Rafif tercengang tidak percaya melihat berkas rahasia yang dibawa oleh sang kakak. Pantas saja wanita itu ketakutan, ternyata di dalam terlibat situasi cukup serius. Sebab, semua orang mencari berkas yang kini berada di tangan Rafif.
Tentu saja lelaki itu bagaikan mendapat sebuah jackpot untuk segera menyelesaikan kasusnya dengan cepat. Membuat Rafif menatap berkas tersebut dengan penuh pertimbangan. Apalagi satu-satunya akses orang dalam hanya Regina, sehingga tidak mudah lelaki itu menumbalkan sang kakak demi kepentingan dirinya sendiri.
“Kak, lo benar-benar berani membawa berkas ini keluar,” seru Rafif terkejut menatap sang kakak yang terlihat sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya.
Regina menatap adiknya sesaat, lalu membalas, “Sebenarnya gue juga agak takut tadi, Raf. Karena bawahan Pimpinan Vald itu benar-benar mencari berkas ini. Bahkan gue sendiri ragu buat bawa berkas ini keluar.”
“Kenapa, Kak?” tanya Rafif mendadak bingung.
“Karyawan yang ngasih berkas ini mendadak hilang dari kantor, Raf. Tentu gue jadi panik,” jawab Regina tanpa sadar meninggikan suaranya, tetapi sesaat ia langsung mengantupkan bibirnya rapat-rapat ketika menyadari ternyata di dalam ruangan tidak hanya ada mereka berdua saja, melainkan seorang gadis masih setia memejamkan mata.
“Hilang?” Kening Rafif berkerut dalam. Semua semakin menjadi banyak tanda tanya membuat ia merasa penasaran dengan dalang di balik kejadian aneh ini.
Regina menatap sang adik serius, lalu berkata dengan nada rendah, “Raf, gue curiga kalau semua ini ternyata ada campur tangan dari orang dalam yang satu profesi sama lo. Secara nyata, mustahil perusahaan sebesar dan seketat Valder Logistic bisa dimasuki oleh orang lain.”
“Benar juga, Kak. Tapi, kita juga tidak bisa berprasangka buruk karena tidak ada bukti kuat yang mengatakan bahwa semua ini didalangi oleh kepolisian,” timpal Rafif mengangguk singkat.
Kemudian, tatapan Regina pun mengarah pada berkas yang ada di tangan adiknya. “Sekarang, lo mau apain itu berkas? Gue enggak akan bisa membawa lagi masuk ke dalam. Karena akan menimbulkan banyak pertanyaan.”
“Biar gue yang urus, Kak,” pungkas Rafif mengangguk mantap, lalu menatap sang kakak yang ternyata sibuk. “Oh ya, sekarang lo mau di sini sampai Perwira Jarvis datang, Kak?”
“Sepertinya memang begitu, Raf. Lagi pula gue juga butuh refreshing daripada suntuk di kantor selama ini.” Regina menyandarkan tubuhnya sembari tersenyum lebar, lalu menatap ke arah gadis yang masih setia dengan tidur panjangnya. “Zyrach, kapan kamu bangun? Lihatlah, semua orang peduli dengan keadaanmu sampai aku ikut menjaga dirimu.”
Alat EKG yang selama ini menjadi penunjang kehidupan bagi Zyrach berdetak mengikuti irama. Namun, saat Regina mengatakan hal tersebut tanpa mereka sadari nyatanya jemari lentik Zyrach perlahan bergerak beberapa kali.
“Kalau begitu, gue pamit kembali ke kantor, Kak! Gue mau sekalian menuju kantor jaksa untuk meminta surat penggeledahan secara resmi,” ucap Rafif mengenakan jaketnya kembali. Tak lupa lelaki itu memasukan berkas yang menjadi poin utama penyelidikan hari ini. Ternyata ia tidak benar-benar berada di kantor.
“Jadi, hari ini lo enggak bisa balik tepat waktu, Raf?” tanya Regina terkejut ketika mendengar adiknya kembali bertugas.
“Mungkin tengah malam atau bisa enggak sama sekali, Kak. Karena penyelidikan anak memakan waktu cukup lama, sehingga gue belum bisa berjanji apa pun,” jawab Rafif tersenyum tipis.
Sontak Regina tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya mendengar sang adik akan meninggalkan dirinya lagi. Namun, ia tidak bisa egois begitu saja. Sebab, ini merupakan tuntutan seorang polisi yang harus mengutamakan keselamatan orang banyak.
Sedangkan dirinya hanya seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya ketika sibuk bekerja tanpa lelah. Meskipun tidak menutup kemungkinan terkadang ia merasa kesal akan kesibukan lelaki itu sampau melupakan semua masalahnya di rumah.
“Kalau begitu, hati-hati, Raf!” kata Regina tersenyum tipis mengantarkan Rafif yang mengangguk singkat sebelum lelaki itu benar-benar menutup pintu ruang rawat Zyarch.
Sementara itu, di dalam hanya ada Regina yang mulai merasa kesepian. Ia memang bukanlah pribadi yang mudah bosan, tetapi ketika telinganya baru saja mendengar hal tersebut membuat Regina mendadak tidak terima.
Tentu saja tidak ada yang merasa rela membiarkan adiknya terus-menerus terlibat dalam keadaan berbahaya. Namun, ia tidak bisa melakukan banyak hal, selain memberikan dukungan pada Rafif. Agar lelaki itu tidak merasa terbebani akan keberatan dirinya.
Di sela Regina sibuk menyortir banyak berkas, tiba-tiba ia merasakan pergerakan seseorang di belakangnya membuat wanita itu menoleh dengan cepat. Kemudian, melebarkan matanya terkejut dengan mulut kecilnya terbuka secara perlahan.
“Zyrach, kamu sudah bangun?” sapa Regina terkejut sekaligus bahagia melihat gadis yang tampak lemah itu perlahan mendudukkan diri sembari menatap dirinya sayu.
Zyrach mengangguk pelan, lalu menatap sekeliling yang terlihat asing. Kemudian, gadis itu menatap Regina dengan pandangan menelisik.
“Tenang saja, Zyrach. Kamu sedang berada di rumah sakit,” celetuk Regina bangkit dari tempat duduknya, lalu menyerahkan sebuah gelas berisikan air mineral yang penuh. Ia tahu hal pertama kali yang dicari oleh orang sakit adalah air minum.
Gadis berpakaian ala rumah sakit itu pun bergumam pelan, “Terima kasih, Kak.”
“It’s okay, kalau kamu butuh sesuatu tinggal panggil aku saja. Kebetulan hari ini aku mendapat pekerjaan lebih banyak, jadi tidak bisa menemani dirimu mengobrol. Tapi, kamu bisa tetap mengajak diriku berbincang walaupun aku terlihat sibuk di sudut ruangan,” pungkas Regina tersenyum hangat sembari mengusap pucuk kepala Zyrach dengan lembut.
Namun, tanpa mereka sadari ternyata jauh di tempat lain tengah terjadi kekcauan. Bahkan tidak ada wajah-wajah santai di kantor pusat Valder Logistic. Akan tetapi, saat mereka sibuk mencari berkas tersebut tiba-tiba tatapannya mengarah pada ruangan yang kosong tanpa penghuninya.
“Siapa yang berada di ruangan ini?” tanya Ethan menatap seluruh karyawan yang berada di depannya.
Salah satu lelaki berjas hitam formal melangkah lebih ke depan satu langkah, lalu menjawab, “Ini ruangan Bu Regina yang bertugas di bagian arsip berkas. Tapi, sudah sedari tadi dia belum kelihatan sejak menerima tamu seorang lelaki dengan pakaian yang tidak biasa.”
“Tidak biasa?” beo Theo mengernyit tidak percaya.
“Menurut beberapa perbincangan yang dilakukan mereka berdua, seorang lelaki yang datang tadi adalah perwira tentara elit,” jawab lelaki tadi mengangguk singkat.
Sedangkan Ethan memutar bola matanya malas, lalu membisikkan sesuatu pada bosnya. Kemudian, mengkode pada beberapa lelaki yang terlihat menganggur untuk memeriksa keadaan di dalam. Sebab, wajib diwaspadai ketika menyadari karyawan bagian arsip menyembunyikan berkas terpenting perusahaan.
Tentu saja tindakan tersebut membuat pandangan Theo mendadak berubah menjadi tajam sekaligus menakutkan. Nyatanya lelaki itu merasakan hal yang sama seperti Ethan. Satu-satunya ruangan yang belum dirazia sekaligus tersenyum itu pun cukup menarik perhatian.