Setelah seharian penuh mencari kebenaran sekaligus petunjuk akan kecelakaan asing yang menimpa Zyrach itu pun mulai terasa transparan. Akan tetapi, Rafif merasa dirinya seakan meninggalkan sesuatu.
Sebab, Rafif menyadari ketika ia baru saja menyelesaikan wawancara dengan supir taksi yang memberikan banyak petunjuk. Entah kenapa dirinya baru menyadari ada sebuah mobil asing yang terus mengikuti secara perlahan dari belakang.
Hal tersebut menimbulkan semakin banyak kecurigaan. Apalagi selama ini kasus yang berkaitan dengan organisasi gelap LUCA mendadak dihapus dan diputuskan begitu saja. Tanpa mengindahkan kebenaran dan hukum yang berlaku.
Akan tetapi, hal tersebut tidak menyulutkan sesuatu yang sudah lama terpendam dengan baik. Dirinya memang datang hanya untuk meminta keterangan. Untuk selesai atau tidaknya masalah silam seperti ini, ia juga tidak memiliki pilhan lain.
Di sela-sela langkah kaki masuk ke dalam menuju ruangannya, tiba-tiba Rafif mendengar suara seseorang yang menghampiri dirinya sembari tersenyum lebar. Ternyata itu adalah Lizian yang membawa makanan di tangannya.
“Bagaimana penyelidikan tadi?” tanya Lizian memasuki ruangan sahabatnya yang terasa kosong.
“Gue udah mendapatkan namanya, yaitu Prakoso. Dia terlibat masalah pelecehan seksual di tempat kerjanya. Tapi, ada yang aneh saat gue melakukan banyak pertanyaan tadi. Karena bos taksi di sana seakan menghindari orang-orang mempertanyakan keberadaan Prakoso. Membuat semua masalah ini semakin menarik,” jawab Rafif mendudukkan diri sembari meletakkan jas dan tas tangan yang ia bawa sejak tadi.
“Oh, namanya Prakoso, ya? Gue sepertinya pernah mendengar nama supir taksi itu di sini,” gumam Lizian mengerutkan keningnya berusaha mengingat sesuatu.
“Seriusan, Zian!?” seru Rafif terkejut, lalu mencondongkan tubuhnya menatap Lizian penuh.
Lelaki itu tampak mengangguk seiring dengan kedua alisnya bertaut penasaran. Kemudian, mengerjapkan mata beberapa kali sampai tiba-tiba suatu kejadian terlintas di otaknya.
“Oh, iya benar! Prakoso itu dulunya supir taksi pesanan Veera, rekan kerja lo. Tapi, enggak tahu kenapa tiba-tiba dia enggak datang lagi ke sini, dan Veera udah memakai jasa pacarnya antar jemput,” celetuk Lizian mengangguk beberapa kali meyakinkan Rafif yang tersenyum miring tidak percaya.
“Veera, ya?” gumam Rafif menyentuh dagu tegasnya, lalu bangkit dari tempat duduk.
Sontak hal tersebut pun membuat Lizian yang menatapnya ikut bangkit. Jelas saja lelaki itu terkejut sekaligus penasaran sahabatnya begitu aneh sejak kejadian di mana Zyrach kecelakaan. Meskipun mereka berdua berada di kantor yang sama, tetapi tidak sekalipun mereka bisa bertemu.
“Lho, Raf, lo mau ke mana lagi? Gue baru bawain makan siang,” tanya Lizian mengembuskan napasnya pelan.
“Gue mau ke ruangan dulu,” jawab Rafif hendak menyentuh handle pintu, tetapi mengurungkan niatnya ketika mendengar sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Lizian.
“Veera baru aja pergi pas gue beli makan siang. Lo telat ke sana. Dia kelihatan buru-buru juga, pasti enggak akan sempat dikejar.”
Rafif melebarkan matanya. “Dia pergi sama siapa?”
“Sendirian aja pakai mobil kantor.”
“Ada sistem GPS di mobil itu?”
“Sepertinya ada, dia pakai mobil kantor. Mungkin kalau lo lacak pakai nomor plat pasti akan ketemu.”
“Lo ingat nomornya berapa?”
“Kalau enggak salah B 3871 FAS tipe mobil jeep warna abu-abu yang sering lo pakai itu.”
“Oh, benar. Itu mobil khusus tim investigasi.”
Setelah itu, Rafif benar-benar mengurungkan niatnya. Lelaki itu malah mengambil sesuatu dari dalam loker meja kerjanya. Sebuah laptop minimalis terlihat berlogo polisi tingkat metropolitan membuat Lizian mengembuskan napasnya panjang. Entah kenapa ia merasa iri melihat Rafif kembali mengeluatkan benda tersebut.
“Kalau lo pakai laptop ini gue jadi ingat semasa kita masih nangani kasus, Raf. Semuanya benar-benar sempurna sampai kita mendapat penghargaan dan naik jabatan bersama.”
Sebenarnya, bukan hanya yang dikatakan oleh Lizian saja mengenai kenangan pada laptop ini. Karena mereka berdua jelas melakukan banyak hal, salah satunya hampir terbunuh bersama saat menangkap bandar n*****a di dermaga terbengkalai.
Akan tetapi, ilmu bela diri Rafif yang jauh di atas rata-rata dan dipadukan dengan keberuntungan milik Lizian. Jelas mereka berdua bisa menjadi tim yang begitu memakai. Sehingga mereka berdua langsung dipindahtugaskan menjadi kepolisian metropolitan dibandingkan patrol.
Sejenak Rafif memasuki akses pencarian nomor plat yang baru saja dikatakan oleh Lizian. Membuat sebuah daftar terpampang begitu rinci menampilkan mobil sekaligus tujuan dan pergerakan tersebut.
“Ternyata Veera menuju dermaga Tanjung Priok,” gumam Rafif mengusap wajahnya kasar.
“Hah? Ngapain di sana?” tanya Lizian bangkit dan menatap penasaran pada layar laptop di depannya.
“Gue juga enggak tahu, tapi dia enggak sendiri, Zian. Ada seseorang yang menemaninya.”
“Siapa?”
“Sayangnya gue belum bisa melihat itu, karena kebetulan banget mobilnya bekas gue pakai. Dan sekarang, dashcam yang ada di sana gue copot.”
“Astaga, Raf, lo emang bo*doh! Bagaimana bisa lo copot dashcam milik kantor.”
“Mana gue tahu, Zian. Karena gue pikir enggak akan ada yang pakai mobil itu, selain gue. Jadi, sewaktu gue balik dari Rainbow Night Club, itu dashcam gue copot buat mengetahui apa aja yang terjadi ketika gue pergi.”
“Apa yang terjadi?”
“Biasalah, banyak banget orang yang having se* dan hot kiss*ng bersandar di depan mobil kantor. Untung aja mereka enggak bersadar di kap mobil yang gue bawa secara langsung. Karena hal itu jelas akan mengganggu pemandangan yang udah gue set up secara menyeluruh.”
“Gue juga enggak bisa ngebayangin lo bisa menonton video begitu di kantor, Raf. Sudah pasti lo bakalan kena sama yang namanya kejahatan asusila.”
“Up, Regina pasti bakalan kecewa bangat. Kalau gue ngelakuin itu di usia yang memang sudah siap untuk menikah, tapi tetap aja Regina belum menikah. Dan gue harus sadar menahan diri.”
“Enggak apa-apa sekali mencoba, Raf. Karena semua lelaki itu wajar merasakan hal pemuas di hadapannya. Apalagi tanggal memilih siapa pun yang akan menjadi teman.”
“Friend with benefit maksud lo?”
“Sebenarnya, untuk ukuran profesi seperti kita free se* itu hal yang mustahil, Raf. Tapi, kadang gue masih aja nemu beberapa orang di lain departemen sedang melakukan sesuatu di kamar mandi ataupun asrama. Alhasil, banyak yang terganggu termasuk gue.”
“Walau bagaimanapun juga, setiap tindakan lo itu menuntut hukum, Zian. Jadi, wajar aja polisi dan militer negara sulit mendapatkan apa yang mereka inginkan, kecuali memang nekat. Tentu semua tindakan akan ada balasannya, termasuk meminta pertanggung jawaban ketika terjadi sesuatu tidak terduga.”
“Nah, itu dia! Makanya gue malas berkencan, meskipun banyak di luaran sana yang suka sama gue. Meskipun dengan embel-embel polisi.”
“Ya udah, sekarang kalau mau kencan mendingan lo tunda aja dulu. Jangankan kencan, buat ngurus diri saat ada banyak kasus aja sulit. Jadi, jalau belum kuat hati gue sarankan jangan. Sebelum lo merasa stress apa yang telah terjadi,” pungkas Rafif diselingi senyuman tipis yang terkesan memaksa.