Selesai kunjungan dari universitas kepolisian paling bergengsi, kini Rafif telah kembali melakukan tugasnya kembali sebagai interpol yang menangani dua kasus dalam satu waktu. Hanya saja kasus lainnya, ia selidiki secara diam-diam sehingga tidak banyak yang tahu.
Rafif selalu datang tanpa membawa apa pun, selain lencana kepolisian miliknya sekaligus name tag yang tergantung sempurna di leher. Menandakan lelaki itu tidak akan pergi ke lapangan, melainkan tetap berada di kantor selama seharian penuh.
Hal tersebut mengejutkan Lizian yang baru saja kembali dari luar. Lelaki tampan dengan wajah membengkak sehabis bangun tidur itu pun tersenyum lebar.
“Raf, lo enggak keluar hari ini?” celetuk Lizian tanpa pikir panjang langsung merangkul bahu sahabatnya dan ikut melangkah bersama.
Gelengan pelan dari Rafif menandakan lelaki itu benar-benar berada di kantor sampai dua belas jam ke depan. Itu pun kalau tidak ada sesuatu hal yang mendesak untuk dikerjakan.
“Lantas, penyelidikan lo sama kasus LUCA gimana?” tanya Lizian lagi.
Baru saja Rafif hendak menjawab pertanyaan sahabatnya, tetapi kebetulan sekali ruangan pribadi miliknya sudah berada di depan mata. Membuat lelaki itu memutar kunci pintu yang telah disiapkan dan saling berkaitan dengan kunci mobil pribadi miliknya.
Setelah pintu terbuka, dua lelaki tampan itu pun masuk ke dalam. Tentu saja dengan cepat Rafif langsung menutup pintu ruangannya lagi. Sebelum itu, Rafif memastikan bahwa di depan ruangan sama sekali tidak ada tatapan penuh pengawasan. Kemudian, lelaki tampan itu langsung menarik tirai yang menutupi jendela.
“Zian, apa lo penasaran tentang penemuan gue kemarin di Universitas Kepolisian?” celetuk Rafif mendudukkan diri di kursi yang berada di meja kerja, lalu menatap Lizian tengah membuka plastik berwarna putih berisikan sarapan.
“Penemuan apa?” tanya Lizian menatap sesaat.
“Gue ketemu Pimpinan Vald saat melakukan perjalan di sekitar lingkungan kampus. Dia keliahatannya dekat dengan rector kampus, tapi sayang gue enggak bisa ke sana. Karena memang bukan wilayah perjalanan gue,” jawab Rafif mengembuskan napasnya panjang.
“Ngapain Pimpinan Vald ke sana?”
“Gue juga kurang tahu. Dari beberapa sumber informasi, Pimpinan Vald memang sering datang memberikan bantuan dan sedikit apresiasi. Anehnya, mereka sama sekali belum paham apa yang terjadi, karena memang tertutup ketika mengadakan acara. Sehingga tidak mudah bertemu dengan orang luar atau dibuka untuk umum.”
“Apa lagi yang lo temuin selain Pimpinan Vald?”
“Lokasi dark web yang pernah gue selidiki ternyata berasal dari sana.”
“Hah? Apa!?”
Rafif tersenyum miring. “Jangan terkejut dulu, masih ada yang lebih mengejutkan daripada ini. Karena ternyata IP Address yang terkait situs tersebut benar-benar milik salah satu komputer kampus. Namun, gue belum bisa selidiki lebih lanjut karena memang belum ada kesempatan. Jadi, kemarin gue baru mengetahui hal-hal tersebut aja.”
“Raf, hal sekecil ini aja bisa membuat gue hampir tidak percaya! bagaimana lo bisa kunjungan malah jadi bahan penyelidikan?”
“Sebenarnya, gue udah mulai curiga sejak kasus LUCA mendadak diselesaikan begitu saja. Padahal di daftar kasus masih dalam tahap proses penyelidikan.”
“Oh, iya benar. Gue baru ingat! Waktu itu memang lo sempat menyanyakan kasus LUCA.”
“Gue semakin curiga, apa semua ini jawaban dari pertanyaan 7atas perpindahan antar departemen yang gue lakuin sekarang? Karena cukup membingungkan, apalagi sebelumnya gue sama sekali tidak mempunyai masalah.”
“Kalau menurut gue, memang ada keterkaitannya, Raf. Ini bukan masalah sepele yang bisa dianggap ringan, tapi sudah masuk dalam campur tangan orang luar. Membuat kepolisian kita mungkin akan dianggap remeh oleh orang-orang LUCA. Meskipun pelakunya dari diri mereka sendiri, bukan kita.”
“Untuk sekarang, anggap aja tidak terjadi apa pun, Zian. Karena ini masih menjadi prasangka pribadi sehingga aku ingin memastikannya terlebih dahulu sebelum dipastikan bahwa Pimpinan Vald memang ada keterkaitan dengan Universitas Kepolisian.”
Lizian mengangguk mantap. Lelaki tampan itu membuka sebuah kotak nasi yang berisikan sepaket sarapan lengkap dengan gorengan. Salah satu makanan kesukaan orang Indonesia. Bahkan terkadang sudah menjadi tradisi yang tidak bisa dihilangkan. Meskipun makanan tersebut sudah jelas-jelas menyebabkan penyakit tenggorokan dan lainnya.
Melihat sahabatnya tengah sarapan, Rafif pun melangkah ke arah meja kerja yang masih terlihat rapi. Ia hendak mengeluarkan laptop pribadinya kembali. Tentu saja banyak sekali pecahan kasus yang menjadi satu folder di sana. Sehingga tidak lagi menyimpan di dalam komputer kantor.
Sebab, keamanannya belum tentu terjamin membuat Rafif merasa tidak perlu menaruhnya di sana. Lagi pula semua kasus akan beres ketika dirinya menyerahkan sesuai dengan rencana. Walaupun komputer kantor jarang sekali digunakan, kecuali untuk mengetik beberapa pekerjaan.
“Lo nginap lagi, Zian?” tanya Rafif di sela-sela kegiatannya mencari berkas yang belum sempat dikerjakan kemarin.
“Iya, Raf,” jawab Lizian mengangguk singkat sembari mengunyah makanan tersebut dengan cepat. “Beberapa hari ini penyelidikan sedikit tertanggu akibat banyaknya narapidana yang masuk. Padahal sebagaian dari mereka sudah mulai di-transfer.”
Rafif menghentikan kegiatannya terkejut, lalu menatap Lizian dengan menyembulkan kepalanya dari bawah meja.
“Lo serius, Zian? Sel di sini semuanya penuh?”
Lizian mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Kemarin juga kekurangan personil. Bahkan gue aja di depan sama Nailara.”
“Lho, itu bukannya bagian administrasi?” tanya Rafif mengernyitkan keningnya bingung.
“Makanya itu, Raf, kemarin itu benar-benar kekurangan personil,” jawab Lizian mengangguk beberapa kali, lalu menenggak minumannya beberapa kali. “Oh ya, ada yang mau gue omongin juga sama lo, Raf. Mumpung kita berdua ada di sini.”
“Apa?” tanya Rafif sembari menyibukkan diri membuka laptopnya yang ternyata habis baterai membuat lelaki itu mengembuskan napasnya panjang dan berjongkok kembali untuk menyatukan pada stop kontak di bawah.
“Ini masalah Veera,” gumam Lizian penuh membuat pergerakan Rafif terhenti sesaat, tetapi lelaki itu kembali melanjutkan lagi seakan tidak terjadi sesuatu.
“Kenapa lagi sama dia? Fitnah gue ngelakuin hal aneh?” sinis Rafif tanpa menoleh sama sekali.
“Bukan, Raf. Kemarin dia ketemuan sama lelaki yang pernah datang ke sini. Kalau enggak salah, sepertinya itu mantan kekasihnya.”
“Oh, dia?”
“Ada sebuah perbincangan aneh yang terjadi pada mereka berdua, Raf. Untungnya gue udah rekam semua pembicaraan itu. Tapi, memang tidak bisa dijadikan bukti yang kuat, karena gue rekamnya secara diam-diam. Jadi, lo harus dengar rekaman ini karena mungkin ada bukti yang bisa menjadi petunjuk besar.”
Rafif langsung menatap ke arah sahabatnya penuh, tatapan lelaki itu menyiratkan sesuatu yang tidak terduga.