“Sayang!!!” seru Vesenia berlari masuk menghampiri tunangannya yang terduduk di kursi rapat agung.
Sedangkan di samping Theo seperti biasa, terdapat seorang lelaki berwajah datang tengah menatap lurus ke depan menanti kedatangan seorang wanita cantik yang baru saja kembali dari menghabiskan uangnya.
Sebuah pelukan erat mendarat sempurna pada seorang lelaki tampan yang terlihat sedikit lebih dewasa. Membuat beberapa penjaga yang ada di sana langsung membalikkan tubuhnya membelakangi sepasang kekasih tiada hari tanpa bertingkah romantis.
Vesenia mengalungkan kedua tangannya melingkari leher Theo yang begitu tegap. Menatap wajah tampan nan menyeramkan itu dengan senyuman manisnya.
“Sayang, apa kamu tahu aku bertemu seseorang kecelakaan tadi,” ucap Vesenia dengan ekspresi sedikit tidak percaya sembari memilin bibirnya tipis.
“Di mana?” tanya Theo mengusap rambut halus nan terawa milik kekasihnya lembut sembari menahan tubuh wanita itu dengan melingkari tangan sebelah kirinya agar tidak terjatuh.
“Lampu merah dekat flyover. Di sana banyak sekali polisi yang menjaganya, tetapi aku tidak bisa melihat mobil yang kecelakaan,” jawab Vesenia meletakkan kepalanya di pundak sang kekasih, lalu mengembuskan napasnya beberapa kali.
“Sudah tidak apa-apa. Aku belum menerima laporan apa pun,” pungkas Theo mengkode pada kaki-tangannya untuk segera melakukan rencana.
Ethan yang mengerti hal tersebut langsung mengangguk singkat, lalu membalikkan tubuhnya lagi. Lelaki berwajah datar seperti kayu itu pun berdeham pelan, dan berkata, “Nona Ovt, kita harus bergegas mengemas semua barangmu untuk segera melakukan penerbangan ke Skotlandia.”
Mendengar hal tersebut, Vesenia menegakkan tubuhnya dengan cepat. Kemudian, wanita itu memperhatikan lelaki yang selama ini ingin sekali dirinya singkirkan. Namun, senatural mungkin Vesenia tersenyum menatap Ethan.
“Mengapa kita pergi lagi? Bukankah kemarin sudah berjanji untuk menetap selama beberapa waktu di sini?” rengek Vesenia layaknya anak balita membuat Theo tertawa gemas.
“Vesenia, ayo patuh! Ini semua juga untuk kebaikanmu, karena ada pekerja pabrik yang melaporkan paketan kita bermasalah. Jadi, untuk sementara waktu kita harus menuruti semua petunjuk dari Ethan.”
Akhirnya, mau tak mau wanita berpakaian gaun dengan belahan cukup rendah itu pun bangkit dari pangkuan kekasihnya. Ia menatap Ethan datar, lalu melenggang begitu saja dengan suara high heels menggema di setiap lantai mansion.
Sepeninggalnya Vesenia yang mulai mengemaskan barang-barang. Kini tinggallah Ethan dan beberapa pengawal lainnya tengah berdiri menghadap ke arah Theo, menantikan pembicaraan pembuka yang akan dilakukan oleh lelaki itu.
“Bagaimana keadaan di luar?” tanya Theo menatap satu per satu pada pengawalnya yang menunduk hormat.
Ethan mengembuskan napasnya panjang, lalu menyerahkan ponselnya yang menampilkan sebuah rekaman beberapa pengikut kecelakaan maut. “Polisi sedang mengurus kasus ini, Bos. Tapi, ada yang aneh.”
“Apa maksudmu?”
“Pengikut LUCA yang mengendarai ini berisikan tiga orang dan satu personil polisi, tapi ketika melakukan penyelidikan lebih lanjut oleh tim forensik. Ternyata yang terdata hanya dua orang. Dan, personil lainnya belum diketahui, atau memang menghilang secara sengaja,” papar Ethan sekenanya.
Theo mengembuskan napasnya panjang. Lelaki itu kembali memijat kepalanya, lalu mengkode pada Ethan untuk segera melakukan sesuai dengan rencana. Sebab, dirinya hendak menuju ke atas menghampiri kekasihnya berada di dalam kamar.
Kepergian Theo pun membuat Ethan langsung mengambil alih membuat lelaki itu mendudukkan diri di kursi kebesaran sembari menatap banyak pengawal serta pengikut LUCA yang masih berada di kediaman sekaligus markas mansion.
“Kalian mendengar semua perintah Pimpinan Vald, bukan?” ucap Ethan membuka percakapan, lalu kembali berkata, “kalau sudah mendengarnya, jelas aku tidak perlu memberi tahu lagi. Karena kalian pasti sudah paham apa yang seharusnya dilakukan.”
“Kami tahu, Bos Ethan!” jawab semua pengawal dan pengikut LUCA secara bersamaan.
Ethan mengangguk beberapa kali, lalu bangkit dari tempat duduknya. Nyatanya lelaki itu memiliki tujuan tersendiri berada di sini. Membuat ia langsung mengendarai mobilnya meninggalkan mansion seorang diri.
Sementara itu, di sisi lain Rafif tengah bergelut dengan dirinya sendiri. Ia menatap sebuah tempat serba putih yang secaa perlahan menelan tubuhnya dengan begitu kuat. Bahkan ia rasanya seperti tidak bisa melihat apa pun, selain meraba-raba beberapa bagian tubuh yang terasa benar-benar utuh.
Namun, anehnya ketika ia menatap ke arah lain. Sama sekali tidak merasakan hal tersebut membuat Rafif mendadak panik. Akan tetapi, samar-samar ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Membuat Rafif langsung mengikuti arah suara tersebut sampai sebuah sinar begitu terang menarik dirinya dengan begitu kuat.
“Kakak!” teriak Rafif spontan membuka matanya.
Pada saat yang bersamaan pula, lelaki itu menyadari bahwa dirinya sedang berada di suatu tempat yang tidak asing. Suara bunyi-bunyian khas rumah sakit menyambut penglihatan Rafif, sampai lelaki itu mengalihkan pandangannya menatap ke arah dua dokter yang terlihat mengarahkan sesuatu di layar komputer.
“Wah, akhirnya kamu bangun juga!” pekik seorang lelaki tersenyum lebar yang terlihat riang membuat Rafif langsung mengernyitkan keningnya bingung.
“Kamu ...?”
“Aku Grubby! Apa kamu mengingatnya?”
Sejenak Rafif menatap lelaki tampan sekaligus cantik yang tersenyum menggemaskan. Namun, sayang sekali di hadapannya malah terlihat sangat menggelikan membuat lelaki itu langsung menjauhkan sedikit tubuhnya. Menghindari lelaki asing yang berusaha berteman dengan dirinya.
Dua dokter yang awalnya terfokus itu pun mengalihkan perhatian. Ternyata mereka berdua tengah menggunakan kacamata transparan. Sehingga wajar saja tidak mendengar panggilan Rafif sekaligus teriakan lelaki itu ketika tersadar.
Seorang dokter wanita itu melangkah mendekat sembari membawa catatan medis, dan mulai mencatat sesuatu dari layar komputer di hadapannya. Kemudian, menatap keadaan Rafif secara fisik yang tidak menunjukkan perubahan apa pun.
“Rafif Osm Arkanzha, apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya dokter wanita itu menatap Rafif penuh dan menyembunyikan catatannya di belakang tubuh.
Bergerak secata perlahan, Rafif tidak merasakan hal apa pun. Lelaki itu mengernyit bingung, lalu menggeleng pelan.
“Aku tidak merasakan apa pun,” jawab Rafif.
“Bagaimana dengan ini?” Dokter wanita itu memukul pelan lengan Rafif menggunakan pulpen yang dirinya pegang.
Lelaki tampan yang terbujur lemah di bawah alat CT scan itu pun menggeleng pelan. Ia memang tidak merasakan hal apa pun. Padahal seingatnya tadi mengalami kecelakaan yang cukup parah, dan lebih parahnya lagi ia terkena peluru timah yang sama sekali tidak membekas.
“Dokter, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tubuhku tidak merasakan hal apa pun?” tanya Rafif penasaran.
“Tenang saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku hanya membangkitkan antibodi bawaanmu saja. Selebihnya hanya tubuhmu sendiri yang akan melakukan tugas-tugas tersebut,” jawab dokter wanita itu tersenyum tipis, lalu melenggang pergi begitu saja sembari membawa catatan yang langsung diperlihatkan pada rekannya.
Meninggalkan Rafif yang dilanda kebingungan sekaligus tidak percaya. Karena baru kali ini dirinya datang ke tempat mirip rumah sakit, tetapi jauh lebih canggih dengan beberapa pelaratan tidak bisa ditemukan di rumah sakit kebanyakan.