Rafif termenung menatap papan tulis yang berisikan banyak sekali foto terkait kasus LUCA. Meskipun salah satunya bersangkut paut dengan Franky dan Veera. Namun, masih dalam tanda tanya besar tentang dirinyyang pindahkan begitu saja.
Bahkan bisa dikatakan transfer antar departemen tidak menggunakan prosedur yang tepat membuat Rafif bisa berada di dalam departemen yang berbeda. Walaupun formalitasnya ia harus tetap berada di departemen yang baru.
Seorang lelaki tampan ber-name tag interpol itu pun mengembuskan napasnya panjang, lalu menatap arloji yang ada di tangan kiri. Kemudian, alis tebal memikat itu pun saling bertaut membuat wajah tampan Rafif semakin terlihat menggoda.
Di saat yang bersamaan pula, ponsel Rafif berdering pelan membuat sang pemiliknya langsung mengambil alih dari meja kerja yang kini ia duduki sembari menatap papan tulis berwarna putih dipenuhi oleh berbagai macam foto sekaligus tanda tanya besar menyangkut perpindahan depertemennya.
Sebab, semuanya terlihat begitu transparan sekaligus aneh. Jika dilihat dari sisi positif sebagai detektif, Rafif jelas bisa merasakan banyak hal yang terjadi di luar kendalinya. Akan tetapi, ketika dirinya melihat pada sisi diri sendiri, maka hal tersebut akan semakin membingungkan.
“Halo, Raf! Lo lagi ada di mana?” sapa seorang wanita yang terdengar halus, tetapi sedikit bising akibat suara kendaraan di belakangnya.
Sejenak Rafif mengernyit bingung merasakan sang kakak ternyata berada di luar. Memang sedikit aneh ketika wanita itu berada bukan di kantor. Padahal pekerjaannya tidak mengharuskan Regina harus merepotkan diri di luar.
“Seharian ini gue di kantor, Kak. Ada apa?” balas Rafif bangkit dari meja yang dijadikan sebagai tempat duduk, lalu beralih pada kursi kebesarannya dan mendudukkan diri di sana sembari menaikkan salah satu kaki ke atas. Sangat tidak sopan.
“Tadi Perwira Jarvis datang ke kantor gue minta buat ngawasin Zyrach selama dia dinas di luar. Sekarang gue lagi persiapan mau ke sana, tapi ada sedikit masalah, Raf. Lo bisa bantu gue?” pinta Regina memelankan perkataannya. Kali ini sudah tidak lagi terdengar suara bising kendaraan.
“Bantuan apa, Kak?” tanya Rafif penasaran. Apalagi ia menyadari suara yang mengikuti wanita itu sedikit berubah-ubah menandakan Regina sedang berada di tempat lain.
“Tolong jemput gue di belakang kantor, Raf. Sekarang gue enggak bisa bawa mobil dulu,” jawab Regina terdengar ragu sekaligus penuh ketakutan.
Sontak hal tersebut membuat Rafif merasa cemas. Lelaki itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengambil kunci mobil yang tergantung di dekat tumpukan berkas kasus terbengkalai begitu saja.
“Lo jangan ke mana-mana, Kak. Gue jemput lo sekarang!” pungkas Rafif serius sekaligus cemas membuat lelaki itu melebarkan langkah kakinya keluar dari ruangan.
Sedangkan Lizian yang tanpa sengaja berpapasan dengan sahabatnya itu pun mengernyit bingung, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya saja. Karena Rafif terlihat buru-buru dan sebagai seorang sahabat, Lizian jelas tidak akan menahan lelaki itu hanya untuk menjawab semua rasa penasarannya.
Tepat ketika panggilan terputus, Rafif langsung bergegas mengeluarkan mobil pribadinya menuju lokasi yang ditentukan oleh sang kakak. Perasaan lelaki itu jelas sangat cemas, tetapi ia harus tetap mematuhi semua peraturan lalu lintas agar tetap selamat sampai tujuan.
Tak lama kemudian, mobil jeep berwarna abu-abu itu pun terhenti di belakang gedung mewah perkantoran yang terlihat sepi. Tidak ada yang melintas, selain mobil barang terparkir di pinggir jalan.
Hal tersebut membuat Rafif menghubungi keberadaan sang kakak. Sampai deringan ketiga dan hampir saja terputus, wanita itu baru mengangkatnya kembali. Menjadikan jantung Rafif berdetak dua kali lebih cepat.
“Kak, ke mana aja lio baru angkat panggilan gue,” ucap Rafif khawatir.
“Tenang, tenang, Raf. Gue baik-baik aja. Sekarang lo udah sampai di mana?” balas Regina terdengar setengah bercanda.
“Gue ada di belakang mobil pengangkut barang, Kak.” Rafif menatap ke arah luar jendela yang ternyata memang sepi tidak ada orang membuat lelaki itu langsung menurunkan kaca mobilnya.
“Oke, gue lagi jalan ke sana. Jangan ke mana-mana, ya,” pinta Regina terdengar sedikit bergetar. Wanita itu benar-benar ketakutan membuat Rafif semakin yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada sang kakak.
Akan tetapi, ia harus menghormati wanita itu. Jika Regina ingin bercerita, maka Rafif siap mendengarnya kapan saja. Namun, saat Regina tidak ingin mengatakan apa pun, memang sudah seharusnya Rafif menghormati keputusan wanita itu.
Sesaat Rafif menunggu tanpa memutuskan panggilan, lelaki itu melihat siluet seseorang melangkah dengan bayangan tegak lurus mengikutinya. Menandakan pagi ini memang matahari belum terlalu tinggi menampakkan sinarnya.
Regina mempercepat langkah kaki ketika matanya terpaku pada mobil jeep yang bisa ditebak milik sang adik. Wanita itu langsung memasukan ponsel ke dalam tas jinjing, lalu memegang erat pada tas tangan yang berisikan laptop serta berkas penting untuk pekerjaannya di luar nanti.
Melihat kehadiran sang kakak lumayan dekat membuat Rafif turun dari mobil, dan menyambut kedatangan wanita itu. Namun, Regina malah menggeleng beberapa kali seakan memberikan kode bahwa ia menolak penyambutan sang adik.
Membuat Rafif hanya mengernyit bingung melihat perubahan sang kakak yang baru saja terjadi. Padahal pagi tadi ketika mereka berdua masih berada di rumah, seakan baik-baik saja. Entah kenapa Rafif merasa telah terjadi sesuatu pada wanita itu.
Tak urung Rafif mengikuti pergerakan Regina yang masuk ke dalam dan langsung mengenakan sabuk pengaman, bersiap untuk pergi dari sana.
“Ayo, Raf! Langsung ke rumah sakit,” titah Regina menatap sekitar dengan cemas.
Tanpa pikir panjang lagi, Rafif langsung menancapkan gas mobilnya meluncur dengan cepat ke lokasi yang telah diminta sang kakak. Ia memang belum mengatakan apa pun, selain melirik pergerakan gelisah yang perlahan membuat batinnya semakin cemas.
Sesaat kemudian, jarak mobil Rafif dan Valder Logistic lumayan jauh. Regina pun menyandarkan tubuhnya sembari mengembuskan napas panjang yang terasa penuh kelegaan. Wanita cantik itu melirik wajah sang adik yang terlihat tegang membuat batinnya sedikit tergelitik.
“Santai aja kali, Raf. Gue enggak apa-apa kok,” canda Regina tertawa pelan.
“Enggak apa-apa gimana, Kak? Lo itu tadi mirip banget sama buronan yang takut ketangkep sama polisi,” sungut Rafif menggeleng tidak percaya, lalu memperlambat laju mobilnya di tengah jalan raya yang padat merayap.
“Ya, maaf. Tadi gue benar-benar takut, tapi udah enggak ada masalah lagi,” sesal Regina meringis pelan.
“Memangnya apa yang terjadi sama lo, Kak?” tanya Rafif menatap sang kakak penuh kecemasan.