interpol. Tapi, saya menyuruh Nona Owl datang ke sini untuk memberikan kabar kurang mengenakkan,” ucap lelaki paruh baya tersebut mengembuskan napasnya panjang sembari mendudukkan diri di kursi kosong dengan beberapa petinggi kepolisian tampak ikut memadati meja panjang yang biasa digunakan untuk pertemuan.
“Apa maksudnya, Pak?” tanya Regina tidak mengerti.
“Kami minta maaf yang sebesar-besarnya telah melalaikan penjagaan untuk personil sendiri,” sesal polisi paruh baya lainnya membuiat Regina tanpa sadar mengenalkan tangan.
Tentu saja tindakan itu membuat Jarvis yang berada di sampingnya meraih tangan Regina, dan berusaha melepaskan satu per satu jemari terkepal kencang tersebut. Membuat wanita itu menoleh dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa. Ada saya di sini,” ucap Jarvis tanpa suara hanya menggunakan gerakan isyarat bibir yang bergerak, tetapi dapat dipahami.
Setelah itu, Regina mengembuskan napasnya berkali-kali untuk menenangkan dirinya agar tidak terlalu terkejut. Sebab, resiko menjadi seorang polisi memang tidak bisa dikatakan sebuah permainan.
Terkadang seluruh keluarga harus memiliki mental yang cukup kuat. Hanya saja dirinya belum siap jika ditinggalkan oleh adiknya, tepat ketika ia baru saja kehilangan sang ayah. Jelas itu merupakan pukulan terbesar kedua bagi Regina. Karena setelah ini tidak akan ada lagi telinga yang mendengarkan dirinya berbicara keluh-kesah.
“Kami sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Rafif dari penculikan yang dilakukan oleh Pimpinan Vald,” ucap lelaki paruh baya lainnya.
Regina yang mengerti kalimat selanjutnya itu pun terdiam membisu. Seakan dirinya sudah kehilangan semangat hidup. Bahkan untuk bernapas pun rasanya sesak.
“Maaf, kalau ini hanya ingin mengatakan Rafif sudah tidak bisa ditolong lagi. Maka, saya tidak akan mendengarnya lagi. Karena saya yakin dia masih ada di sini tanpa pergi ke mana pun,” kata Regina setengah bergetar.
Lizian yang melihat betapa hancurnya Regina pun mengembuskan napas panjang. Ia memang tidak pernah mendapati bagaimana hubungan keduanya yang begitu dekat, tetapi dirinya bisa memahami bagaimana perasaan Regina kehilangan satu-satunya orang yang selama ini menjadi penguat.
“Kami tahu rasa kehilanganmu, Nona Owl. Tapi, sudah tidak ada gunanya lagi untuk dipikirkan. Jadi, kami sudah memutuskan untuk tidak terlalu memfokuskan diri pada pencarian kali ini. Karena masih ada hal besar yang harus dilakukan, yaitu menyelesaikan persidangan,” sahut polisi paruh baya yang menyempatkan diri menyapa Regina tadi.
“Sudah tidak ada lagi yang dikatakan, bukan? Kalau begitu, aku pergi dulu!” pamit Regina beranjak dari bangkunya begitu saja membuat semua tatapan yang ada di sana terpaku pada seorang wanita tersebut.
Sontak Jarvis yang sejak tadi diam pun kembali mengikuti langkah Regina. Ia hendak mengejar kepergian wanita yang terlihat kacau tepat setelah mendengar kabar dari adiknya.
Sementara itu, Lizian yang masih berada di dalam pun menatap polisi paruh baya menjadi atasannya, yaitu Pak Andri. Lelaki paruh baya yang menyapa Regina tadi sudah menjadi atasan Rafif sejak dulu.
“Pak Andri, mengapa tidak bisa diusahakan kembali untuk meneruskan pencarian? Lagi pula kita memiliki bukti penting, yaitu rekaman CCTV sebuah mobil yang mengangkut Rafif ketika tidak sadarkan diri,” usul Lizian dengan nada memohon pada Pak Andri.
“Kami semua menginginkan hal tersebut, Zian. Tapi, sebagai seorang polisi yang sudah memusatkan diri untuk tetap memprioritaskan keamanan warga sipil pun tidak banyak dilakukan. Karena tidak semua warga sipil bisa menerima penjelasan dari kita secara mentah-mentah,” balas Pak Andri mengembuskan napasnya panjang.
“Kalau begitu, biar tim kami yang melakukan pencarian secara sembunyi-sembunyi. Karena situasi di luar cukup ricuh akibat berita yang beredar bahwa salah satu polisi tertembak hingga sampai saat ini belum ditemukan,” sahut Ketua Tim Franky yang sejak tadi menjadi pendengar tanpa berniat ikut bersuara.
Namun, nyatanya sahutan tersebut dianggap remeh oleh Lizian yang memang sudah mengetahui bahwa ketua tim terhormat itu sama sekali tidak patut dijadikan seorang pemimpin. Sebab, segala sesuatu yang dilakukannya sudah dalam campur tangan orang lain.
Akan tetapi, Lizian pun tidak yakin bahwa semua yang ada di ruangan pun bermain bersih. Karena dirinya tahu, di kepolisian metropolitan saja banyak penguntit tidak tahu malu. Sehingga tidak menutup kemungkin beberapa oknum memanfaatkan situasi dengan baik.
“Ide bagus, Franky! Kamu memang harus menjaga semua personil polisi yang berada di bawahmu,” balas lelaki berperut buncit yang kebanyakan memakan uang haram.
“Akan saya usahakan!” pungkas Franky mengangguk mantap.
Seyakin apa pun lelaki itu mengatakan banyak hal, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil membuat perasaan Lizian bergetar. Seakan lelaki itu benar-benar sudah tidak mempercayai lagi bagaimana para polisi tersebut memihak, tetapi tetap saja bersama orang jahat di belakangnya.
Jujur saja, Lizian lebih baik bekerja sendirian daripada harus bergabung dengan oknum-oknum yang memanfaatkan situasi demi mendapatkan uang. Karena akan lebih baik jujur daripada harus menerima uang hasil berlaku jahat pada teman seperjuangan sendiri.
Sudah muak melihat segala kepalsuan yang ada di dalam, Lizian pun melenggang keluar. Ia memang sama tidak percayanya dengan Regina, tetapi sebagai seorang polisi. Lizian harus bersikap logis dengan mementingkan mana yang urgent dan mana yang tidak. Sebab, kepolisian memiliki ketentuan dalam pencarian personil yang hilang, yaitu dalam 3 hari pencarian tidak ada, maka akan dikatakan sebagai kasus tertunda. Sehingga jarang sekali personil polisi yang hilang langsung ditemukan, karena pemimpinnya saja terlalu mengurusi hukum dengan melindungi pihak yang menguntungkan.