Selama di perjalanan, mobil hitam yang dikemudikan oleh penjaga Valder Logistic itu pun mulai memasuki wilayah perkotaan padat. Mereka melajukan mobilnya di bawah kecepatan rata-rata.
Namun, sayang sekali di perjalanan secara tidak terduga ada sebuah truk yang melintas dengan kehilangan remnya. Membuat truk tersebut meluncur begitu saja sehingga kehilangan kemudi.
Sampai tidak ada yang menyadari bahwa truk tersebut menabrak bagain samping mobil ditumpangi oleh Rafif. Sehingga langsung berguling begitu saja dan terhempas beberapa meter.
Sontak kecelakaan itu pun menarik banyak perhatian orang, termasuk salah satu mobil dengan kaca hitam menghentikan lajunya tidak jauh dari lokasi kecelakaan.
Di sisi lain, Regina baru saja mengambil air putih pun kembali ke ruang rawat. Akan tetapi, wanita itu langsung melebarkan matanya tidak percaya ketika mengetahui bahwa Zyrach hilang dari tempat tidurnya sendiri.
Sontak hal tersebut membuat wanita itu langsung meletakkan gelasnya begitu saja, lalu berlari keluar menghampiri dua penjaga yang masih berada di depan pintu menatap lurus ke depan.
“Di mana, Zyrach!?” tanya Regina panik sekaligus cemas.
“Kami tidak tahu, Nona. Bukankah tadi berada di dalam?” jawab lelaki tersebut dengan pandangan mengernyit bingung.
Akan tetapi, Regina menggeleng cepat membuat para penjaga langsung melenggang ke dalam, lalu melebarkan matanya tidak percaya dan menoleh kembali ke arah wanita tadi. Mereka bertiga sama-sama dibuat bingung sekaligus tidak percaya bahwa Zyrach hilang bagaikan di telan bumi.
“Cepat kalian periksa kamera pengawas!!!” teriak Regina panik.
Tentu saja ia tidak ingin disalahkan atas hilangnya Zyrach di bawah pengawasan dirinya sendiri. Karena itu akan menjadi sangat merepotkan, apalagi Rafif sedang melakukan tugas. Sehingga ia tidak bisa meminta bantuan lelaki itu.
Teriakan panik sekaligus kesal itu pun membuat dua prajurit penjaga tadi langsung berlari keluar untuk mempertanyakan ruang monitor kamera pengawas yang merekam segala aktivitas manusia.
Sedangkan Regina sibuk mencari gadis itu di sepanjang lorong rumah sakit dan sesekali bertanya pada dokter serta suster yang kebetulan berpapasan dengan dirinya. Mamun, sayang sekali tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya.
Sampai tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampiri Regina tengah sibuk memijat kepalanya di sudut ruangan. Wanita paruh baya itu menepuk pelan punggung Regina sampai pemiliknya terkejut, lalu melebarkan mata tidak percaya.
“Ma!”
Panggilan spontan yang meluncur bebas itu mengejutkan beberapa pasien membuat Regina meringis pelan sembari meminta maaf tanpa suara, lalu mengajak wanita paruh baya tadi untuk mengikutinya masuk ke dalam lorong ruang rawat inap.
“Mama sedang apa ke sini? Bukankah Ina sudah bilang kalau tidak boleh ke sini,” ucap Regina menggeleng tidak percaya pada sang ibu yang tersenyum lebar, lalu menarik tubuhnya duduk di jejeran bangku lorong.
“Mama merindukan kalian berdua,” balas Moneta tersenyum hangat sembari menyelipkan beberapa heliai anak rambut anaknya ke belakang telinga. Membuat Regina terlihat benar-benar cantik.
“Tenang saja, Ma. Ina, dan Afif tidak ada yang perlu Mama khawatirkan. Karena kita berdua sama-sama sibuk bekerja, tapi setiap malam Afif selalu kembali, Ma,” ucap Regina mengangguk meyakinkan.
“Iya, Mama tahu. Tapi, Mama penasaran sedang apa kamu ke sini?” tanya Moneta mengernyit bingung.
Regina yang mendapatkan pertanyaan itu pun sama bingungnya. “Mama sendiri ngapain ke sini?”
“Mama datang ke sini karena Sanatorium menghubungi rumah sakit agar Mama datang untuk jadwal check up,” jawab Moneta mengembuskan napasnya panjang.
“Kalau begitu, Mama harus bergegas. Karena Ina di sini hanya menemani teman Afif yang kecelakaan, tapi dia sekarang lagi menghilang. Jadi, lebih baik Mama menyelesaikan urusan terlebih dahulu dam Ina ingin kembali melanjutkan pencarian terhadap temannya Afif,” usul Regina berusaha membuat sang ibu pergi dari sini, karena ia benar-benar tidak memiliki waktu untuk berbincang.
“Ya sudah, Mama naik ke atas dulu. Nanti kalau sudah selesai, Mama akan menghubungi kamu,” putus Moneta mengembuskan napasnya berat.
Hal tersebut membuat Regina mengangguk cepat, lalu membantu sang ibu bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, ia menemani Moneta untuk melakukan penjadwalan dengan dokter yang kebetulan sekali sedang kosong. Membuat wanita paruh baya itu langsung diajak ke atas untuk langsung melakukan kegiatannya.
Sedangkan Regina tengah menunggu kedatangan dua prajurit tadi. Namun, wajah mereka menyiratkan kegagalan membuat wanita cantik itu langsung hilang harapan.
Sebenarnya, ia tidak percaya bahwa Zyrach akan menghilang begitu saja. Apalagi di dalam rumah sakit yang pengawasannya tiga kali lebih ketat. Bahkan gadis itu mengenakan pakaian sedikit mencolok. Sehingga rasanya tidak mudah melarikan diri begitu saja.
Di sela kebingungannya itu, tiba-tiba ponsel Regina berdering pelan. Sebuah nomor asing terpampang di ponsel. Membuat wanita cantik yang hampir tidak pernah membagikan nomor ponselnya itu pun mengernyit bingung.
Tak urung ia mengangkatnya dengan tetap berada di tempat, sehingga dua prajurit di sampingnya bisa mendengar dengan jelas apa yang akan dikatakan seseorang melalui sambungan telepon.
“Halo, ini siapa, ya?” tanya Regina dengan sopan sekaligus halus.
“Halo, Kak! Ini Lizian, kenal, ‘kan?” Embusan napas berat diselingi dengan suara lelaki yang tidak asing itu pun membuat Regina mengangguk beberapa kali.
“Oh, ada apa, Zian? Tumben sekali kamu menghubungiku?” tanya Regina. Kali ini terdengar ringan membuat suaranya terdengar lebih renyah daripada tadi.
“Kak, aku ingin memberi tahu sesuatu padamu,” jawab Lizian terdengar ragu.
“Apa ini tentang Rafif?” tebak Regina tepat sasaran membuat suara di seberang hening sesaat.
“Maafkan aku tidak bisa menjaga Rafif, Kak,” sesal Lizian tanpa sadar membuat cengkraman Regina mengerat pada ponselnya.
Wanita cantik itu menatap kosong seiring dengan pelupuk matanya menggenang air yang siap tumpah. Ini yang dirinya takutnya terhadap pekerjaan Rafif. Suatu saat akan terjadi seperti ini membuat dirinya dilanda banyak penyesalan.
“Kak!” panggil Lizian lagi.
“Gue ke kantor polisi sekarang!” pungkas Regina memutuskan sambungan ponselnya, lalu menoleh pada dua prajurit yang terlihat meminta keputusan dari dirinnya.
“Nona, apa yang harus kita lakukan?” tanya salah satu prajurit itu.
Regina menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Aku minta maaf pada kalian untuk tetap mencari Zyrach. Karena aku harus segera ke kantor polisi.”
Baru saja Regina hendak pergi, tangan wanita itu pun kembali dicekal membuat sang pemiliknya membalikkan tubuh tidak percaya.
“Nona, ini sangat penting tidak bisa pergi begitu saja!” sinis prajurit berseragam loreng yang sejak tadi mencari tanpa hasil.
“Lantas, apa yang harus aku lakukan ketika Adikku sendiri terlibat masalah dalam tugasnya!!!” teriak Regina penuh emosi membuat lorong yang awalnya sepi menjadi begitu berisik. Bahkan tidak dapat dipungkiri ada beberapa orang terkejut mendengar teriakan tersebut.
“Aku beri tahu kalian berdua! Ini bukan kesalahanku saja, jadi jangan melimpahkan seolah-olah kesalahanku. Kalian juga ikut andil. Sekarang aku benar-benar tidak bisa mencari Zyrach. Aku harus meminta penjelasan mengenai keberadaan Adikku yang sekarang sedang melakukan penyergapan organisasi gelap LUCA. Jadi, kalian jangan bertindah seolah aku harus tetap berada di sini, sedangkan Adikku di luar sana meminta bantuan!” sambung Regina mendesis sinis, lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan dua prajurit yang saling berpandangan terkejut.