“Veera, berikan laporan yang sudah kamu selidiki selama beberapa hari kemarin!” titah Franky tepat di depan papan tulis yang menampilkan sederetan relasi organisasi gelap LUCA, termasuk lab rahasia incaran semua polisi metropolitan. Sekaligus pengungkap segala kebenaran dan kasus yang saling berkaitan.
Veera membuka spidol merah yang sejak tadi tertutup sempurna, lalu mulai menarik sebuah garis lurus berpusat pada foto Theo Vald Rasendriya tersenyum saat melakukan peresmian di salah satu rumah sakit swasta yang kini tampak lebih besar daripada pertama kali berdiri.
“Rainbow Night Club yang selama ini memiliki banyak kecurigaan ke sana sama sekali tidak ada kaitannya. Sebab, tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui ruang bawah tanah di sana untuk apa. Bahkan ketika melakukan penyelidikan secara diam-diam, di ruangan itu benar-benar kosong tidak ada apa pun. Hanya ada bekas kegiatan lab yang dijalankan,” jelas Veera menempelkan cetakan foto yang didapat dari ruangan tersebut.
Rafif mengernyit tidak percaya menatap foto tersebut, lalu membalas, “Bagaimana kamu bisa menyimpulkan tidak ada kaitannay dengan Rainbow Night Club? Bukankah semua langsung mengarah ke sana?”
“Penyelidikan awal memang sempat ke sana, tapi sepertinya mereka bergerak cepat untuk meninggalkan lab sebelum terjadinya penyelidikan menyeluruh. Memang sudah tersusun begitu tapi tanpa menimbulkan jejak bekas apa pun.” Veera menatap datar pada Rafif yang begitu detail. “Ingat, Letnan Osm, kita tidak bisa mengklaim orang yang bersalah berdasarkan prasangka pribadi saja. Karena kita juga membutuhkan bukti kuat untuk menjatuhkan orang tersebut.”
Mendengar hal tersebut beberapa tim yang mengetahui maksud dari penjelasam Veera pun mengangguk beberapa kali sembari menggumamkan beberapa hal. Sedangkan Rafif hanya menatap datar pada gadis yang tanpa sadar mengibarkan bendera peperangan pada dirinya.
Sementara itu, Franky menyadari situasi ruangan cukup tegang pun menyela, “Baiklah, laporan yang cukup kuat untuk meninggalkan Rainbow Night Club dari garis bukti dan penyalahgunaan.”
Kemudian, Veera kembali mendudukkan diri di tempatnya semula sembari mencatat beberapa hal pada buku catatan. Mengabaikan tatapan tajam Rafif yang bersiap menguliti dirinya hidup-hidup.
Memang lelaki itu sudah tidak lagi ramah ketika dirinya mencari masalah, dan ditambah ketika dirinya pulang dari dermaga. Entah Rafif mengetahui semua tindakannya atau tidak, tetapi Veera bisa merasakan aura permusuhan dari lelaki tersebut.
Namun, jelas saja Veera berusaha bersikap tenang agar tidak semakin mencurigakan, termasuk memberikan bukti cukup konkret untuk melepaskan Rainbow Night Club dari gugatan yang diajukan oleh salah satu keluarga pekerja lab milik Pimpinan Vald. Karena sudah membunuhnya pada saat tidak diketahui tengah menjalankan obat terlarang.
Merasa muak melihat segala sandiwara yang ada di ruangannya sendiri itu pun membuat Rafif melenggang keluar begitu saja. Bertepatan sekali sudah waktunya makan siang. Sehingga ia bisa beralasan ingin ke kantin terlebih dahulu.
Sayang sekali ketika sampai di lantai dasar lelaki itu malah bertemu dengan sahabatnya yang baru saja kembali dari penyelidikan bersam tim lainnya. Mereka menyapa hormat pada Rafif, karena lelaki itu jelas dikenal sebagai polisi yang tidak mudah dikelabui oleh apa pun.
Kini keduanya telah berada di kantin kantor polisi yang cukup ramai membuat mereka memutuskan untuk memilih meja sudut agar tidak terganggu oleh siapa pun saat membicarakan masalah pekerjaan.
“Bagaimana penyelidikan lo, Raf? Gue dengar katanya tim atas udah mulai melangsungkan rencana LUCA,” celetuk Lizian menyeruput kopi hitamnya yang masih panas. Nyatanya lelaki itu membutuhkan minuman penghilang kantuk agar tetap terjaga.
“Masih banyak tanda tanya besar, Zian. Sampai sekarang gue belum bisa membedakan mana yang palsu dan mana yang asli. Karena semuanya terlalu banyak kepura-puraan,” balas Rafif terdengar menusuk membuat Lizian tertawa singkat. Entah kenapa lelaki itu merasa geli akan perkataan sahabatnya sendiri.
“Sebenarnya, kita jadi polisi juga belum tentu semua bersih, Raf. Bisa lo lihat,” ucap Lizian menunjuk beberapa polisi yang tertawa tanpa beban, lalu kembali berkata, “mereka semua tampak tertawa tanpa beban. Padahal tidak tahu ketika keluar dari sini akan ada bahaya apalagi yang datang.”
“Gue juga percaya LUCA memiliki banyak relasi di sini, termasuk atasan kita sendiri yang terkadang menjadi panutan. Padahal seharusnya polisi menjadi pelindung rakyat bukan memikirkan dirinya sendiri,” balas Rafif tersenyum miris.
“Jujur aja, Raf, kebanyakan polisi memang niat awalnya bersih. Tapi, faktor lingkungan yang membawa mereka seperti ini. Karena semua bermula dari niat baik yang nyatanya disalahgunakan dengan kekuatan. Akhirnya, mereka gelap mata dan lebih memilih menguntungkan dirinya sendiri,” tutur Lizian mengembuskan napasnya panjang, lalu menyudahi acara makan siangnya dengan sudah tidak lagi terasa nikmat.
Sejujurnya, membicarakan masalah pekerjaan ketika makan memang tidak bisa dibenarkan. Karena akan ada beberapa perkataan yang bisa menghilangkan nafsu makan itu sendiri. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa lebih baik bersenang-senang ketika masih dalam waktu istirahat.
Sedangkan Rafif yang melihat sahabatnya kehilangan nafsu makan itu pun tersenyum geli. Lizian terkadang membingungkan, tetapi lelaki itu juga bisa menjadi begitu logis ketika membicarakan sesuatu. Teman yang begitu pas mendiskusikan masalah.
Tidak ingin melihat sahabatnya kelaparan, akhirnya Rafif pun bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan nampan makan siang yang masih tersisa cukup banyak membuat Lizian menatap sahabatnya penasaran sekaligus bingung.
“Raf, makan siang lo belum selesai!”
“Lama-kelamaan makan siang di kantin kehilangan selera gue. Ayo, kita cari tempat lain!”
“Ke mana lagi, Raf? Memangnya lo enggak ada kerjaan nanti?”
“Bisa dilakuin nanti. Sekarang kita mengharuskan isi perut agar bekerja lebih semangat.”
Tanpa mengindahkan jawaban dari Lizian lagi, akhirnya Rafif pun melenggang dengan santai membuat Lizian langsung bangkit dari tempat duduknya. Tentu saja ia hendak menyusul langkah kaki Rafif yang lumayan jauh.
Ternyata lelaki itu benar-benar berniat untuk mencari makan di luar tanpa mengindahkan timnya yang bekerja keras. Bahkan Rafif sama sekali tidak merasa bersalah ketika semua timnya makan di kantin, dirinya malah berada di luar mencari makan siang yang nyaman sekaligus nikmat.
Hal tersebut tidak luput dari perhatian Franky yang kebetulan sekali menyadari kehadiran Rafif ke kantin, tetapi menyadari bawahannya melenggang keluar meninggalkan makan siang membuat ia sadar. Bahwa Rafif benar-benar berbuat sesuka hati tanpa mengindahkan peringatan siapa pun.
Namun, untuk mengeluarkan polisi berbakat seperti Rafif jelas sangat merugi membuat atasan kepolisian metropolitan tidak bisa berbuat banyak, selain memperingatkan lelaki itu agar kembali tepat waktu ketika terjadi sesuatu pada kasusnya yang mendesak.
Akan tetapi, sampai hari ini Franky tidak pernah mendengar Rafif lalai dalam pekerjaannya. Meskipun lelaki itu bisa dikatakan begitu bebas dalam melakukan apa pun, serta menganggap kantor polisi hanya tempat bermainnya yang serius. Walaupun bekerja tanpa menginginkan uang