Deburan ombak menyapu secara menyeluruh permukaan air yang tampak tidak tenang. Saling bergejolak menghantap pinggiran dermaga yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau bernama lumut.
Jangkar besar yang berada di pinggiran pun tampak mati berkarat seiring dengan deburan ombak ketika pasang membasahinya. Sama seperti yang terjadi di hadapan Veera.
Gadis yang kemarin memfitnah Rafif itu tampak menatap penuh kebencian pada seseorang di hadapannya. Tangannya terkepal mengumpulkan semua emosi yang bergerumul di da*da dengan mengembuskan napasnya berulang kali.
“Franky, lo benar-benar sia*lan nyuruh gue memfitnah Rafif!!!” teriak Veera menyadari semua yang terjadi adalah ulah dari ketua timnya sendiri.
Namun, sayang sekali lelaki yang membelakangi gadis dengan emosi menggebu-gebu itu pun tampak tertawa pelan, lalu membalikkan tubuhnya tanpa meredakan tawa sama sekali.
“Jangan munafik, Veera! Gue udah tahu sejak lama kalau lo menyukai Rafif. Lagi pula semua yang lo lakukan ini akan dibalas dengan banyak pujian oleh Pimpinan Vald. Bukankah lo mau bekerja dengannya?” tutur Franky dengan penuh kelicikan.
Lantas, Veera pun menggeleng tidak percaya sekaligus miris melihat ketim tim yang selama ini menjadi panutannya malah berbuat semenjijikkan itu. Bahkan ia lebih tidak percaya lagi hanya demi mendapatkan kepercayaan, harus menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang perempuan.
Jelas saja semua perkataan itu membuat hati Veera tergelitik. Siapa pun pasti tidak akan ada yang menyangka bahwa Rafif melakukan hal tersebut, lebih lagi mengetahui bahwa mendapatkan kepercayaa sampai menjatuhkan harga diri.
“Semua yang lo lakuin ini belum sebanding dengan harga tawaran dari Pimpinan Vald, Veera. Jangan merasa tersakiti dulu. Karena setelah ini lo akan mendapatkan banyak uang dari dia,” sambung Franky bertambah menyeramkan.
“Gue merasa takut melihat lo benar-benar berbeda dengan Ketua Franky yang gue kenal. Ternyata selama ini lo hanya memanfaatkan para polisi yang bekerja susah payah hanya untuk menutupi kasus yang sebenarnya akan segera terendus,” kata Veera tertawa miris.
“Sudahlah. Lo enggak perlu marah-marah lagi sama gue. Sekarang lo mendingan tenangin itu pacar lo yang terlalu emosi,” sindir Franky tidak suka.
“Semua ini gara-gara lo!” kecam Veera hampir saja menangis.
Jujur saja, ia benar-benar merasa sangat kecewa. Bahkan untuk bertemu dengan Rafif, dirinya sudah tidak memilih wajah. Akan tetapi, hal tersebut lebih berat ketika dirinya harus memaksakan diri bekerja sama dengan seorang lelaki yang sudah ia fitnah sendiri.
Tentu saja Rafif bisa memproses dirinya secara hukum. Namun, sampai hari ini Veera tidak mendengar gugatan apa pun yang menyangkut dirinya. Entah Rafif akan memperkarakan atau tidak, justru hal tersebut membuat Veera semakin merasa cemas.
Menjadi seorang polisi penyelidikan selama beberapa tahun membuat Veera yang terbiasa tenang mendadak cemas. Gadis lulusan dari sekolah polisi itu tampak mengusap wajahnya kasar sembari menatap ke arah lain dengan benar-benar kecewa.
Kini sudah tidak ada orang lagi yang berada di dekatnya, termasuk kekasih dirinya sendiri. Karena lelaki itu langsung memutuskan untuk meninggalkan dirinya dan memutuskan kontak selama beberapa hari.
Hal tersebut membuat Veera merasa kelimpungan sendiri. Namun, ia segera menyadari perbuatannya yang benar-benar tidak bisa dianggap ringan. Karena ini menyangkut permasalahan internal kantor.
Lama kelamaan Franky menatap gadis yang ada di hadapannya berkaca-kaca pun mulai merasa kasihan. Ia memang tidak pernah bisa mengabaikan timnya sendiri. Akan tetapi, takdir memang selalu mempermainkan membuat lelaki itu tidak bisa melakukan apa pun, selain menuruti perintah dari atasan.
Relasi yang dimiliki oleh Theo tidak bisa dikatakan ringan. Lelaki pemimpin organisasi gelap LUCA tersebut memiliki banyak akses pada petinggi polisi lainnya. Membuat lelaki itu dapat dengan mudah lolos dari berbagai jeratan hukum.
“Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Lo akan mendapatkan masa depan lebih cerah di bawah pengawasan Pimpinan Vald. Tenang aja habis ini akan ada orang yang membawakan kontrak kerja sama untuk mengikat lo, termasuk membantu semua pencapaian lo di masa depan,” celetuk Franky merangkul tubuh gadis yang berusaha menahan air matanya.
“Apa lo yakin semua pencapaian gue di masa depan?” tanya Veera penasaran.
“Tentu saja!” jawab Franky cepat.
“Bahkan ketika gue melengserkan atasan kita sendiri?”
“Kalau itu bisa dibicarakan lagi. karena semua butuh proses dan pertukaran yang menguntungkan. Karena Pimpinan Vald juga enggak mau dirugikan begitu saja.”
Mendengar hal tersebut membuat Veera mendesis sinis, lalu menatap ke arah lain merasakan angin laut menyapu permukaan kulitnya yang berkeringat akibat emosi. Hampir saja dirinya meledak-ledak di hadapan Franky akibat kehilangan sang kekasih.
Namun, ketika mendengar dirinya akan mencapai banyak tujuan. Tentu saja hal tersebut cukup menggiurkan. Akan tetapi, ia tidak bisa percaya begitu aja. Pastinya ia membutuhkan bukti untuk memperkuat keputusan mengnai hal yang berkaitan dengan masa depan.
Tanpa keduanya sadari ternyata ada sorot mata dingin nan tajam yang bersembunyi di balik bangunan kecil penjaga dermaga. Emosi tersebut seakan hendak meluncur bebas, akibat dari perkataan yang benar-benar tidak terduga.
Bahkan Lizian yang ikut berada di samping Rafif pun merasa tidak percaya. Tentu saja mereka tahu siapa ‘Pimpinan Vald’ yang dimaksudkan. Karena di wilayah administrasi Jakarta Selatan, yang memiliki nama marga Vald hanya satu orang, dan itu adalah bos dari Regina. Pemilik perusahaan Valder Logistic, bergerak dalam pengiriman barang dalam dan luar negeri.
“Ternyata kecurigaan gue selama ini benar, Raf. Lo dipindahin begitu aja pasti memiliki maksud tertentu, dan sekarang kita tahu maksud Pak Andri yang sebenarnya,” celetuk Lizian tertawa pelan dan terdengar sinis.
“Dan gue lebih enggak percaya lagi ternyata pelaku dan dalang semua kejadian aneh di kantor polisi itu ulah Pimpinan Vald,” timpal Rafif tertawa miris sembari menyandarkan tubuhnya di bangunan penjaga yang terbengkalai tersebut.
Keduanya memang sudah puas mendengar perbincangan tadi. Sehingga tidak perlu mendengarkan lebih lanjut, yang isinya hanya masa depan rencana Veera. Namun, mereka belum mau beranjak, karena masih ingin mengetahui seseorang di balik kontrak nyawa yang selama ini menjadi kontrak paling meresahkan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam itu pun terhenti tepat di samping mobil jeep yang dibawa oleh Veera. Seseorang keluar dari sana dengan kacamata hitam bertengger di pangkal hidungnya sembari membawa tas tangan yang sudah dapat ditebak isinya adalah kontrak nyawa.
Veera yang awalnya berusaha menenangkan diri pun kembali gugup. Ia tidak percaya akan terjun ke dalam dunia gelap yang selama ini hampir menjadi kasus prioritas di kantor polisi. Semua berawal dari hilangnya kasus dan tiba-tiba dihapus dengan selesai tanpa syarat.