“Lo benar-benar sahabat yang baik, Raf. Tahu aja gue enggak nafsu makan di kantin,” puji Lizian tersenyum lebar sembari bersemangat memakan makan siangnya yang berkuah nikmat pedas dengan beberapa bola berisikan daging.
Sebenarnya, Rafif sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan begitu bebal menghadapi atasan sendiri. Akan tetapi, ia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan, meskipun beberapa kali hampir terkena masalah yang bukan dirinya lakukan.
“Zian, gue ngajak lo ke sini bukan karena semata-mata ingin makan di luar, tapi ada sesuatu hal yang perlu gue bicarakan sama lo. Tanpa ada siapa pun yang tahu,” kata Rafif mengembuskan napasnya panjang, lalu meletakkan alat makannya berupa garpu dan sendok di piring kosong yang kecil.
Lizian yang mendengar hal tersebut langsung menatap sahabatnya penuh, lalu membalas setengah berbisik, “Lo nemuin fakta apa lagi, Raf?”
Sejenak Rafif menatap ke arah lain memastikan bahwa hanya ada mereka berdua saja di sana. Sebab, tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang menjadi mata-mata sekalipun itu adalah pengunjung rumah makan.
Menjadi seorang polisi jelas membuat Rafif begitu terlatih menghadapi situasi apa pun, termasuk menghadapi banyak penjahat kelas kakap yang telah melakukan berbagai kejahatan. Bahkan pembunuh berantai pun merasa gemetar ketika mendengar nama Rafif begitu saja. Meskipun lelaki itu tidak ada di sana secara wujud, tetapi rasa ketakutan mereka benar-benar natural dan tidak dibuat-buat.
“Apa yang lo temui, Raf?”
“Gue baru merencanakan penyergapan di Valder Logistic setelah semuanya terungkap. Karena sekarang gue baru menemukan fakta dari Regina. Ini memang belum dikatakan benar, tetapi cukup menjadi petunjuk kuat untuk kita menyelidiki pengiriman di balik semua paket besar-besaran tersebut.”
“Oh, jadi lo mau penyergapan di sana sama tim lo? Apa enggak takut Veera atau pun Ketua Tim lo itu akan mengatakannya pada Pimpinan Valder?”
“Justru itu menjadi hal baik untuk kita, Zian. Karena dengan begitu gue bisa melakukan interogasi secara terbuka pada karyawan dan supir yang bekerja di sana, termasuk kakak gue sendiri. Meskipun sekarang hanya menjadi asumsi pribadi, tetapi gue yakin kalau Pimpinan Vald melakukan semua ini secara bersih pasti banyak melakukan persembunyian terhadap hal besar.”
“Oke, gue ngerti. Maksud lo, ini semua direncanain dari awal, termasuk Veera yang ikut rapat waktu itu. Tanpa mengindahkan identitasnya sebagai mata-mata Pimpinan Vald sendiri.”
“Iya. Gue jelas melakukan hal sebesar ini membutuhkan banyak keberanian. Salah satunya menjadi umpan demi ikan besar yang segera menampakkan wujudnya.”
“Jangan senang dulu, Raf. Kita enggak akan tahu hal apa yang terjadi di depan.”
“Tenang saja. Gue udah mempersiapkan hal terburuk yang akan terjadi pada gue sendiri. Jadi, ketika gue melakukan hal besar ini. Gue harap lo bisa melakukan seperti yang gue minta.”
Lizian terdiam sesaat. Wajahnya terlihat begitu cemas membuat Rafif menatap penasaran, tetapi ia tahu kekhawatiran sahabatnya yang berlebihan. Meskipun ia akan baik-baik saja, tetapi lelaki itu jelas tidak bisa menganggap semua hal ini sepele. Karena dirinya akan menjadi pejuang sendirian melawan banyaknya polisi hitam yang berpura-pura membela kebenaran, tetapi malah sebaliknya.
“Zian, gue tahu kekhawatiran lo. Tapi, ini satu-satunya cara agar kita bisa menangkap LUCA beserta komplotannya secara tuntas.”
“Tetap aja, Raf. Lo ngambil resiko begitu besar juga belum tentu Regina akan menyetujuinya.”
“Maka dari itu, ketika terjadi sesuatu tidak terduga lo harus jagain Kakak gue. Perhatikan dia dalam banyak hal, salah satunya seperti ketika sedang mabuk. Dia enggak akan memedulikan apa pun, jadi lo harus urusin dia dalam banyak hal.”
“Ini berat, Raf. Gue yakin ini enggak semudah yang lo bilang, ‘kan?”
“Zian, ketika gue memutuskan menjadi seorang polisi, maka tidak ada lagi jalan mundur. Selain lo tetap maju menambah rintangan semakin kuat.”
“Apa lo gila, Raf!? Ini bukan masalah profesi sebagai polisi atau bukan, tetapi mengenai perasaan Regina ketika tahu lo melakukan hal seperti ini. Gue yakin dia bakalan sedih banget.”
“Jadikanlah dia pengertian, Zian! Regina enggak akan sekeras kepala gue ketika berusaha dimengerti oleh siapa pun.”
Namun, Lizian sama sekali tidak menanggapi ucapan sahabatnya. Ia merasa kesal sekaligus buntu dalam menyarankan sebuah permasalahan. Entah kenapa pikirannya begitu kalut mengingat Rafif akan benar-benar melakukan penyergapan pada orang paling berpengaruh terhadap perekonomian nusantara.
Sementara itu, di sisi lain, Veera baru saja menyelesaikan makan siangnya pun langsung kembali melakukan monitor pada semua personil polisi. Tentu saja mereka harus diperiksa satu per satu tanpa memedulikan hubungan atau pun sangkut pautnya.
“Veera, kamu dipanggil Ketua Tim Franky!” celetuk salah satu personil polisi wanita yang kebetulan melintas dan mendengar perbincangan mereka. Membuat Veera langsung bangkit dan memperhatikanmu dalrio kejauhan.
“Oke, aku tahu,” balas Veera mengangguk singkat, lalu berbalik dengan berlari kecil menghampri seseorang yang baru saja mendamaikan diri dengan alis yang mengangkat dengan begitu pas.
Sesampainya di ruangan yang awal diduduki oleh lelaki paruh baya begitu menimati edkaa= membuat siapa pun merasa pabas-dingin, Veera pun melenggang masuk ke dalam menatap dosen, pimpinan kantor polisi dian dan beberapa orang yang paling berpengaruh.
“Permis Ketua Tim, ada apa kamu memanggilku ke sini?” tanya Veera menyembulkan kepalanya melihat seorang lelaki tengah bergelut dengan komputer di ruangannya.
“Masuklah, Veera,” jawab Franky menegakkan tubuhnya kembali, lalu mengkode pada gadis itu untuk mengunci pintu.
Menyadari kodean tanpa suara, Veera pun membalikkan tubuhnya lagi. Kemudian, memutar kunci satu kali pada pintu yang menjadi pembatas antara Franky dan tim lainnya. Membuat lelaki itu lebih banyak menyendiri.
Setelah selesai mengunci pintu, Veera langsung menatap ketua timnya lagi. Lalu, mengernyit bingung menyadari posisi tempat duduk sang ketua timnya sudah berbeda.
“Ketua Tim, apa kamu membutuhkan bantuanku?” tanya Veera penasaran.
Franky mengangguk pelan. “Pimpinan Vald sudah ke rumahmu, bukan? Kapan kamu akan bekerja sama dengan Rafif? Aku hanya ingin mendengar keputusanmu.”
“Ketua Franky, jujur saja aku tidak bisa melakukan ini. Bukankah kamu betapa canggungnya hubunganku dengan Rafif ketika dalam situasi berdua seperti itu,” keluh Veera mengerang tidak percaya. Ia benar-benar merasa serba salah dalam situasi sekarang.
“Kalau kamu tidak mengetahuinya, Ethan akan sering mendatangimu. Justru itu hal bagus, ketika kamu dapat menyenangkan hati Pimpinan Vald. Kamu akan mendapatkan banyak keuntungan,” balas Franky terdengar licik.
“Gue belum bisa melakukan apa pun setelah kejadian kemarin yang hampir saja terlibat masalah besar, Ketua Franky. Lo juga harus mengerti bagaimana berada di posisi gue sekarang!” pungkas Veera mengembuskan napasnya kasar menatap tajam seorang lelaki yang hanya mengetahui keuntungan tanpa memikirkan kerugian.