Setelah kembalinya dari dermaga, Veera langsung melangkah ke arah ruangan timnya yang berada di atas. Butuh beberapa menit sampai di sana menggunakan elevator yang sepi. Karena tidak ada satu orang pun yang ikut bersama dirinya membuat gadis itu melipat kedua tangannya di depan da*da sembari mengetukkan tumit sepatu pada dinding elevator.
Pintu elevator pun terbuka menampilkan seorang lelaki yang berposisi pas sekali menatap dirinya dingin mengintimidasi. Sontak hal tersebut membuat Veera mengernyit tidak mengerti, lalu melewatinya begitu saja.
Namun, belum lengkap gadis itu melangkah tiga kali, tiba-tiba seorang lelaki yang menatap Veera dingin itu pun berbalik sembari berkata, “Ternyata selain tidak tahu diri, lo juga kurang sopan santun.”
Mendengar hal tersebut alis Veera bertaut tidak suka, lalu membalas, “Apa maksud lo menyindir begitu saja gue?”
“Bukannya udah jelas kalau lo itu kurang sopan santun?” Lizian menatap sinis menghampiri gadis yang mengernyit tidak suka saat mendapat kritikan. Padahal memang benar gadis itu tidak memiliki sopan santun.
Seharusnya Veera tidak perlu berpura-pura bodoh atau pun tidak melihatnya saat Lizian berada tepat menghadap pintu elevator. Nyatanya gadis itu merupakan junior Lizian sewaktu sekolah di akpol. Membuat lelaki itu merasa tidak percaya, meskipun Veera pernah dikeluarkan akibat tidak pernah mengikuti semua pelajaran dengan baik.
“Veera, seharusnya lo itu sadar diri kalau di sini ternyata lo masih junior. Bukankah lo juga sering mendengar banyak perbincangan bahwa junior harus tetap menjaga hubungan dan menghormati senior-nya?” lanjut Lizian memasukkan kedua tangannya menantang.
Sontak hal tersebut membuat Veera mendesis tidak percaya. Ia memiliki pegangan kuat ketika mengetahui bahwa dirinya akan segera mendapat perlindungan dari Theo. Membuat gadis itu merasa sangat percaya diri melawan senior yang ada di depannya.
“Benarkah? Aku tidak peduli,” jawab Veera acuh tak acuh, lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
Lizian tersenyum miring melihat tingkah seorang gadis yang di depannya sangat percaya diri. Meskipun ia sudah tahu apa yang membuat Veera begitu tertantang membalas sindiran dirinya. Jelas saja Veera merasa sudah memiliki pembela di belakangnya. Sehingga dapat menetang semua orang dengan mudah.
“Kenapa lo terlihat begitu percaya diri?” tanya Lizian berpura-pura tidak mengerti. Walaupun lelaki itu hanya memanipulasi keadaan saja.
Veera memiringkan kepalanya sembari tersenyum mengejek, lalu menjawab, “Mengapa aku harus merasa terintimidasi dengan seorang senior yang seakan dirinya begitu tinggi sampai harus dihormati sedemikian rupa?”
“Baiklah, lo memang sangat percaya diri,” pungkas Lizian memejamkan matanya singkat diselingi dengan anggukan pelan, lalu membalikkan tubuhnya dengan santai.
Sementara itu, Veera terlihat menghentakkan kakinya kesal melihat Lizian begitu acuh tak acuh. Meskipun ia tahu dan menyadari bahwa lelaki yang ada di hadapannya tadi adalah seorang senior menyaksikan dirinya ketika dikeluarkan sekolah waktu itu.
Tidak ingin mengindahkan Lizian yang sempat membuat hatinya sedikit emosi, Veera pun berbalik melangkah menuju ruangan timnya. Tentu saja ia mendapat tugas tertentu membuat dirinya harus segera bergaung dalam rapat strategi yang diadakan oleh Rafif.
Sejujurnya sangat berat bagi Veera berada dalam satu ruangan lagi bersama Rafif, tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Selain membiarkan lelaki itu tetap berada di sisinya sampai ia mendapatkan banyak keuntungan.
Pintu ruangan bergerak membuat perhatian beberapa perhatian lelaki yang berada di dalam teralihkan. Mereka tampak memperhatikan Veera yang baru saja datang sembari mengernyitkan keningnya bingung.
“Maafkan aku terlambat, Ketua Tim!” sesal Veera menunduk dalam berpura-pura menyesal.
Semua yang ada di sana tampak menatap Veera penuh iba. Pasalnya baru kali ini gadis itu terlambat dalam pertemuan strategis, tetapi tidak dengan Rafif yang menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kemudian, memukul papan tulis untuk mengalihkan perhatian mereka kembali.
Sedangkan Franky yang melihat Veera masih berdiri tidak jauh dari pintu pun langsung mengkode untuk duduk di tempatnya lagi sembari mendengarkan dengan seksama strategi yang akan dijalankan oleh Rafif.
“Rafif, apa kamu yakin ini akan berhasil? Karena sampai hari ini tidak ada satu tim pun yang bisa melawan LUCA. Apalagi kamu yang baru saja dipindahkan dari tim penyidik pembunuhan,” celetuk salah satu lelaki yang kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya.
“Tentu saja akan berhasil karena aku sudah merencanakannya dengan sangat matang,” balas Rafif penuh percaya diri.
Akan tetapi, tanpa ada yang mereka sadari nyatanya Rafif hanya berbicara belaka. Karena diam-diam lelaki itu memiliki rencana lain dengan sahabatnya untuk meneruskan permasalahan yang akan segera berakhir di tangannya sendiri.
“Sudah, jangan dibahas berhasil atau tidaknya. Yang penting sekarang kita perlu memfokuskan diri seperti dikatakan Rafif. Rencana tidak akan terselesaikan ketika tidak adanya partisipasi yang dilakukan,” ucap Franky yang sejak tadi diam tak bersuara.
Membuat Rafif mengalihkan perhatiannya sejenak, entah lelaki itu tulus atau tidak mengatakannya. Namun, sebagai seorang anggota tim baru, Rafif harus menghormatinya. Karena belum terbukti dengan jelas bahwa Franky memiliki banyak relasi dalam organisasi gelap yang dilakukan oleh Theo.
Rapat pun bubar satu per satu dengan semua yang ada di sana menuju kantin untuk makan malam. Sebab, hari mulai gelap menandakan beberapa personil polisi membubarkan diri kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk Rafif.
Lelaki yang sudah tidak memiliki pekerjaan itu pun segera menjemput sang kaka. Memang sudah beberapa hari ini Regina selalu dalam pengawasan personil polisi. Kalau tidak Lizian yang menjemputnya, maka Rafif akan menjemput wanita itu.
Dengan mengklakson dua kali membuat Regina menoleh dan tersenyum lebar ketika melihat wajah sang adik terlihat dari dalam mobil. Membuat wanita itu langsung berlari masuk ke dalam, kemudian segera mengenakan sabuk pengaman.
“Bagaimana pekerjaan hari ini, Kak?” tanya Rafif membuka perbincangan di sela-sela heningnya dalam mobil.
“Lumayan berat,” jawab Regina mengangguk beberapa kali, lalu menyalakan radio yang kebetulan sekali tengah memutar playlist Korea-pop.
Salah satu lagu kesukaan Regina berjudul just as usual yang dipopulerkan oleh boygroup bernama EXO dalam album terbaru Don’t Fight The Feeling. Bahkan wanita itu ikut bernyanyi mengiringi suara setiap member yang berganti bait lagu.
Hal tersebut membuat Rafif menggeleng tidak percaya. Nyatanya sang kakak tidak memedulikan apa pun, selain terus bernyanyi dengan nada yang mengalun indah menenangkan jiwa akibat lelahnya bekerja tanpa henti.
“Oh ya, gue hampir lupa! Ada yang mau gue tanyain sama lo tentang Pimpinan Vald, Raf!” celetuk Regina tiba-tiba bersuara cukup kenang membuat Rafif yang asyik mengemudi langsung terkejut.
Untungnya lelaki itu tidak sampai mengerem mendadak. Sehingga tidak membahayakan pengemudi di belakangnya. Kalau hal itu terjadi, maka tamatlah sudah riwayat Rafif sebagai polisi. Selain SIM akan ditarik, dirinya jelas akan menerima skors cukup lama. Akibat kelalaian berkendara.