Berita hilangnya satu personil polisi untuk melakukan penangkapan resmi di Valder Logistic itu pun mulai tersebar di berbagai media televisi. Banyak sekali wartawan dan reporter memadati depan perusahaan membuat Regina yang baru saja datang terlihat tidak nyaman.
Namun, saat dirinya hendak menerobos masuk, tiba-tiba seorang satpam berlari menghampiri untuk mencegah Regina masuk ke dalam. Sebab, perusahaan sudah memberikan informasi bahwa bagian depan akan ditutup selama penyelidikan berlangsung.
Akhirnya, mau tak mau Regina pun mengendarai mobilnya menuju parkiran belakang yang benar-benar dipenuhi satpam dan beberapa karyawan baru saja datang. Membuat Regina mengunci mobilnya dan bersiap masuk ke dalam.
Namun, saat wanita itu melangkah dengan santai tiba-tiba terdengar suara percakapan berada rendah dari tiga karyawan wanita di depannya. Hal tersebut langsung menjadikan Regina sebagai penguping yang andal.
“Gue dengar, Pimpinan Vald lagi perjalanan bisnis.”
“Iya, benar. Padahal perusahaan dalam keadaan darurat, tapi masih saja sibuk bekerja. Gue jadi semakin yakin kalau perusahaan ini sebentar lagi akan bangkrut.”
“Hei, jangan bicara seperti itu! kalau misalnya benar-benar bangkrut, kita mencari pekerjaan di mana lagi?”
“Sekarang realistis aja dulu. Perusahaan didatangi polisi dengan surat penangkapan resmi, lalu salah satu personil polisi menghilang. Lo pikir Pimpinan Vald akan mempertahankan begitu aja?”
“Ya udah, sekarang lebih baik kita bekerja dulu. Masalah perusahaan nanti bisa dibicarakan lagi oleh para pimpinan eksekutif.”
Setelah itu, ketiga karyawan yang sempat menggosipkan perusahaan akan bangkrut pun berpisah di berbagai elevator menuju lantainya masing-masing. Sedangkan Regina yang memiliki lantai sama seperti pimpinan eksekutif pun melipat kedua tangannya di depan d**a sembari menunggu kedatangan benda berbahan logam yang bersiap untuk mengangguk beberapa orang.
Namun, secara diam-diam wanita itu mulai merasa cemas pada adiknya. Ia tidak bisa melakukan banyak hal, selain menyelidiki perusahaan tempat bekerjanya agar Rafif bisa secepatnya ditemukan.
Sementara itu, di sisi lain, Rafif tengah berdiri menatap seorang lelaki paruh baya di sebuah ruangan yang tidak jauh berbeda seperti pimpinan. Membuat Rafif berdeham pelan membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
“Mengapa saya ada di sini?” tanya Rafif memulai percakapan membuat seorang lelaki yang ada terduduk itu langsung mengalihkan perhatiannya.
“Rafif Osm Arkhanza. Seorang lelaki yang pada usia sepuluh tahun selamat dari p*********n pamannya, dan kabur bersama Keluarga Owl ke daerah perkotaan menata hidup baru. Tapi, dia masih bertekad untuk membalaskan denedam keluarganya,” ucap lelaki paruh baya berkacamata itu dengan membaca riwayat hidup Rafif.
Lain halnya dengan Rafif yang terlihat mengepalkan tangan menahan emosi, lalu berteriak kesal mendengar seseorang telah menyelidiknya, “Apa yang kamu lakukan!?”
Namun, sesaat kemudian terdengar suara ketukan pelan di pintu membuat Rafif membalikkan tubuhnya, tetapi tidak dengan kepalan tangannya yang masih terlihat penuh.
“Zyrach?” panggil Rafif tidak percaya.
“Hai, Raf! Iya gue Zyrach,” jawab gadis cantik berpakaian kaus polos berwarna hitam dengan celana jeans panjang membaluti kaki jenjangnya.
“Sebenarnya, ada apa ini?” tanya Rafif kembali menatap lelaki paruh baya di depannya.
“Bukankah kamu sudah menerima panggilan dari Grubby?” tebak lelaki paruh baya tersebut tepat sasaran.
Sejenak Rafif mengingat kembali pada beberapa kejadian yang sempat membingungkan dirinya. Ternyata ia memang menerima sebuah panggilan asing yang menyebutkan beberapa hal aneh.
Melihat keterdiaman Rafif itu pun membuat Zyrach tersenyum tipis, lalu berkata, “Selamat, Rafif! Kamu telah menjadi anggota Guardian yang dipimpin langsung oleh Xavier Abd Danantya. Seorang petinggi di BIN sekaligus pencetus keamanan manusia super seperti dirimu.”
Rafif mengernyitkan keningnya tidak mengerti. “Apa maksudmu?”
“Bukankah kamu merasa sedikit aneh dengan tubuh yang sekarang?” Zyrach tersenyum geli melihat lelaki tampan di hadapannya mengangguk pelan.
“Aku memang merasakan beberapa pergerakan secara tidak menentu seakan masuk ke dalam pori-pori tubuhku.”
“Itu semua berasal dari penelitian yang dijalankan oleh Theo. Dia mengembangkan sebuah LAB rahasia yang melahirkan banyak penelitian mengenai masalah ini.”
“Manusia super? Aku?”
“Apa kamu mengingatnya? Dulu sewaktu orang tuamu tidak berada di rumah, ada beberapa orang masuk ke dalam rumah berpakaian seperti dokter imunisasi?”
“Iya, memang ada beberapa dokter yang datang menyuntikkan sesuatu. Tapi, Kakakku sama sekali tidak mendapatkannya. Meskipun kami berada di rumah bersama-sama.”
“Itu karena penyuntikkan yang dilakukan secara berbeda. Ketika kamu mendapat cairan kimia untuk penelitian, lain halnya dengan Kak Regina yang mendapat vitamin untuk metabolism tubuh lebih cepat.”
“Bagaimana bisa seperti ini?’ tanya Rafif terduduk lemas menyadari di dalam tubuhnya mengalir sebuah cairan aneh dan sudah bersemayam selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Kalau menurutku, itu semua anugerah, Rafif. Tidak semua anak-anak bertahan dengan semua obat kimia untuk penelitian berada di dalam tubuhmu,” jawab Zyrach tersenyum tipis.
“Lantas, mengapa kamu berada di sini? Ikut menjadi penelitian juga?”
Zyrach menggeleng pelan. “Tidak. Aku memang berada di sini, Rafif. Bukankah aku sudah mengatakan padamu, kalau aku bekerja di bawah BIN.”
“Jadi ..., maksudmu ini semua sudah direncanakan?”
“Sepertinya memang bisa dikatakan seperti itu. Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Guardian sama seperti polisi yang menjaga perdamaian. Hanya saja tingkat kita jauh lebih tinggi dibandingkan polisi.”
Xavier yang melihat tatapan Rafif mulai melunak itu pun tersenyum tipis. Radar emosi lelaki itu perlahan menurun menyisakan rasa iba sekaligus kesedihan.
“Zyrach, cepat perkenalkan dia dengan anggota tim lainnya,” titah Xavier tegas.
“Baik, Pimpinan Abd!” balas Zyrach mengangguk singkat.
Kemudian, gadis itu pun menunjukkan jalan pada Rafif untuk segera keluar dari ruangan. Membuat Rafif terlihat bingung sekaligus tidak mengerti. Akan tetapi, ia tetap mengikuti langkah Zyrach dari belakang sembari memandangi sekeliling yang dipenuhi oleh logam dan kaca transparan.
Tak lupa di sana terdapat sebuah ruangan pelatihan fisik yang terdengar suara gaduh. Seperti beberapa orang tengah berlatih satu sama lain. Membuat perasaan Rafif semakin penasaran.
“Rafif, ruangan ini dipakai untuk pelatihan bela diri. Jadi, lo bisa masuk kapan aja dan sama siapa pun, termasuk gue,” ucap Zyrach secara perlahan membuka pintu logam tersebut dengan pelan.
Menampilkan tiga lelaki berkeringat cukup banyak sehingga menampakkan otot perut yang sudah terlatih cukup lama. Namun, salah satu dari mereka terlihat menatap Rafif datar.
“Wah, Bang Rafif! Kamu sudah bisa berjalan?” sapa Grubby tersenyum lebar dan berlari menghampiri lelaki yang berada di samping Zyrach.
“Iya, sudah lebih baik,” jawab Rafif sedikit kikuk.
Zyrach tersenyum tipis melihat kecanggungan tersebut, tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain, selain membiarkan mereka berkomunikasi dengan natural tanpa campur tangan siapa pun. Karena akan lebih baik jika ketiganya bisa berkomunikasi daripada dipaksakan.