Regina mengembuskan napas panjang. Sudah waktunya ia kembali bangkit dalam keadaan sedih apa pun. Nyatanya Perwira Jarvis pun bisa melakukan hal tersebut tanpa merasa keberatan.
Tak lama kemudian, mobil taksi yang ditumpangi Regina pun sampai di pinggir jalan dekat Halte Kenangan 1. Tentu saja mobil tersebut tidak akan berani menurunkan penumpangnya tepat di depan halte, sebab takut mengganggu bus umum yang ingin melakukan pemberhentiannya.
Setelah membayar melalui scan barcode, wanita berpakaian kantoran itu pun beranjak turun dari mobil. Ia belum melihat tanda-tanda kedatangan Jarvis, membuat Regina melangkahkan kakinya menuju tempat duduk yang tersedia di halte.
Karena dirinya tidak mungkin tetap berdiri, sedangkan kedua kakinya masih mengenakan high heels kantor. Sebab, Regina ingin memperlihatkan dirinya yang baru saja kembali dari kantor. Walaupun tempat itu harus terpaksa ditutup oleh polisi demi mensterilkan penyelidikan.
Saat Regina tengah asyik memainkan game yang ada di ponselnya tiba-tiba terdengar suara klakson tidak jauh dari arahnya. Membuat wanita itu mengangkat kepalanya, lalu mengangguk singkat. Ternyata Jarvis sudah sampai dengan mobil jeep yang sama persis dengan milik Rafif sehingga mengingatkan Regina kembali pada adiknya yang belum ditemukan.
Diam-diam wanita itu mengembuskan napasnya berat. Ia kembali teringat pada sang adik yang masih antah-berantah. Jelas saja dirinya merindukan lelaki itu. Sebab, sampai hari ini Regina belum lagi mendapatkan kabar apa pun.
“Perwira Jarvis,” sapa Regina tersenyum tipis pada seorang lelaki yang kini membuka pintu penumpang di sampingnya untuk mempersilakan wanita cantik tersebut masuk.
“Masuklah, Nona Owl,” titah Jarvis mengangguk singkat, lalu kembali menatap lurus ke depan.
Sejenak Regina pun menghimpit rok selututnya untuk duduk di samping lelaki asing, yang ternyata dirinya kenal melalui relasi pertemanan Rafif ketika masih berprofesi sebagai polisi. Sebab, ketika Regina nanti sampai menemukan Rafif kenbali, ia tidak akan mengizinkan lelaki itu mencari pekerjaan yang membahayakan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Jarvis mulai menjalankan mobilnya secara perlahan.
“Masih tetap bernapas dengan baik,” jawab Regina setengah bercanda membuat lelaki yang ada di sampingnya tersenyum singkat.
“Aku pikir kamu melakukan banyak hal setelah kepergian Rafif untuk menyibukkan diri.”
“Tidak. Beberapa hari ini aku memang sibuk, walaupun bukan menyibukkan diri.”
“Kenapa?”
“Karena memang sudah tempatnya diriku menjadi sibuk.”
“Oh, seperti itu. Aku baru tahu ada seorang wanita yang begitu sibuk tanpa memedulikan dirinya sibuk.”
Ucapan random itu entah kenapa malah membuat Regina jengah. Ia tidak mengerti apakah Perwira Jarvis memang tidak bisa berkomunikasi atau memang lelaki itu lebih sering berkata dengan hal-hal tidak penting.
Namun, dirinya wajib memberikan apresiasi pada lelaki itu karena bisa melakukan semuanya dengan baik. Hanya dirinya yang selama ini belum melakukan hal baik, kecuali dalam karirnya begitu bagus.
“Perwira Jarvis, kita ingin ke mana?” tanya Regina menoleh keluar jendela mobil yang menampilkan sisi jalanan padat merayap Kota Jakarta.
“Kita akan ke restoran seafood dekat Terowongan Kasablanka,” jawab Jarvis menatap sesaat, lalu kembali memfokuskan diri mengemudikan mobilnya ke arah yang lumayan padat.
Mungkin berhubungan hari ini masih masuk ke dalam hari kerja, sehingga lumayan lenggang. Walaupun tidak terlalu sepi, karena jalanan terlalu padat kendaraan pengangkut dari pabrik.
Memang bisa dikatakan Jarvis begitu tenang dalam mendekati seorang wanita. Karena lelaki itu termasuk dalam pemilih yang tidak bisa dianggap ringan. Bahkan Jarvis hampir menolak sepuluh gadis dari dirinya menyendiri ketika mantan pacar memutuskan dirinya begitu saja, akibat Jarvis yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Selama menuju tempat yang menjadi tujuan, Regina benar-benar diam tanpa melakukan apa pun. Karena dirinya merasa begitu canggung untuk membahas banyak hal. Selain tidak terlalu dekat, ia masih menjaga perasaan lelaki tampan yang ada di sampingnya untuk memaafkan.
Setelah berkendara cukup lama, Regina pun sampai di sebuah restoran cukup besar dengan bagian depannya terdapat jejeran mobil mewah dan pengunjung yang berada di dalam lumayan banyak. Namun, masih menyisakan tempat yang kosong.
“Ternyata sangat ramai. Padahal kita datang di hari kerja dan bukan makan siang,” celetuk Jarvis menatap restoran tersebut dengan mengangguk singkat.
Regina menyetujui ucapan lelaki yang ada di sampingnya dalam hati. Kemudian, ia menutup pintu yang berada di belakangnya masih terbuka, dan melenggang dengan santai mengikuti lelaki tampan tersebut dengan berjalan bersisian.
Tentu saja kedatangan mereka berdua tampak mengusik beberapa pengunjung yang terlihat asyik menunggu makanan sembari berswa foto dan membicarakan banyak hal, tetapi kehadiran Jarvis benar-benar mencolok akibat pakaian dan kharismanya yang begitu mendominasi keadaan.
Seakan-akan di mana pun keberadaan lelaki itu akan menjadi pusat perhatian. Bahkan aura kepemimpinannya terasa begitu kuat, sehingga Regina diam-diam mengagumi banyak tanggung jawab di balik wajah seriusnya.
“Permisi, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pelayan cantik nan muda sembari tersenyum manis menatap wajah tampan Jarvis yang menjulang tinggi.
“Saya ingin memesan satu meja,” balas Jarvis bersikap tenang. Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan memuja dari yang lain, karena memang hal tersebut sudah terbiasa.
“Apakah sudah melakukan referensi terlebih dahulu?” tanya pelayan muda itu dengan nada sedikit manja.
“Belum,” jawab Jarvis singkat, lalu menoleh pada wajah Regina yang terlihat datar sembari memandangi pelayan di depannya. Bahkan ia sendiri pun sudah merasa kalau pelayan muda itu sedikit tertarik, tetapi tetap saja wajah cantik wanita yang datang bersamanya lebih memikat.
“Kalau begitu, ikuti saya karena di sini hanya untuk meja yang sudah dipesan. Tapi, kalau Tuan tidak mau, bisa melakukan referensi secara on the spot,” tawar pelayan itu seakan mengulur waktu membuat Regina yang melihatnya langsung memutar bola mata malas.
Saat dirinya hendak berbicara, tetapi suara Jarvis sudah lebih dulu berkata. Membuat Regina membukam sembari menipiskan bibirnya kesal.
“Maaf, bisa tidak jangan terlalu lama. Kasihan tunangan saya sudah menunggu,” sela Jarvis tersenyum tipis melihat Regina yang mendadak melebarkan matanya terkejut.
“Tu ... tunangan?” gumam pelayan muda itu dengan ekspresi terkejut.
Sedangkan Regina langsung mengernyit tidak percaya, lalu menoleh ke arah Jarvis yang terlihat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari menandangi wajah terkejut pelayan di depannya.
“Baiklah, silakan lewat sini, Tuan!” ajak pelayan tersebut tanpa pikir panjang langsung memimpin jalan. Sebab, ia memang beberapa kali mendapati ekspresi kesal dari wanita cantik berpakaian kantoran yang berada di sampingnya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita cantik nan tinggi itu adalah tunangan dari pengunjung tampan yang hampir saja dirinya goda.
Setelah itu, Regina pun mengembuskan napasnya panjang. Akhirnya, ia bisa melakukan makan siang dengan tenang. Tanpa harus mendengarkan banyak omong kosong dari pelayan yang berusaha mengulur waktu untuk berbicara pada Jarvis.