Sebuah taksi malam bercat hijau army itu tampak terhenti di sebuah perumahan yang terletak di pinggiran kota. Pintu penumpang bergerak keluar menampilkan kaki terbaluti sneakers putih bertali simpul yang rapi.
“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Veera tersenyum singkat sembari menutup mobil seperti semula, lalu melangkah menuju salah satu rumah yang terlihat sederhana.
Namun, saat berdiri di depan pintu gerbang, gadis itu tampak berhenti sejenak memperhatikan keadaan rumahnya yang terlihat berbeda. Entah kenapa ia merasa seperti ada seseorang yang masuk, karena letak kunci dan pengaitnya sudah terbuka begitu saja.
Secara perlahan Veera mendorong gerbang tersebut menimbulkan bunyi derit pelan yang menandakan usia sudah sangat lama. Membuat dirinya harus segera mengganti gerbang dengan yang baru agar lebih aman.
Kemudian, gadis itu membuka kunci pintu rumahnya yang ternyata sudah terbuka. Menandakan ada seseorang masuk ke dalam membuat gadis itu langsung mendobrak dengan cepat. Sampai tiba-tiba tatapan terpaku pada seorang lelaki yang memunggunginya tengah menatap berbagai figura foto.
Tentu saja saat Veera masuk menimbulkan suara cukup keras membuat beberapa penjaga yang berdiri di samping pintu langsung bersiaga membentengi seorang lelaki pemilik jabatan cukup tinggi.
Veera menatap tidak suka pada orang-orang berjas hitam yang mulai membuka jalan untuk dirinya ketika mendengar suara perintah dari belakang.
Dengan tatapan penuh waspada, Veera mulai melangkah mendekati seorang lelaki siluet yang mendudukkan diri di sofa sembari menatap kedatangannya.
“Kamu siapa!?” tanya Veera sedikit keras sembari menatap tajam pada sesosok lelaki yang tersenyum miring.
“Bukankah kita sudah bertemu tadi?” balas lelaki itu mencondongkan tubuhnya dengan menumpu pada siku tangan yang bersentuhan langsung pada lutut.
Sontak hal tersebut membuat Veera sedikit terkejut. Ia tidak percaya bahwa Ethan akan menghampiri kediamannya seperti ini. Akan tetapi, lebih mengejutkan lagi, dirinya tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang keadaan rumah asli miliknya, dan bukan apartemen lagi.
“Pak Ethan, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Veera perlahan mulai tenang dan mendudukkan diri di sofa panjang yang menjadi satu set pada tempat duduk Ethan.
“Tenang saja. Pimpinan Vald sudah menyetujui kontrak kerja yang kamu ajukan. Tapi, ada satu hal yang perlu kamu lakukan sebelum menjadi pengikut resmi LUCA,” jawab Ethan menyandarkan tubuhnya santai.
“Apa lagi yang harus aku kerjakan?” tanya Veera melipat kedua tangannya di depan d**a dengan bergaya pongah.
“Tidak banyak yang kamu lakukan, hanya memancing Rafif agar mengikuti setiap rute yang telah dijelaskan. Karena Pimpinan Vald membutuhkan Rafif dalam penelitiannya kali ini,” jawab Ethan perlahan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya.
Sejenak Veera membaca berkas tersebut dengan sesekali alis bertaut bingung, lalu memiringkan kepalanya tepat menutup map biru berisikan beberapa rincian yang hanya dimengerti oleh gadis itu sendiri.
“Aku bisa melakukan yang kamu minta, tapi ini cukup beresiko,” celetuk Veera menanggapi laporan yang baru saja dirinya baca.
“Mengapa? Bukankah hal yang mdauh hanya untuk mendekatinya saja?” sinis Ethan tertawa meremehkan gadis yang ada di ada di depanya.
“Aku tahu ini mudah,” jawab Veera mengangguk singkat, lalu kembali berkata, “Tapi, ini cukup mengejutkan untuk aku yang baru saja terlibat masalah dengan Rafif. Kamu perlu memberikanku waktu seminggu untuk menetralkan suasana. Karena aku baru saja bertengkar akibat Franky menyebabkan banyak masalah dan merugikan diriku sendiri.”
“Kalau begitu, kamu harus mencari caranya sendiri, Veera. Karena Bos Vald hanya menyampai hal ini tanpa memberi tahu kami apa yang harus kamu buat. Lagi pula kamu berhasil, maka akan ada banyak keuntungan yang didapat. Maka dari itu, lebih baik bertindak tanpa keraguan.” Ethan menatap santai pada gadis labil di depannya.
Sebenarnya mudah saja kalau hanya untuk menggoda para gadis yang menginginkan masa depan cerah. Karena tidak mungkin Veera akan menolak kesempatan sebesar ini hanya dengan alasan hati nurani saja. Sebab, tidak munafik semua orang menginginkan masa depan cerah.
“Baiklah. Aku akan mencari cara untuk Rafif!” putus Veera mengangguk mantap.
Kemudian, senyum puas tercetak di wajah Ethan membuat lelaki itu bangkit dari tempat duduknya sembari tertawa hambar beberapa kali. Dilihat lelaki itu tampak senang, tetapi di lain pula terlihat tidak suka.
Entah ini memang murni ekspresi lelaki itu atau hanya perasaan dirinya yang terlalu waspada terhadap orang asing. Sehingga memiliki banyak sekali keraguan dalam menerima seseorang.
Sepeninggalnya Ethan beserta beberapa pengawal bertubuh besar dengan jas hitam formal. Kini hanya tanggal Veera yang masih mendudukkan diri dengan setia di ruang tamu sederhana dan masih berdinding kayu.
Gadis cantik berkaus putih polos yang sudah meninggalkan hoodie abu-abu tergeletak di atas meja bersandingan dengan berkas pemberian Ethan tadi. Sebuah tumpukan kertas yang bisa mengubah hidupnya hingga seratus delapan puluh derajat.
Malam itu pun Veera habiskan dengan merenungi semua perkataan Ethan. Selain dengan alasan waspada, dirinya harus memikirkan secara matang agar tidak ada kontrak yang merugikan. Karena Veera jelas tidak tahu siapa ‘Pimpinan Vald’ yang dimaksud oleh Franky.
Namun, gadis itu hanya bisa berharap agar hidupnya segera berubah dan meninggalkan semua yang telah terjadi. Karena tidak ada yang bisa mengulang masa lalu, kecuali dirinya mau meninggalkan.
Di sela renungannya tiba-tiba ponsel Veera berdering pelan menandakan ada seseorang yang menghubunginya membuat gadis itu langsung meraih ponsel dari kantung hoodie.
Kening Veera berkerut sesaat ketika melihat nama sang pemanggil yang terpampang sempurna pada layar ponselnya membuat gadis itu menggeser tombol hijau dengan malas.
“Bagaimana kunjungan tadi, Ra?” Suara serak basah yang terdengar ringan itu pun menyapa pendengaran seorang gadis cantik.
“Lo yang ngasih tahu rumah gue di sini?” tebak Veera tidak suka.
“Salah besar. Pimpinan Vald itu selalu tahu, meskipun lo enggak ngasih tahu yang sebenarnya. Karena Pimpinan Vald punya segalanya untuk memberikan topangan hidup pada orang-orang yang tidak bisa meraih impiannya sendiri,” sanggah Franky tertawa pelan.
Veera yang mendengar hal tersebut hanya mengembuskan napasnya panjang, lalu menyandarkan tubuh setengah merebahkan diri di sofa panjang pemberian orang tua ketika masih berkuliah. Namun, sayang sekali mereka sudah tidak peduli lagi dengan dirinya membuat Veera harus berjuang sendirian di tengah kerasnya ibukota bagi seorang polisi tanpa relasi dan teman apa pun, selain Franky.