Regina benar-benar datang seperti orang gi*la ke kantor polisi. Bahkan wajah wanita itu sudah dibanjiri oleh air mata membuat sebagian wajahnya memerah dengan hidung sembab akibat terlalu banyak menangis.
Ketika turun dari taksi yang membawanya ke kantor polisi, Regina langsung disambut oleh wajah cemas Lizian. Lelaki itu terlihat berdiri di depan pintu lobi kantor polisi dengan seorang gadis berkuncir kuda di sampingnya.
“Zian, apa yang terjadi dengan Rafif?” tanya Regina dengan wajah panik yang tidak dapat disembunyikan.
“Untuk sementara waktu belum bisa diputuskan, Kak. Karena Rafif terpisah dari rombongan. Ada kemungkinan besar dia dibawa oleh Pimpinan Vald,” jawab Lizian berusaha menenangkan wanita itu dengan memegang kedua pundaknya dengan erat.
Namun, ketika Regina mendengar adiknya benar-benar terlibat masalah dengan bosnya sendiri itu pun langsung merosot tanpa tenaga. Wanita cantik yang kini sudah tidak lagi memiliki harapan adiknya akan kembali pun hanya menangis dengan tersedu-sedu.
Membuat gadis berkuncir kuda yang ada di samping Lizian menatap penuh iba, lalu berjongkok sembari merangkul bahu Regina dengan erat. Berusaha menguatkan agar wanita itu tidak terlalu larut.
“Kak, tenangkan dirimu jangan sampai berpikiran yang tidak-tidak. Karena kepolisian akan menghukum berat siapa pun yang telah menyakiti anggota polisi. Tidak menutup kemungkinan orang itu sangat ditakuti,” ucap Hafa meringis pelan.
Sejujurnya, Hafa berteman dengan baik bersama Lizian dan Rafif. Hanya saja karena keduanya beda departemen membuat mereka jarang sekali bertemu. Namun, mendapat berita seperti ini jelas membuat batinnya sangat tidak percaya. Siapa pun tahu kalau Rafif bukanlah polisi sembarangan.
“Gue harus temui Pimpinan Vald,” gumam Regina menghapus air matanya kasar, lalu berusaha bangkit membuat Hafa yang mendengarnya langsung melebarkan mata tidak percaya.
“Jangan, Kak. Percuma Kakak mencarinya, karena sekarang Pimpinan Vald pasti sedang mencari persembunyian yang aman,” sanggah Lizian menahan tubuh wanita yang hendak memberontak dari rengkuhan Hafa.
“Lepasin gue! Gue harus ngelakuin sesuatu!” teriak Regina berusaha melepaskan tubuhnya membuat mau tidak mau Hafa langsung memeluk wanita itu dan berusaha memenangkannya.
Semakin lama pergerakan memberontak itu pun mereda. Menyisakan isak tangis yang menyedihkan membuat siapa pun mendengarnya merasa sedih. Apalagi Hafa memiliki hati begitu lembut. Sehingga gadis itu merasa ikut bersedih.
“Apa yang harus gue lakukan biar Rafif balik lagi, Zian?” tanya Regina menatap lelaki yang ada di hadapannya putus asa.
Lizian menggeleng pelan. Ia tidak tahu situasi yang sebenarnya, tetapi berita hilangnya Rafif ketika melakukan penangkapan resmi terhadap Pimpinan Vald sudah tersebar luas. Membuat beberapa petinggi merasa tidak percaya.
“Kak, aku yakin Rafif akan baik-baik saja di luar sana,” bisik Hafa tepat di telinga Regina membuat perasaan wanita itu kembali tenang dan mengangguk beberapa kali.
Akhirnya, Regina yang awalnya hampir melakukan hal ceroboh itu pun diungsikan ke dalam kantor polisi. Sebab, tidak menutup kemungkinan wanita itu akan melakukan hal apa pun demi menyelematkan adiknya. Sehingga Lizian menyarankan agar menempatkannya di dalam ruangan kerja pribadi milik Rafif.
Kini seorang wanita cantik berpakaian kantor mahal itu terduduk di sofa sembari memandangi interior khas adiknya yang berada di dalam ruangan. Memang tidak terlalu ramai, karena Rafif sendiri menyukai hal-hal simple dan sederhana.
Perlahan Regina bangkit dari tempat duduknya menuju meja kerja Rafif yang terlihat rapi. Ia menyentuh ujung meja tersebut sembari membayangkan berhari-hari adiknya menghabiskan waktu di ruangan ini dengan menangani berbagai kasus.
Namun, kali ini adiknya meminta bantuan. Akan tetapi, siapa yang akan menolongnya? Mereka hanya bisa berkata menunggu tanpa mengerti perasaannya sebagai seorang kakak. Membuat Regina kembali menangis dalam diam, lalu meletakkan kepalanya di atas meja memandangi pigura foto kenaikan pangkat adiknya yang tersenyum lebar.
Wajah tampan yang duduk terlihat ketakutan itu tumbuh dengan baik. Regina masih mengingat bagaimana wajah adiknya yang pernah menghancurkan sesuatu akibat kenakalan temannya sendiri. Namun, Rafif kecil begitu bertanggung jawab dengan menyalahkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka pelan menampilkan seorang lelaki membawa plastik kresek berwarna putih membuat Regina langsung menebaknya bahwa berisikan makan malam. Karena hari mulai gelap terlihat dari jendela yang berada di belakangnya.
Lizian mengembuskan napasnya berat melihat Regina ternyata duduk di meja kerja Rafif tanpa menyalakan lampu ruangan sama sekali. Membuat keadaan begitu gelap, tetapi ia langsung menyadari bahwa Regina tengah menangis sembari menatap foto di mana dirinya dan Rafif naik pangkat bersama.
“Di dalam foto itu Rafif terlihat sangat bahagia, ya, Kak?” celetuk Lizian meletakkan kresek tersebut dan melangkah untuk mengambil pigura foto yang berlatar belakang kelulusan dari Universitas Kepolisian.
“Apakah ini foto saat gue perjalanan ke Jepang?” tanya Regina menerima benda penuh kenangan itu dengan tangan bergetar.
“Iya, benar. Waktu itu, Rafif marah seharian akibat lo tiba-tiba ada perjalanan bisnis. Tapi, ketika kelulusan tiba, dia malah terlihat bahagia dan melupakan kekesalannya sama lo,” jawab Lizian tersenyum manis sekaligus sedih menatap foto sahabatnya yang terlihat begitu palsu demi menutupi ekspresi asli kecewanya.
“Jangan mencoba menghibur gue, Zian. Karena gue tahu kalau di dalam foto ini Rafif berusaha baik-baik saja,” sungut Regina kesal, tetapi wanita itu tetap memeganginya dengan lembut.
Sontak hal tersebut membuat Lizian tertawa pelan. Nyatanya Regina terlihat begitu mirip dengan Rafif, walaupun tidak menutup kemungkinan mereka adalah kakak beradik yang terlihat sangat akur.
“Zian, apa lo yakin Rafif akan baik-baik aja? Kenapa gue ngerasa ada sesuatu yang telah terjadi sama dia? Perasaan gue benar-benar enggak nyaman,” tanya Regina meletakkan pigura foto tersebut di atas meja, lalu menatap lelaki muda yang seusia dengan adiknya.
Lizian menunduk singkat, lalu menggeleng pelan sembari menjawab, “Gue yakin kalau Rafif akan baik-baik aja, Kak. Karena gue percaya dengan janji dia yang akan mementingkan keselamatannya.”
Regina mengembuskan napasnya berat menatap kosong sembari memikirkan Rafif yang sudah pasti meminta bantuan di luar sana. Namun, sayang sekali ia tidak bisa melakukan hal apa pun, selain terus berharap bahwa adiknya akan baik-baik saja. Meskipun tidak dapat dipungkiri ia menginginkan Rafif kembali datang secara utuh tanpa ada luka sama sekali.
Tentu saja membayangkan betapa berbahayanya profesi sang adik membuat Regina semakin tidak tega. Akan tetapi, apa boleh buat, dirinya tidak bisa melarang semua kemauan lelaki itu. Karena kalau bukan dirinya yang memberikan dukungan, siapa lagi? Hal itulah yang menjadikan Regina semakin bijak dalam melarang semua jalan masa depan Rafif, termasuk profesi membahayakan itu.