Menjadi seorang polisi tidak selamanya berkepribadian baik dan suka menegakkan keadilan. Namun, ketika sudah benar-benar berada dalam ruang lingkup tersebut, maka akan merasakan banyak perbedaan.
Tentu saja hal tersebut dirasakan begitu kuat oleh Rafif yang merasa dirinya sudah terjebak dalam lingkaran setan. Sehingga harus tetap menguatkan diri agar berada di jalur yang seharusnya tanpa ada mengalami perbedaan.
Sebagai seorang polisi, ikut campur dalam berbagai masalah sudah menjadi hal yang biasa. Apalagi tidak sedikit mereka mendapat perlakuan tidak adil dari berbagai masyarakat. Padahal yang sebenarnya, mereka hanya melakukan tugas sebagai aparat keamanan pemerintah.
Memang tidak mudah menjadi polisi yang menangani berbagai macam kasus. Salah satunya Rafif yang kini mulai melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya sendiri. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi satu-satunya alasan lelaki itu menyerah. Melainkan Rafif akan tetap menyelidiki semua kasus yang hampir meresahkan banyak orang.
Kini seorang lelaki yang telah lengkap dengan seragam dinas kepolisian tampak menatap diri sendiri melalui cermin besar di sudut ruangan. Kemudian, menoleh saat mendengar seseorang masuk ke dalam sembari membawa dua plastik berwarna putih berisikan makanan.
“Lo udah mau berangkat, Raf?” tanya Lizian yang baru saja datang memasuki ruangan pribadi milik Rafif.
“Gue enggak mau menyia-nyiakan waktu dengan semua penundaan yang telah diusulkan oleh Ketua Franky. Karena gue tahu kalau usulannya itu akan menguntungkan Pimpinan Vald,” jawab Rafif mengecangkan simpul dasi hitamnya yang terpasang sempurna meliliti leher.
“Lo tahu, Raf? Saat gue beli sarapan tadi di luar, enggak sengaja gue memang melihat mobil milik Pimpinan Vald. Tapi, entahlah gue juga agak ragu buat memperhatikannya. Karena tiba-tiba banyak mobil yang menutupi memenuhi hingga bahu jalan,” tutur Lizian mengembuskan napasnya berat menatap Rafif yang mulai mendudukkan diri di sampingnya.
“Maksud lo Pimpinan Vald ada di sini?” tanya Rafif bingung sekaligus penasaran.
“Iya, sepertinya memang begitu. Karena gue lihat ada beberapa mobil yang enggak asing, termasuk mobil dengan model sama, tetapi hanya nomor platnya yang berbeda,” jawab Lizian mengernyit dalam-dalam berusaha mengingat penglihatannya tadi.
“Mereka ke arah mana?” tanya Rafif.
“Sepertinya belum pergi. Hanya memperhatikan tepat di depan kantor polisi seakan ada sesuatu yang dia tunggu,” jawab Lizian menatap penuh makna.
Sontak hal tersebut membuat Rafif mengangguk mengerti, lalu meraih sekotak nasi uduk untuk sarapan di pagi yang hampir cerah. Sebab, lelaki itu memiliki pertemuan di sekolah kepolisian bersama beberapa personil lainnya.
Memang setiap tahun kepolisian metropolitan selalu mengadakan pertemuan dengan petugas polisi untuk memikat dan menambah semangat pada murid kepolisian yang masih menempuh pendidikan cukup lama.
Setelah selesai sarapan, Rafif pun mengemudikan mobilnya bersama beberapa polisi lain menuju gedung yang selama ini melahirkan banyak polisi berbakat. Bahkan bisa dikatakan Rafif pun menjadi satu-satunya kelulusan di sana yang menjadi petugas terpenting di kepolisian.
Sementara itu, di sisi lain Lizian tengah berbincang dengan beberapa personil polisi yang bertugas bagian administrasi. Akan tetapi, pandangan lelaki itu langsung terhenti ketika mendapati Veera tengah berbincang dengan seseorang di luar kantor.
“Nay, lo tahu orang yang lagi ngomong sama polisi cewek itu?” tanya Lizian setengah berbisik.
Sejenak gadis yang ber-name tag Nailara itu mengangkat kepalanya sesaat, lalu mengangguk pelan sembari menjawab, “Gue kurang tahu, tapi memang beberapa kali dia datang ke sini. Bahkan kemarin hampir aja membuat keributan.”
“Ngapain dia ke sini?” Kening Lizian mengernyit dalam menatap perbincangan keduanya yang terlihat serius. Bahkan Veera tampak kesal dan terus menolak semua permintaan lelaki itu.
“Kalau lo penasaran kenapa enggak langsung ke sana aja?” sahut Hafa yang baru saja datang sembari membawa beberapa berkas kasus di tangannya.
Mendengar hal tersebut membuat Lizian mendengkus kesal, lalu memutar bola matanya malas. Kemudian, lelaki itu dengan santai melenggang keluar dengan memasang telinga lebar-lebar ketika melewati mereka berdua.
Sampai tiba-tiba Lizian mendengar samar-samar keduanya membicarakan sesuatu yang kurang diketahui. Namun, masih berkaitan dengan Pimpinan Vald membuat Lizian yang mendengarnya langsung melebarkan mata.
Akan tetapi, dirinya baru teringat bahwa Rafif sedang melakukan kunjungan membuat lelaki itu tidak bisa kembali dalam waktu dekat. Apalagi lelaki itu telah mengisi kehadiran seharian yang akan berada di kunjungan sekolah.
Namun, Lizian bukan hanya melintas saja, melainkan lelaki itu diam-diam menaruh perekam suara yang dijatuhkan dekat dengan selokan saat dirinya membenarkan tali sepatu sembari berlutut.
Kemudian, dengan cepat lelaki itu langsung menyambungkan benda tersebut melalui ponsel miliknya. Tak lupa Lizian menggunakan earphone untuk mendengarkan semua pembicaraan dari Veera dan lelaki asing yang terlihat memaksa.
“Enggak bisa!”
Terdengar suara kesal dari seorang gadis yang bisa ditebak adalah suara dari Veera. Sedangkan helaan napas panjang lelaki bersuara berat membuat Lizian mengernyit bingung. Ia seperti tidak asing mendengar suara ini.
“Veera, jangan munafik! Aku tahu kamu ngelakuin hal kemarin itu akibat suruhan dari Ketua Franky, bukan?”
“Tutup mulutmu! Jangan pernah datang lagi ke sini, karena kita sudah tidak ada hubungan lagi.”
“Tunggu, Veera! Aku tahu kamu akan menghindariku ketika sudah berhubungan dengan Pimpinan Vald. Maka dari itu, aku ingin membicarakan banyak hal padamu.”
Lizian yang mendengarkan suara mereka pun langsung terdiam membisu. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Lepas!”
“Tidak!”
Veera mendesis sinis. “Jangan mimpi. Aku sudah tidak ingin berhubungan denganmu lagi!”
Setelah itu, rekaman suara pun terhenti membuat Lizian langsung melepaskan earphone, lalu keluar dari ruangan menuju halaman kantor yang ternyata benar-benar tidak ada satu orang pun.
“Nay, dua orang yang ada di depan tadi ke mana?” tanya Lizian penasaran tanpa menatap gadis cantik yang ada di sampingnya.
“Mereka udah pergi dari tadi,” jawab Nailara mengangkat bahunya acuh tak acuh.
“Ke mana?” tanya Lizian lagi.
“Polisi wanita tadi masuk ke dalam, dan lelakinya entah ke mana,” jawab Nailara mulai menatap lelaki yang ada di sampingnya dengan mata menyipit penuh selidik. “Dia pacar lo, ya?”
Lizian mengernyit tidak percaya. “Jangan membuat gosip yang tidak mendasar, Nay!”
Mendengar hal tersebut Nailara hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh. Namun, Hafa yang berada di samping gadis itu langsung tersenyum geli, lalu mengedipkan sebelah matanya pada Lizian.
Tentu saja kedipan menggoda itu langsung disambut dengan tatapan penuh ngeri oleh Lizian. Namun, lelaki tampan yang dikenal oleh banyak orang itu pun langsung melenggang pergi begitu saja.
Meninggalkan dua gadis yang ternyata sibuk menoleh memperhatikan kepergian Lizian kembali masuk ke dalam. Sebenarnya, Lizian cukup dikenal banyak personil polisi wanita, hanya saja lelaki itu sering bersama Rafif yang ketampanannya luar biasa. Sehingga meredupkan pesona Lizian yang ternyata tidak kalan tampan.