Nyatanya Veera benar-benar menemukan jalan buntu. Setelah semalam dirinya mendapatkan surat rahasia dari bawahan Pimpinan Vald yang terus mengingatkan untuk bekerja sama dengan Rafif seperti kata Ketua Franky.
Jujur saja, perkataan itu memberikan sedikit tekanan pada Veera dengan masalahnya. Ia tidak mungkin akan muda berinteraksi seperti dulu lagi. Setelah apa yang diperbuatnya pada Rafif.
Bahkan ia sendiri yakin bahwa lelaki itu tidak akan mudah menerima dirinya seakan tidak terjadi apa pun. Namun, semua perintah Pimpinan Vald jelas memiliki dampak cukup besar. Selain mengawasi setiap gerak-gerik Rafif, jelas Veera hanya melaporkan semua perkembangan.
Jika dirinya tidak melaporkan, makan Ketua Franky sendiri yang akan mengatakannya. Sedangkan Veera harus siap menerima semua konsekuensi apa yang telah dilakukan, termasuk mengabaikan tugasnya sendiri.
Kini seorang gadis cantik berpakaian kemeja biru langit itu tampak menyanggah kepalanya dengan satu tangan sembari menatap layar komputer di depannya yang menampilkan sebuah laporan perkembangan kasus LUCA,
Veera tampak menimbang apakah dirinya akan mengirimkan sebagian laporan tersebut pada Pimpinan Vald atau tidak. Sebab, mempublikasikan kasus demi kepentingan diri sendiri jelas akan berdampak pada banyak masalah. Sehingga Veera harus benar-benar memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk bocornya kasus pada semua media.
Akan tetapi, pilihan Veera tetap ada pada dirinya sendiri membuat gadis itu perlahan mengeklik save dan bersiap mengirimkannya melalui email Pimpinan Vald. Sebelum hal tersebut terjadi, tiba-tiba pintu ruangan terbuka mendadak membuat gadis itu spontan menutup semua bar task-nya.
“Veera, lo besok bersama gue menangkap Pimpinan Vald,” pinta Rafif yang terdengar memerintah membuat gadis yang awalnya ragu itu pun tiba-tiba merasa sedikit aneh.
“Memangnya kejaksaan sudah mengirimkan surat penangkapan?” tanya Veera mendadak bingung. Karena sebelumnya tidak pernah ada pemberitahuan apa pun mengenai penangkapan dan sejenisnya.
“Tenang aja, gue udah laporan sama Ketua Franky. Jadi, lo besok bisa langsung ke Valder Logistic tanpa harus ke kantor dulu,” jawab Rafif santai, lalu kembali keluar ruangan meninggalkan gadis yang kini diselimuti rasa kebimbangan penuh.
Namun, tanpa Veera sadari ternyata Rafif hanya menggertak. Lelaki itu tidak benar-benar meminta surat penangkapan. Sebab, membutuhkan banyak bukti kuat untuk mengeluarkan surat resmi bertindak tersebut.
Sehingga tidak mudah dalam menangkap siapa pun tanpa diketahui bukti kuat dan motifnya dalam melakukan banyak hal, termasuk pembuatan lab secara illegal.
Setelah mengatakan hal tersebut, Rafif melenggang keluar kantor untuk menemui Hyena. Ia menggantikan gadis itu untuk mengawasi ruang monitor kamera pengawas. Karena rekan kerjanya sudah beberapa hari ini tidak datang, dan Hyena memiliki banyak pekerjaan di luar kantor.
Alhasil Rafif yang tidak memiliki pekerjaan apa pun menawarkan diri untuk menggantikan gadis itu sekaligus menyelidiki kamera pengawas pada hari di mana kecelakaan Zyrach terjadi. Sebab, sampai hari ini dirinya belum menemukan titik terang apa pun, kecuali perkembangan kasus organisasi gelap LUCA.
“Raf, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa menanyakannya lewat telepon,” pamit Hyena tersenyum manis dan melenggang pergi bersama tiga polisi wanita lainnya yang mengenakan seragam harian dinas.
“Hati-hati di jalan,” balas Rafif mengangguk singkat, lalu menutup pintu ruangan monitor kembali.
Tak lupa lelaki itu menguncinya agar tidak ada sembarangan orang pun yang masuk ke dalam. Karena mulai hari ini, dirinya akan terus memantau semua perkembangan dan titik terang terhadap bukti kecelakaan terencana tersebut.
Di sela dirinya memantau semua situasi tiba-tiba pandangan Rafif terpaku pada kamera pengawas yang menyorot pada lorong tepat mengarah tempat ini. Tentu saja hal tersebut langsung membuat Rafif bergerak cepat dalam menghapus semua riwayat pencariannya.
Kemudian, pada saat lelaki yang dilihat pada kamera pengawas tadi sampai di depan pintu, Rafif langsung membuka pintu dan berpura-pura hendak membuang sampah. Sebab, tong sampah yang tidak bisa didaur ulang berada di dalam. Sehingga dirinya harus keluar terlebih dahulu.
Bakat akting yang dimiliki Rafif benar-benar natural membuat lelaki itu berpura-pura terkejut melihat kedatangan Franky yang terlihat terkejut akan kehadiran dirinya di ruang monitor kamera pengawas.
“Rafif, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ketua Franky dengan tangan mengambang hendak meraih handle pintu, tetapi diurungkan niatnya tersebut akibat menyadari pintu ruangan tersebut terbuka dengan seseorang menariknya dari dalam.
“Ketua Franky, apa yang kamu lakukan di sini,” tanya Rafif balik. Mengulangi pertanyaan yang sama seperti dikatakan oleh ketua timnya.
Franky tertawa pelan yang terdengar geli. Sangat natural membuat Rafif hampir tertipu dengan menganggap ekspresi benar-benar keluar secara alami tanpa dibuat-buat demi menutupi sesuatu.
“Sebenarnya, kedatangan aku ke sini untuk bertemu dengan Hyena. Tapi, ternyata malah bertemu dengan dirimu,” jawab Franky diakhir dengan senyuman tipis.
Rafif mengangguk singkat menandakan dirinya mengerti, lalu berkata, “Hyena sedang melakukan tugas di luar. Sehingga harus ada yang menggantikannya, dan kebetulan sekali aku sedang menganggu. Kalau ada sesuatu yang diinginkan, kamu bisa mengatakannya padaku, Ketua Franky.”
Sejenak lelaki yang usianya tidak terlalu jauh dengan Rafif itu pun terdiam sesaat. Wajahnya terlihat benar-benar khawatir membuat Rafif semakin yakin bahwa ada sesuatu yang salah di antara banyaknya personil polisi metropolitan. Seakan semuanya telah diatur oleh seseorang yang besar di belakang.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mengajak dia beristirahat sebentar karena selama ini Hyena selalu bekerja keras tanpa memikirkan dirinya sendiri. Padahal wanita itu bisa saja melakukan cuti tahunan, tetapi memang tidak mudah menjadi pengawas monitor dan berlibur. Karena banyak sekali rahasia yang tidak diketahui oleh orang luar.” Franky menggeleng pelan sembari menatap ke arah belakang tubuh Rafif yang tidak menampilkan siapa pun.
“Benarkah kamu tidak mencari siapa pun, Ketua Franky?” tanya Rafif menatap serius. Seakan ia ingin sekali membuat lelaki itu mengatakan perbuatannya sendiri.
“Aku sedang mencari Veera. Sebab, tanpa sengaja aku mendengar dari salah satu personil polisi bahwa kalian berdua sedang tugas bersama,” jawab Franky berusaha mencari alasan, padahal tidak ada satu orang pun yang berani membicarakan Rafif dari belakang.
Nyatanya hal tersebut hampir saja membuat Rafif menyemburkan tawa penuh cemooh. Akan tetapi, dirinya masih mempunyai akal sehat untuk tidak melakukan hal tersebut, sehingga Rafif tetap menjaga semua sikapnya dengan sangat rapi. Agar tidak menimbulkan kecemasan tersendiri bagi musuh.
“Oh, Veera,” gumam Rafif mengangguk beberapa kali. “Aku memang sempat berbincang dengannya tadi, tapi aku yang pertama kali keluar ruangan. Sehingga aku tidak tahu di mana keberadaan Veera. Apa kamu mau mencarinya dengan kamera pengawas, Ketua Franky?”
Pertanyaan tersebut benar-benar membuat Frangky terdiam membisu. Lelaki itu tidak mengatakan apa pun, selain tatapannya berubah menjadi tajam.