Dengan semangat yang tinggi, Rafif baru saja mendapatkan surat perintah resmi untuk melakukan penyelidikan itu pun berlari masuk menghampiri tim penyelidikannya. Mereka tampak mengernyit bingung sekaligus tidak percaya bahwa Rafif benar-benar mendapatkan bukti resmi.
“Rafif, kamu benar-benar mendapatkan surat resmi?” tanya Franky menatap tidak percaya, lalu mengambil kertas berisikan cap resmi milik kejaksaan.
“Tentu saja aku sudah menemukan bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan organisasi gelap LUCA,” jawab Rafif tersenyum miring sembari tatapannya mengarah pada Veera yang masih terlihat asyik dengan kegiatannya sendiri.
“Wah, itu bagus sekali! Kita bisa melancarkan sesuai rencana,” sahut seseorang yang lain dari tim penyelidik.
“Ayo, kita harus bergegas melakukan sesuai rencana kemarin!” ajak Rafif melenggang cepat ke arah papan tulis putih yang sudah ditempeli dengan foto mereka masing-masing, termasuk dirinya sendiri.
Franky mengangguk mantap, lalu menarik kursi kosong yang berada di ruangan. Lelaki itu memperhatikan semua yang dilakukan oleh Rafif, meskipun jauh dari dalam lubuk hatinya merasa cemas.
Sebab, semu orang jelas tahu bagaimana kepintaran Rafif ketika melakukan pekerjaannya. Lelaki itu tidak akan melewatkan petunjuk sekecil apa pun. Bahkan jalan lelaki itu terbuka lebar dalam memperhatikan setiap detail yang ditinggalkan oleh LUCA.
“Aku sudah membagikan empat tim yang masing-masing berpasangan dua orang. Ketua Franky dan Kaysan berada di tim 1, aku dan Veera menjadi tim 2, lalu Aaron dan Sakha tim 3. Sedangkan Cleine dan Nosowitz bertugas mengarahkan pasukan polisi SWAT untuk melakukan pengamanan di tempat agar tidak ada yang bisa melarikan diri atau kabur secara tidak sengaja,” papar Rafif memberikan sebuah jaringan yang membentuk membentuk segitiga saling berkaitan, termasuk satu tim di bawahnya memimpin pasukan penyerang.
Mendengar perkataan Rafif yang masuk akal, mereka pun mengangguk beberapa kali. Menyetujui semua pembagian tim dari seorang lelaki yang baru saja pindah dari departemen lain, tetapi, mereka sama sekali tidak melakukan perbedaaan. Karena mereka tahu bahwa Rafif sangat berbakat dalam hal ini.
Walaupun pada hari pertama, lelaki itu sama sekali tidak mendapatkan sambutan hangat. Akan tetapi, hal tersebut seharusnya wajar karena tidak akan ada tim dari mana pun yang menyambut kedatangan orang baru dengan suka cita, kecuali tim tersebut sudah sakit kepala.
Melihat semua orang telah puas akan pembagian tim yang Rafif lakukan, akhirnya lelaki itu tersenyum lebar. Kemudian, Rafif menghampiri meja panjang yang sering digunakan untuk rapat, lalu menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan sembari mencondongkan tubuh menatap semua tim optimis sekaligus bersemangat.
“Sebentar lagi kita akan segera menangkap semua pelaku kejahatan yang hampir meresahkan seluruh masyarakat di dunia, jadi kalian harus tetap optimis. Apa pun yang terjadi nanti, jangan pernah menyalahkan satu sama lain. Karena kita adalah tim,” ucap Rafif tersenyum lebar sembari mengangguk singkat.
“Baiklah, kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi kita harus bergegas mengganti pakaian. Karena hari ini juga kita akan segera menggeledah tempat yang selama ini tidak mudah dikunjungi oleh siapa pun,” sambung Rafif menggebrak meja singkat, lalu melenggang pergi dari ruang rapat tersebut.
Setelah itu, semua tim yang sudah disebutkan namanya oleh Rafif pun mulai bergegas mengenakan rompi anti peluru sekaligus mempersiapkan segala senjata untuk melakukan p*********n nanti. Mereka semua menyembunyikan pistol tersebut di balik punggung, lalu meletakkan pisau lipat di balik sepatunya.
Tentu saja hal tersebut tidak berlaku bagi Rafif yang secara terang-terangan meninggalkan rompi anti peluru miliknya. Namun, lelaki itu malah menyembunyikan banyak sekali senjata, termasuk peluru isi ulang yang menarik perhatian Ketua Tim.
“Rafif, kenapa kamu tidak mengenakan rompi anti peluru?” tanya Franky menghampiri bawahannya yang terlihat sibuk.
Rafif menoleh singkat. “Aku tidak akan menggunakannya, Ketua Tim. Karena benda sia*lan itu hanya menghambat pergerakanku saja.”
“Tapi, kita harus tetap melakukan persiapan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nanti,” sinis Ketua Franky merasa tidak setuju akan pilihan Rafif.
Akan tetapi, ketika Rafif telah mengambil keputusan, maka tidak akan ada yang bisa menyanggahnya. Karena lelaki itu akan tetap melakukan sesuai dengan kemauannya sendiri. Tanpa memedulikan orang lain, termasuk Franky.
Tidak menutup kemungkinan terkadang Rafif bisa menjadi orang lain ketika sedang melakukan pekerjaannya. Bahkan lelaki itu pernah tidak mengindahkan larangan Regina yang merasa kurang cocok akan pekerjaanya.
Namun, Rafif tetaplah Rafif. Lelaki itu tetap pergi dan melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Membuat Regina tidak mempunyai pilihan lain, selain tetap melakukan sesuai permintaan sang adik daripada tetap dirinya larang dan menimbulkan masalah baru.
Dengan mengembuskan napas panjang, Rafif berkata, “Ketua Franky, aku tahu kamu mencemaskanku yang akan terkena sesuatu jika tidak mengenakan rompi itu. Tapi, percayalah aku akan lebih baik tidak mengenakannya. Karena kalaupun aku terkena tembakan nanti, maka itu memang sudah menjadi takdirku. Meninggalkan dalam bertugas.”
Nyatanya perkataan Rafif itu didengar oleh Veera yang tanpa sengaja hendak mengambil pistolnya berada di dalam lemari. Gadis itu terlihat melirik ke arah punggung tegap dengan di depannya seorang lelaki yang sangat dirinya kenali.
Sejujurnya, Veera sedikit merasa tidak percaya mendengar perkataan konyol yang keluar dari mulut seorang lelaki begitu realistis. Bahkan Rafif sama sekali tidak memikirkan keluarganya, termasuk Regina.
Hal tersebut membuat gadis yang baru saja mengenakan rompi itu mendesis sinis. Akan tetapi, ia tidak memiliki kekuatan dan dukungan untuk mengatakan ketidaksetujuannya. Karena sehabis ini dirinya akan menjadi orang yang sangat munafik.
Karena tidak ingin memperparah keadaan, Veera pun melenggang santai seakan ia sama sekali tidak mendengar perkataan dari Rafif. Gadis itu langsung memasukkan beberapa senjata ke area yang tersembunyi, lalu menatap dirinya sendiri melalui pantulan cermin besar di dalam ruangan.
Setelah beberapa saat mereka melakukan persiapan, Cleine pun datang bersama seorang lelaki berpakaian hitam yang terlihat asing. Namun, Rafif langsung menebak dari dalam hatinya bahwa lelaki itu adalah ketua tim polisi SWAT yang diminta untuk bekerja sama dalam penangkapan kali ini.
Memang tidak dapat dipungkiri Rafif merasa cemas pada anggota timnya. Sehingga ia meminta bantuan pada Hyena untuk meminta izin merekrut polisi SWAT dalam penyelidikan kali ini. Sebab, cukup berat jika semuanya dilakukan seorang diri.
“Lapor, Ketua Tim! Lapor, Rafif! Tim gabungan polisi sudah siap di bentengnya masing-masing,” kata Cleine dengan tegas diikuti oleh ketua tim polisi berpakaian serba hitam di sampingnya.
“Bagaimana situasi di sana?” tanya Rafif penasaran.
Seorang ketua tim polisi SWAT maju selangkah, lalu menjawab, “Untuk sekarang masih belum ada pergerakan apa pun, tetapi akan terus melakukan pengamatan lebih jauh. Karena menurut laporan salah satu anggotaku yang menyamar, ternyata di dalam tengah terjadi kegaduhan. Sehingga membutuhkan waktu agar mereka mereda kembali.”
Rafif langsung tersenyum miring mendengar perkataan tersebut. Tentu saja ia tahu dalang di balik semua kegaduhan tersebut. Namun, dirinya memilih tidak menjawab apa pun, selain tetap mengangguk beberapa kali.