Regina merenggangkan tubuhnya sembari menatap ruang obrolan yang masih kosong. Ternyata sang adik tidak membalas apa pun. Padahal dirinya sudah berpesan untuk tetap memperhatikan ketika dalam situasi tidak terduga.
“Bu Regina, apa kamu sedang sibuk?” tanya seorang gadis yang baru saja masuk membawa beberapa berkas di tangannya.
“Aku belum melakukan apa pun, ada apa?” jawab Regina mengernyit bingung mendapati salah satu rekan kerjanya yang datang sudah membawa pekerjaan.
“Ini ada laporan rahasia, tolong kamu langsung masukan ke dalam arsip. Usahakan jangan diketahui oleh siapa pun, karena ini perintah Pimpinan Vald.” Seorang karyawan tanpa name tag itu menyerahkan setumpuk berkas berwarna hijau yang perlahan merubah tatapan Regina menjadi lapar.
Tentu saja sejak sang adik menginterogasi dirinya, Regina perlahan menjadi sangat penasaran dengan perusahaan tempat bekerjanya sendiri. Ia menatap apa pun yang terlihat mencurigakan, termasuk berkas di tangan.
“Baiklah, nanti selesai makan siang akan kutaruh di sana sekaligus memasukan berkas kemarin yang belum sempat aku selesaikan,” titah Regina membuat rekan kerja wanita itu mengangguk singkat.
Kemudian, Regina pun meletakkan beberapa berkas tersebut. Namun, sekali lagi wanita itu mendengar suara pintu ruangannya diketuk pelan. Membuat Regina mengernyit penasaran. Mengapa pagi ini semua orang seakan ingin bertemu dengan dirinya?
“Maaf, Bu Regina. Di bawah ada seorang lelaki bernama Jarvis meminta untuk bertemu,” ucap seorang karyawan magang yang terlihat menunduk dalam.
Wanita cantik yang baru saja hendak marah itu pun langsung mengurungkan niatnya, lalu membalas, “Baik. Aku tahu!”
Setelah itu, Regina pun bergegas turun ke bawah untuk menemui seseorang yang ternyata berteman dengan baik bersama Rafif. Hanya saja ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada kakak laki-laki dari seorang gadis bernama Zyrach, karena sudah datang mengunjungi dirinya di pagi yang begitu cerah.
Sesampainya di bawah, Regina langsung menghampiri seorang lelaki yang terlihat duduk di ruang tunggu sembari membaca beberapa majalah. Tentu saja keberadaan lelaki itu cukup menarik perhatian membuat beberapa karyawan menatapnya penuh geli sekaligus penasaran. Sebab, Jarvis datang menggunakan seragam lengkapnya sebagai tentara.
“Perwira Jarvis, kamu mencariku?” sapa Regina tersenyum ramah membuat lelaki yang awalnya sibuk membaca langsung meletakkan buku tersebut di tempatnya semula, lalu menyuruh untuk Regina duduk tepat di hadapannya.
“Maaf, sudah mengganggu di waktu pagi seperti ini. Tapi, masalah ini benar-benar mendesak,” sesal Perwira Jarvis meringis pelan membuat wanita cantik nan ramah di hadapannya tertawa pelan.
“Tidak apa-apa. Santai saja. Aku juga kebetulan tidak memiliki pekerjaan apa pun di dalam.”
Mendengar hal tersebut membuat Perwira Jarvis merasa lega, lelaki itu tidak bisa menutupi embusan napas panjang yang bisa dirasakan.
“Jadi, apa yang membuatmu ke sini, Perwira Jarvis?” tanya Regina mengalihkan perhatian lelaki di hadapannya yang hampir saja mengarah pada sesuatu.
“Aku ingin meminta tolong, apakah kamu bisa melakukannya?” pinta Jarvis dengan ekspresi penuh minat.
Regina tampak menimbang perkataan lelaki tampan yang ada di hadapannya. Ia bisa saja melakukan izin untuk melakukan sebuah urusan, karena memang dirinya hampir tidak pernah berada di luar.
Namun, pekerjaannya di dalam membutuhkan waktu lama. Apalagi dirinya baru saja mendapatkan kesempatan untuk melihat sebuah berkas rahasia perusahaan yang menyangkut dalam kasus kepolisian.
“Sebenarnya ya tidak masalah. Kebetulan aku memang sedang tidak memiliki banyak pekerjaan, tetapi aku sedikit ragu. Apakah ini akan dalam waktu sehari penuh?”
“Tidak, hanya ketika aku berada di luar saja. Karena memang hari ini tidak ada yang bisa menjaga Zyrach di rumah sakit, jadi aku minta tolong padamu, Regina. Apa kamu menyetujuinya?”
“Baiklah, aku setuju!”
Mendengar hal tersebut, Jarvis pun langsung tersenyum lebar. Lelaki dewasa itu tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung pakaian dinas lapangan yang berwarna loreng hijau, tak lupa topi baret milik Jarvis terkait sempurna pada pengait berada di pundak kokohnya.
“Ini kunci kamar Zyrach, aku sengaja mengunci kamarnya. Meskipun sudah diawasi oleh banyak prajurit, karena aku sendiri tidak bisa menjamin bahwa tidak ada yang berniat jahat.”
Regina menerima sebuah kunci pintu single tersebut, lalu memasukkannya ke dalam saku blazer yang ia kenakan. Kemudian, menoleh ke arah Jarvis yang terlihat bangkit dari tempat duduknya membuat wanita cantik itu pun mengikuti pergerakannya.
“Maaf sudah merepotkanmu, Regina. Ini benar-benar mendesak sampai aku tidak bisa meminta bantuan siapa pun,” sesal Jarvis mengusap tekuknya salah tingkah.
“Jangan merasa sungkan, Perwira Jarvis. Lagi pula aku senang membantu siapa pun. Karena Zyrach juga rekan kerja adikku,” balas Regina tersenyum tipis.
“Terima kasih, Regina. Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Jarvis tersenyum tipis sembari mengangguk beberapa kali.
Setelah mengantarkan Jarvis keluar dari lobi perusahaan, akhirnya Regina pun memutuskan untuk kembali ke ruangan. Ia harus bergegas menuju rumah sakit untuk segera menemui Zyrach.
Akan tetapi, ketika wanita itu menunggu kedatangan elevator, tiba-tiba pandangannya terpaku pada beberapa orang berpakaian hitam formal setengah berlari dari luar menuju lobi. Wajah mereka tampak sangat panik membuat Regina menukik alis bingung.
Namun, saat Regina hendak datang menghampirinya tiba-tiba pintu elevator berdenting pelan membuat wanita itu mengembuskan napasnya panjang. Kemudian, tanpa mengindahkannya lagi, Regina langsung melenggang masuk.
Tentu saja ia akan bekerja di luar kantor hari ini. Sehingga harus mempersiapkan semua barang-barangnya agar tidak ada yang tertinggal. Karena akan sangat merepotkan.
Sementara itu, tanpa Regina sadari ternyata sekumpulan lelaki berjas hitam itu ada seorang lelaki yang sangat tidak asing melenggang masuk sembari membawa sebuah tas di tangannya.
“Kalian semua cepat hubungi Departemen Pengarsipan!” bentak Ethan pada sekumpulan lelaki berjas hitam yang menunduk penuh ketakutan.
“Maaf, Bos. Kami semua sudah menghubungi bagian arsip, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan berkas tersebut,” sahut salah seorang lelaki yang terlihat ketakutan.
“Cepat cari sampai dapat! Kalau tidak, kalian semua akan tahu akibatnya. Karena Pimpinan Vald sedang melakukan perjalanan bisnis. Jadi, aku tidak bisa menganggung semua yang telah kalian lakukan tanpa sepengetahuanku,” ancam Ethan menatap tajam pada semua pengawal LUCA yang baru saja melakukan kesalahan fatal.
Sebab, mereka semua tanpa sengaja menyatukan berkas rahasia bersamaan dengan berkas perusahaan. Membuat benda tersebut hilang entah ke mana. Meskipun tanpa mereka sadari nyatanya ada pada Regina. Karena wanita itu langsung melebarkan matanya terkejut, lalu buru-buru memasukkan berkas tersebut ke dalam tasnya yang berisikan laptop serta beberapa map perusahaan.
Dalam sekejap jantung Regina seakan copot begitu saja. Kini ia tahu kedatangan mereka semua ternyata hanya untuk mencari sebuah benda yang berada di tangannya. Membuat wanita cantik yang tidak melakukan apa pun itu langsung merasa gugup sekaligus tidak percaya bahwa dirinya akan mempertaruhkan nyawa demi beberapa berkas yang bisa menjatuhkan LUCA dalam satu kedipan mata saja.