“Zyrach, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kamu berada di rumah sakit?”
Seorang gadis yang terduduk di samping Rafif itu pun tersenyum singkat, lalu menyudahi kegiatannya dengan mengetikkan sesuatu di laptop. Kemudian, menoleh ke arah Rafif yang terlihat bingung akibat semua kejadian di depannya.
“Rafif, sebenarnya gue udah siuman sejak hari pertama masuk ke rumah sakit. Hanya saja gue masih menahan diri untuk tetap tidur saat menunggu Pimpinan Vald melakukan rencananya terhadap lo,” jawab Zyrach mengembuskan napasnya panjang.
“Apa maksudnya?”
“Astaga, Rafif! Lo sadar enggak sih kalau lo itu lebih istimewa daripada orang lain?”
Rafif menggeleng pelan. “Gue pikir sama aja enggak ada perbedaannya.”
“Jelas beda, Raf. Lo itu sedari kecil udah menarik perhatian banyak orang. Bahkan enggak menutup kemungkinn banyak professor yang ada di universitas mulai merasa kalau lo bukanlah manusia sembarangan.”
“Maksudnya, gue mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki banyak orang? Misalnya seperti pendengaran lebih tajam.”
Zyrach mengangguk mantap. “Bahkan lo udah menyadarinya, tapi masih aja menyangkal. Raf, ini bukan kutukan. Artinya lo terpilih, meskipun ada campur tangan manusia tidak bertanggung jawab yang sudah melakukan hal ini sama lo.”
“Sebentar ... gue masih belum percaya dengan semua ini.” Rafif tertekan tepat setelah mendengar semua perkataan gadis yang ada di sampingnya. Ia memijat kepalanya lelah.
“Sudah waktunya, Raf. Lo harus terima mau tidak mau. Karena memang sudah menjadi takdir lo seperti ini tanpa ada yang bisa mengubahnya seperti semula.”
“Lantas, gue harus bagaimana?”
“Terima dan yakini diri sendiri bahwa lo bisa melakukan semuanya tanpa merasa kesulitan. Karena semakin lo merasa seperti itu, maka akan semakin banyak peneliti yang mengincar lo.”
“Mengapa bisa seperti itu?”
“Iya, lo pikir aja, Ferguso!” sungut Zyrach menatap tidak percaya pada Rafif yang terlihat seperti orang bodoh.
Sementara itu, di sisi lain terlihat seorang lelaki yang begitu dihormati oleh hampir sebagian penduduk di Kota Jakarta. Hanya saja organisasi tersebut berkedok dengan pengiriman banyak paket lain.
“Pimpinan Vald, saat ini bandara tengah dijaga ketat oleh polisi!” ucap seorang lelaki berpakaian jas hitam formal.
“Baik, aku tahu!” balas Theo mengangguk singkat.
Setelah itu, lelaki yang masih berada di dalam mobil tidak jauh dari bandara terlihat memijat kepalanya lelah. Membuat wanita cantik nan sek*si di sampingnya mengernyit bingung.
“Ada apa ini, sayang? Mengapa semua polisi menunggu di bandara? Apakah kamu melakukan kesalahan?” tanya Vesenia panik.
Theo menatap kekasihnya lembut, lalu memeluk pinggang wanita itu dengan erat. ”Tidak apa-apa. Ini hanya kelalaian salah satu karyawan yang tidak sengaja meletakkan berkas rahasia LAB di kantor. Sehingga polisi tanpa sengaja menemukannya dan langsung menggugat terkait kasus dengan salah satu pekerja LAB yang meninggal.”
“Mengapa bisa seperti itu? Bukankah kamu selalu teliti dalam mengerjakan banyak hal?” tanya Vesenia mengernyit bingung.
Theo tersenyum tipis, lalu menjawab, “Tidak apa-apa. Anggap semua yang terjadi itu untuk petunjuk bagi polisi. Jadi, tenang saja tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”
Sementara itu, di sisi lain Regina tengah menatap ponselnya dengan wajah datar. Wanita itu baru saja kembali dari kantor, tetapi berkat banyaknya polisi yang berjaga, akhirnya semua karyawan pun dipulangkan. Dengan garis polisi membentang lebar mengelilingi seputar kantor.
Sebenarnya Regina tahu alasan di balik penutupan perusahaan tersebut. Karena Theo sampai hari ini belum bisa ditemukan, termasuk hilangnya Rafif tidak ada kabar. Membuat Regina mengembuskan napasnya panjang.
Saat wanita itu hendak merebahkan diri tiba-tiba ponselnya berdering pelan di tangan. Regina melihat nama sang pemanggil yang terpampang di layar, ternyata dari Perwira Jarvis.
“Halo, Perwira Jarvis!” sapa Regina dengan pelan. Ia masih merasa bersalah atas hilangnya Zyrach bertepatan dengan Rafif yang diculik.
“Bagaimana kabarmu, Nona Owl?” tanya Jarvis ramah.
“Aku ... aku baik-baik saja,” jawab Regina ragu.
“Jangan kaku seperti itu, Nona Owl. Ini bukan salahmu tentang hilangnya Zyrach. Lagi pula aku sudah mengerahkan segala prajurit untuk mencari keberadaannya,” ucap Jarvis tersenyum ringan.
“Tapi, tetap saja aku bertanggung jawab atas hilangnya Zyrach yang berada di bawah pengawasanku,” balas Regina mengembuskan napasnya panjang.
Terdengar suara ringan dari Jarvis seakan tidak terjadi apa pun. Padahal untuk ukuran seorang kakak yang baru saja kehilangan adik perempuannya cukup melakukan kesedihan. Akan tetapi, Jarvis justru terdengar ringan membuat benak Regina merasakan ada hal yang tidak beres. Seakan ditutup-tutupi oleh lelaki tersebut.
“Uhm ... Nona Owl, apakah kamu memiliki waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu makan siang bersama untuk menyalurkan rasa terima kasih atas kemauanmu menjaga Zyrach dengan baik,” tawar Jarvis membuat Regina langsung menegakkan tubuhnya.
Kebetulan sekali hari ini ia memang tidak memiliki apa pun untuk dimasak. Sehingga memerlukan waktu sebagai pengganti istirahatnya sekaligus mencari udara segar setelah memikirkan beberapa hal berat dalam waktu bersamaan.
“Baiklah, aku bisa menyetujui ajakanmu, Perwira Jarvis. Kebetulan sekali hari ini aku tidak memiliki bahan apa pun untuk dimasak,” balas Regina bersemangat.
“Kalau begitu, aku menjemputmu di mana?” tanya Jarvis membuat Regina mengernyitkan keningnya bingung.
Sebenarnya, ia bisa saja meminta lelaki itu datang ke rumahnya. Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan dirinya dan Rafif. Tentu saja hal tersebut meminimalisir kejahatan akibat profesi yang digeluti Rafif membuat dirinya merasa terancam.
“Kita akan bertemu di Halte Kenangan 1, apa kamu tahu?” putus Regina mengangguk singkat. Ternyata tidak sia-sia dirinya belajar banyak hal dari Rafif, terkadang pembelajaran itu justru bermanfaat bagi dirinya.
“Oh, aku tahu! Baiklah kita akan bertemu di sana!” balas Jarvis tepat memutuskan panggilan tersebut.
Kemudian, Regina yang baru sja memutuskan itu merasa sedikit menyesal. Ternyata dirinya begitu gegabah dalam melakukan banyak hal, termasuk memberi keputusan pada Perwira Jarvis yang ternyata ia sendiri pun bingung untuk datang ke sana.
Namun, canggihnya teknologi memang perlu dilakukan. Sehingga Regina langsung memesan sebuah taksi online yang akan datang setelah tiga menit pemesanan. Kebetulan ia tidak perlu mengganti pakaian apa pun, karena masih terlihat rapi dengan pakaian kantor yang sama sekali belum dilepaskan sejak merebahkan diri. Walaupun ada beberapa bagian kusut akibat terlalu lama merebahkan diri dan tidak bergerak.