Mobil jeep yang digunakan Rafif untuk melakukan penyelidikan milik kantor pun terhenti tepat di depan lobi perusahaan Valder Logistic membuat beberapa penjaga menyadari kehadiran polisi di tempat pun langsung melangkah mendekat.
“Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka dengan pandangan terkejut.
Ketua Franky menunjukkan lencana polisi yang selama ini sudah menjadi tanda pengenalnya ketika bertugas membuat pengawal tadi langsung mengernyit bingung. Lalu, menukik alis tidak terima.
“Maaf merepotkan kalian untuk segera mengumpulkan semua orang. Karena kita akan melakukan penyelidikan atas kasus laporan ketidaknyamanan para pekerja,” ucap Rafif menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tanpa mengindahkan perkataan Rafif lagi, salah satu lelaki berpakaian jas formal itu pun menelepon seseorang. Karena terlihat jelas dari ekspresinya yang panik sekaligus gugup ketika mengetahui kedatangan polisi lengkap dengan surat perintah resminya.
“Halo, Bos! Di depan ada seorang kapten polisi yang membawa pasukannya untuk menggeledah perusahaan atas tuntutan dari salah satu pekerja kemarin,” penjaga tersebut melirik sesaat ke arah Rafif yang tersenyum miring.
Sementara itu, di sisi lain, Ethan dan Theo berada di ruangan yang sempat mencurigakan karena tidak ada pekerjanya di dalam. Namun, saat melihat kamera pengawas, tidak ada gerakan mencurigakan apa pun. Sehingga keduanya tidak berpikiran panjang, selain menyaksikan mobil yang ditumpangi masih berada di perusahaan. Menandakan wanita itu tidak pergi terlalu jauh.
Setelah mendengarkan hal tersebut, Theo mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Kemudian, tatapannya mengarah pada Ethan yang masih berdiri tegak menatap lurus ke depan sembari menumpukan kedua tangannya di depan.
“Apa rencana yang akan kamu jalankan?” tanya Theo melemparkan secara asal ponselnya di atas meja.
“Lebih baik kita menghindari para polisi itu dulu, Bos. Karena tidak ada yang tahu kalau kamu berada di sini. Apalagi kita sedang mencari berkas yang hilang itu, jadi aku pikir lebih baik kita menunda pada sesuatu yang kecil demi menarik suatu keuntungan besar,” jawab Ethan mengangguk singkat.
“Bagaimana dengan jalan keluarnya? Bukankah polisi sia*lan itu sudah memblokir akses keluar?” sungut Theo menggeram kesal.
“Tenang saja, Bos. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi,” balas Ethan tersenyum penuh makna, lalu kembali berkata, “jadi aku sudah menyiapkan satu jalan rahasia menuju keluar dari perusahaan ini. Tapi, kita tidak bisa membawa banyak pengikut, karena akses terlalu sempit. Hanya muat tiga orang saja.”
“Kalau begitu, kamu akan ikut denganku, Ethan. Jadi, bawa satu pengikut kita yang paling setia saja untuk dijadikan sebagai supir. Karena aku ingin terbang langsung menuju Skotlandia, menenangkan para kolega yang mulai merasa cemas ketika mengetahui kasus ini sampai di luar negeri,” putus Theo mengembuskan napasnya berat.
Setelah itu, Theo, Ethan, dan satu pengawal setia keluar dari ruangan yang selama ini menjadi tempat bekerja Regina. Ketiganya hendak melarikan diri dari jeratan kasus dan polisi yang selama ini bagaikan hantu bagi perusahaannya.
Namun, sayang sekali pergerakan itu nyatanya terlihat oleh Rafif membuat lelaki tanpa mengenakan rompi di tubuhnya pun nekat menerobos membuat salah satu pengawal langsung mengeluarkan pistol yang sejak tadi tidak terlihat.
Sontak keadaan menjadi sedikit ricuh dengan baku tembak mulai terjadi akibat salah satu pengawal Valder Logistic hendak menembak tepat pada bagian tubuh vital Rafif. Membuat Veera yang melihatnya langsung menggagalkan rencana tersebut.
Akan tetapi, baku tembak yang berada di belakang sama sekali tidak menjadikan Rafif merasa gentar untuk tetap mengejar tiga lelaki perlahan menghilang dari radar penglihatannya.
Tentu saja Rafif terlalu gegabah dan mengedepannya emosinya sampai ia tidak sadar sudah pergi terlalu jauh dari tim kepolisian. Membuat lelaki itu benar-benar berada di dalam perusahaan seorang diri tanpa ada siapa pun.
Meski sepi, Rafif tetap menatap waspada pada sekitarnya. Karena tempat yang sepi, nyatanya kejahatan yang paling besar. Sehingga lelaki itu secara perlahan melangkah ke depan sembari sesekali menoleh cepat ke arah lain, memastikan tidak ada orang lain, selain dirinya sendiri.
Tanpa lelaki itu sadari nyatanya ada sebuah moncong pistol keluar begitu saja di balik pagar pembatas dekat pilar lantai dua. Membuat Rafif tidak bisa mendengar pergerakan tersebut, karena terlalu bising suara baku tembak di depan.
Sampai tiba-tiba ada sebuah suara pecahan kaca yang mengejutkan Rafif. Dengan spontan lelaki itu memegangi telinganya sendiri, tetapi naas tidak ada yang mengetahui bahwa lelaki itu terhempas begitu saja sembari memegangi bahunya bercucuran darah.
Dalam sedetik, peluru timah panas itu merenggut kesadaran Rafif tepat ketika beberapa polisi mulai berlarian ke dalam ketika mendengar suara tembakan cukup keras. Membuat sang pelaku yang menembak Rafif itu pun buru-buru turun ke bawah dan membawa lelaki tersebut menuju mobil.
Dalam keadaan yang cukup mengenaskan itu, Rafif dibawa oleh beberapa pengawal Valder Logistic untuk menyampaikan perintah tertutup dari Theo. Sebab, lelaki berusia cukup tua sekaligus dewasa itu masih menginginkan kekuatan yang ada di dalam tubuh Rafif untuk kepentingan dirinya sendiri.
Mobil yang membawa tubuh lemah Rafif itu pun mulai keluar dari garasi rahasia membuat tidak ada satu orang mengetahui keberadaannya, selain para pekerja. Bahkan orang-orang di kantor pun sama sekali tidak mengetahui.
Selama di perjalanan, seorang lelaki yang terlihat begitu cekatan pun langsung mengobati tubuh Rafif. Untung saja tembakan tersebut tidak terlalu masuk ke dalam sehingga bisa dikeluarkan begitu saja tanpa memerlukan operasi di rumah sakit.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya seorang lelaki yang sibuk mengemudikan mobil sembari sesekali melirik ke arah belakang. Karena mereka sedang dalam pelarian sekaligus penculikan seorang polisi yang bisa digugat secara hukum.
“Sudah lebih baik. Harus aku akui bahwa pilihan Bos Vald benar-benar hebat. Aku jadi penasaran apakah dia manusia biasa, karena denyut nadinya masih sangat normal. Seakan tidak pernah terjadi sesuatu,” jawab lelaki yang kini membersihkan tangannya dari darah milik Rafif, lalu kembali menatap lurus ke depan.
“Kalau baik-baik saja itu bagus. Aku juga penasaran mengapa Bos Vald begitu menginginkan lelaki ini. Padahal dia baru saja menarik seorang perempuan dan ketua timnya,” ungkap lelaki tersebut mengembuskan napasnya lega.
“Aku pikir, sesuatu istimewa ini yang menjadi daya tarik bagi Bos Vald sehingga terlalu menginginkan Rafif apa pun dilakukannya. Mungkin ini akan sangat setimpal, sehingga Bos Vald tidak akan sulit mengeluarkan banyak uang demi seorang lelaki yang bisa membawa keberuntungan bagi Valder Logistic,” sahut lelaki lainnya sembari menatap Rafif dengan datar.
“Apa pun itu aku tidak peduli. Lagi pula kita bekerja hanya untuk menghasilkan uang,” sinis lelaki pengemudi tadi dengan ringan membuat lelaki lainnya langsung mengangguk setuju.