“Berita terkini hari ini, seorang polisi yang sekarang dalam tahap pencarian sampai saat ini belum ditemukan. Diduga polisi tersebut ikut terlibat dalam kecelakaan yang sempat menggemparkan lampu merah Kenangan. Sekian sekilas info dari kami. Setiap perkembangan kasus akan selalu kami update dari tempat kejadian.”
Setelah itu, layar televisi cukup besar nan lebar menampilkan sebuah iklan salah satu produk s**u membuat Regina langsung memastikannya dengan cepat. Wanita cantik berpakaian piyama merah itu tampak menatap ke arah pigura foto di mana dirinya dan Rafif tampak tersenyum lebar tepat ketika ia baru saja menyelesaikan skripsi.
Sudah empat hari Regina menunggu semua berita yang mengenai adiknya. Namun, sampai hari ini tidak ada info apa pun dari pihak kepolisian dan media-media yang melaporkan secara langsung mengenai berita ini.
Hal tersebut membuat wanita itu mengembuskan napasnya berat. Ia menyikap rambutnya ke belakang dengan beberapa helai rambut turun membentuk garis lurus yang sangat rapi, lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Raf, kapan lo balik? Apa lo enggak tahu kalau gue marah? Ayo, Raf, pulang ke sini! Gue kangen sama lo,” lirih Regina tanpa sadar menitikkan air matanya lagi.
Di tengah kesedihannya itu, tiba-tiba ponsel milik Regina berdering pelan. Membuat wanita cantik itu mengalihkan pandangannya sesaat, lalu mengusap wajahnya kasar. Kemudian, wanita itu mendongakkan kepalanya ke atas.
Sebuah nama tak asing terpampang jelas di layar ponsel milik Regina. Sehingga wanita itu langsung meraih tisu sembari menggeser tombol hijau menyambungkan panggilan suara yang tadi sempat mengalihkan perhatiannya.
“Halo, Zian! Ada apa?” sapa Regina menahan nada sumbang akibat banyak menangis.
“Kak, lo ada di mana? Gue lagi di depan pintu,” tanya Lizian terdengar riang membuat Regina langsung menatap ke arah pintu rumahnya yang tertutup rapat.
“Hah? Lo ada di rumah gue?” seru Regina terkejut.
Sejenak suasana di seberang telepon tampak hening membuat Regina meringis pelan, lalu menunggu Lizian membalas perkataannya.
“Uhm ... Kak, lo lagi ada di dalam, ya? Gue sempat dengar teriakan lo tadi,” cicit Lizian meringis pelan.
Tanpa sadar Regina menggaruk kepalanya tidak gatal, lalu membalas, “Iya, gue lagi di kamar. Tunggu sebentar gue bakalan turun.”
Setelah itu, Regina langsung bergegas turun sembari mengenakan sweater putih dengan label perusahaan fashion ternama milik Eropa. Kemudian, wanita itu mengambil ikat rambutnya yang begitu simple untuk menyembunyikan beberapa helaian rambut kusut.
Tak lama kemudian, Regina membukakan pintu rumahnya untuk menyambut seorang lelaki muda yang seusia dengan Rafif. Meskipun jauh lebih muda Lizian, sebab lelaki itu masuk sekolah lebih cepat daripada teman sebayanya.
“Masuk, Zian!” sambut Regina menatap ramah pada Lizian yang membawa dua kresek putih di tangannya.
“Bagaimana perasaanmu, Kak? Jauh lebih atau merasa semakin terpikirkan akibat beberapa media menampilkan berita hilangnya Rafif,” tanya Lizian tersenyum lebar sembari melenggang masuk menatap rumah yang kini terasa lebih kosong akibat hilangnya satu penghuni rumah.
Regina melangkah dengan malas, lalu membanting tubuhnya pada sofa panjang yang sudah diduduki oleh Lizian di sampingnya. Lelaki itu terlihat membereskan makan malam membuat Regina mengernyit bingung.
“Entahlah, mungkin semakin terbiasa akibat Rafif jarang berada di sini,” jawab Regina mengangkat bahunya acuh tak acuh, lalu kembali berkata, “jangan bilang kamu baru saja memborong banyak makanan, Zian. Ini benar-benar penjarahan di setiap pedagang makanan malam.”
“Enggak apa-apa, Kak. Oh ya, bisakah kita berdua lebih santai? Jangan terlalu kaku,” ucap Lizian meringis pelan membuat Regina tanpa sadar tertawa pelan, lalu mengangguk beberapa kali.
“Tentu saja bisa, Zian!”
Kemudian, keduanya pun menghabiskan waktu makan malam dengan bersama-sama membuat Regina bisa melupakan adiknya sejenak. Walaupun diam-diam wanita itu tetap merindukan Rafif, sebab hanya Rafif yang selama ini menemani dirinya.
Di sela-sela makan malam, Lizian menoleh ke arah Regina yang terlihat mematung menatap makanannya tinggal setengah. Hal tersebut sedikit mengusik perasaan Lizian yang sama-sama kehilangan, tetapi ia tetap bersemangat. Tidak seperti wanita yang ada di sampingnya.
“Kak, lo ngelamun lagi?” celetuk Lizian mengembuskan napasnya kecewa membuat Regin meringis pelan.
“Gue mendadak ingat tentang Rafif. Entah apa yang dia lakukan di luar, tapi gue cukup khawatir. Karena dia jarang banget makan malam seperti ini kalau siangnya udah makan,” celoteh Regina mengakhiri kalimatnya dengan embusan napas kecewa.
“Yakin, Kak? Tapi, dia cukup nafsu makan di kantor,” balas Lizian terkejut.
Namun, sekali lagi senyuman yang menyiratkan penuh luka itu membuat Lizian merasa bersalah. Lelaki itu sebenarnya tidak ingin membuat Regina sedih, tetapi tetap saja sebagai seorang kakak, Regina pasti akan mengingat beberapa kenangan tentang adiknya.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi,” pungkas Regina tersenyum lebar. Menyembunyikan kesedihannya di sana demi menghibur orang lain.
Lizian mengangguk pelan menyetujui ucapan wanita yang ada di depannya. Bersedih memang boleh dan tidak ada yang melarangnya. Akan tetapi, kalau terlalu berlarut-larut akan menyiksa diri sendiri.
Maka dari itu, sejujurnya Lizian tidak pernah melarang Regina akan menangis atau tidak. Ia hanya ingin Regina terlihat kuat, sehingga bisa meyakinkan banyak orang bahwa adiknya akan baik-baik saja. Meskipun ia sendiri menahan jeritan yang berada di dalam hatinya.
“Menangislah jika memang itu bisa menenangkanmu, tapi sudahilah kesedihan tersebut dengan mantap masa dengan bersama senyuman lebar. Karena memulai hari yang baru membutuhkan semangat bari,” tutur Lizian masuk akal membuat Regina tersenyum pedih, hingga satu tetes air mata jatuh mengalir di pipinya.
Mendengar hal tersebut membuat Regina mengangguk mantap. “Semangat!”
“Semangat!” timpal Lizian tersenyum lebar sembari menatap wanita yang ada di hadapannya dengan lembut. Menyiratkan sesuatu tak kasat mata dan berharap wanita tersebut aan selalu berbahagia. Dengan atau pun tanpa dirinya.
Setelah saling menguatkan, akhirnya makan malam pun tandas dengan cepat membuat Lizian langsung menawarkan diri untuk mencuci piring. Sedangkan Regina tengah menonton serial drama China yang belakangan ini menyiapkan banyak energi positif yang diberikan. Bahkan tidak sedikit para penggemar melakukan banyak aksi merekomendasi demi tercapainya sebuah drama popular.
Ada atau tidaknya Rafif di rumah sama sekali tidak membuat kebiasaan Regina memudar. Wanita itu tetap saja menghabiskan sepanjang malam dengan menonton di kamarnya sendiri. Salah satu pelarian sempurna demi menghilangkan bayangan sang adik yang meminta pertolongan.
Terkadang hal tersebut menyiksa Regina yang sama sekali tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya sangat merindukan Rafif. Dan menginginkan lelaki itu berada di sisinya untuk menjaga, dan memberikan rasa aman ketika berada di luar.
Namun, sekarang Regina merasa dirinya harus berhati-hati dalam melakukan apa pun. Sebelum sesuatu tidak diinginkan muncul begitu saja. Membuat dirinya merasa dirugikan sekaligus kehilangan.