Selama seharian penuh Rafif benar-benar berkutat dengan rekaman kamera pengawas yang baru saja diberikan oleh Lizian. Nyatanya lelaki itu mendapatkan rekaman kamera pengawas lainnya yang menangkap tepat mobil penabrak Zyrach masuk ke pekarangan.
Namun, sayang sekali plat mobil yang digunakannya ternyata palsu membuat penyelidikan sedikit terhambat akibat kurangnya personil penyelidikan. Bahkan Rafif sama sekali tidak bercerita pada sahabatnya.
Akan tetapi, mata jeli dengan ketelitian Rafif benar-benar di luar manusia normal membuat lelaki itu mengernyitkan keningnya dalam ketika tanpa sengaja melihat siluet sisi wajah seseorang yang tanpa sengaja menembus jendela mobil.
Dengan menghentikan rekaman tersebut, Rafif mulai menggambar sisi wajah orang tersebut secara abstrak. Karena setelah ini dirinya hendak mencari seseorang yang bisa memperjelas sketsa tersebut.
Saat Rafif telah menyelesaikan gambarannya dan bersiap keluar dari ruangan tiba-tiba Lizian datang membawa dua cup coffee panas menatap bingung pada Rafif yang berdiri sembari mengenakan jaket kulit berwarna hitam polos tersebut kembali.
“Lho, Raf, mau ke mana? Baru aja gue mau nganterin kopi panas buat lo,” tanya Lizian mengernyit tidak percaya.
“Gue mau ke suatu tempat dulu. Nanti kalau gue belum kembali, tolong jemput Regina, ya. Dia agak parno, jadi enggak bawa mobil,” pinta Rafif sembari terus menyibukkan diri menyelipkan pisau lipat, pistol, dan alat setrum yang biasa digunakan para polisi patrol.
“Enggak masalah. Tapi, lo harus berhati-hati, Raf. Jangan lupa bawa kopi ini biar enggak ngantuk di jalan,” balas Lizian mengangguk ringan dan meletakkan cup tersebut pada meja sahabatnya yang tampak kosong.
Rafif mengangguk singkat, lalu berlari keluar dengan gerakan terburu-buru membuat Lizian tersenyum tipis. Ternyata setelah lelaki itu pindah departemen membuat mereka berdua jarang sekali mempunyai waktu untuk mendiskusikan kasus. Alhasil, Lizian kini hanya diam menatap layar komputer mati di hadapannya.
Sementara itu, di sisi lain Rafif tengah mengambil kunci mobil dinas khusus departemen kejahatan. Sehingga lelaki tampan berpakaian serba hitam itu pun mulai mengeluarkan mobil Range Rover.
Tentu saja Rafif tidak ingin membahayakan diri dengan mengenakan mobil pribadinya sendiri. Selain meminimalisir terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan, lalu menyereta sang kakak ke dalamnya. Hal yang semata menjadi mimpi buruk akan segera terjadi.
Rafif mulai menjalankan mobil tersebut menuju lokasi yang telah ditandai oleh seseorang. Kepergiannya kali ini benar-benar begitu mendadak membuat Jarvis tidak bisa melakukan apa pun, selain menuntun kepergian lelaki itu ke tempat yang segera dituju. Bahkan Rafif menyempatkan diri untuk memberikan pesan singkat.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Rafif pun sampai di sebuah gedung terbengkalai kini berubah menjadi tempat supir panggilan sekaligus taksi yang dipesan untuk melayani beberapa pemabuk.
“Permisi, Bos, saya ingin bertanya sedikit,” ucap Rafif membungkuk sopan pada pria paruh baya berperut buncit tengah menghitung sesuatu di bukunya sembari sesekali mengernyit dalam.
Perkataan Rafif tadi membuat lelaki paruh baya tersebut mengangkat kepalanya, lalu bertanya dengan nada kurang santai, “Mau apa lo datang ke sini? Nyari kerjaan? Enggak ada!”
“Bukan, Bos! Saya bukan mencari pekerjaan,” jawab Rafif menggeleng cepat.
“Terus? Lo mau ngapain ke sini?” tanya lelaki paruh baya itu mulai menutup buku yang diyakini adalah penghasilan dari beberapa karyawan di bawahnya.
“Uhm ... saya cuma mau tanya, Bos kenal supir ini?” Rafif menunjukkan sebuah foto seorang lelaki siluet dari dalam mobil.
“Enggak kenal,” jawab lelaki paruh baya tersebut santai.
“Tapi, dia bekerja di sini, ‘kan, Bos? Beberapa hari yang lalu saya melihat dia mengendarai mobil masuk ke sini,” ucap Rafif bersikeras.
“Sebenarnya, lo nyelidiki dia buat apa? Gue udah enggak ada hubungannya. Lagi pula dia udah pulang kampung gara-gara keluarganya hampir dibakar hidup-hidup ketika sibuk mengelola perkebunan,” balas lelaki paruh baya itu mulai melunak.
“Dibakar? Mengapa bisa itu terjadi?” tanya Rafif terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sesosok lelaki yang dihormati sama sekali tidak memberikan tauladan baik. Membuat satu per satu kasus mulai terungkap.
“Enggak ada yang berani cerita seperti ini. Karena mereka kebanyakan takut sama Bos Vald. Jadinya, akan lebih baik jika diantara mereka berdua tidak saling menghubungi. Karena masa kontrak kerja telah habis membuat mereka berdua melakukan hal yang begitu merepotkan.”
Rafif mengangguk mengerti. Ia jelas tahu bagaimana sistem pekerjaan dengan penghasilannya sama sekali belum menuyanggupi itu memiliki rahasia yang cukup kuat. Terlebih lagi karyawannya begitu menghargai mata panda pada seseorang yang sudah berjuang keras demi mengumpulkan satu per satu bukti mengarah pada Vald.
“Kalau begitu, aku pergi dulu, Bos!” pamit Rafif melenggang pergi begitu saja.
Namun, saat lelaki itu hendak keluar dari barikade memulai pertempuran. Mungkin akan membutuhkan waktu jauh dengan jarak yang waktu singkat.
Akan tetapi, nasib baik sedang menghampiri Rafif membuat lelaki itu tanpa sengaja menabral mobil tersebut akibat pertengkaran mereka. Membuat beberapa orang tersebut menatap kedatangan Rafif penasara,
“Permisi, Pak, saya ingin bertanya. Apakah dari kalian semua pernah melihat siluet orang ini?” tanya Rafif mulai kesal menggunakan pendeteksian suara yang sedikit merepotkan. Karena hal tersebut cukup mengganggunya untuk mendengar jawaban dari mereka.
Salah satu lelaki paruh baya itu mengernyit penasaran, lalu menjawab, “Bukankah itu Prakoso? Supir baru yang ternyata kecopetan ketika melakukan pekerjaannya.”
“Apa maksudnya, ya?” tanya Rafif mendadak tidak mengerti.
“Sebenarnya, beberapa hari lalu, Prakoso memang sempat bekerja di sini. Tapi, karena kelalaiannya bekerja. Lelaki itu malah kehilangan mobil taksinya yang sengaja disewakan akan bertanggung jawab. Pada saat yang bersamaan pula bos mendengar Prakoso kehilangan mobil sewaannya itu pun marah besar, dan langsung mengusirnya detik itu juga,” papar seorang lelaki paruh baya dengan keriput mulai memenuhi wajahnya.
“Kamu benar! Prakoso membawa banyak sekali masalah di tempat ini. Bukan hanya kelalaiannya saja, tetapi juga hatinya. Di sini memang ada beberapa pelayan gadis yang mengantarkan makanan. Memang pada saat itu, posisi sedang hujan dan membutuhkan kehangatan. Prakoso-tua Bangka yang tidak tahu diuntung itu malah melecehkan salah satu pelayan gadis membuat orang tuanya datang ke sini dan melakukan pembalasan atas apa yang telah dilakukan.”
Seketika Rafif yang mendengar penjelasan tersebut merasa miris sekaligus tidak percaya. Namun, motif mencelakai Zyrach belum ia ketahui membuat dirinya tidak bisa mengatakan apa pun, selain terus menerima semua cerita dari beberapa lelaki paruh baya yang sangat terbuka.
Padahal bosnya saja sudah menghindar, tetapi namanya rumput tetangga memang lebih menarik daripada milik sendiri. Membuat mereka memaparkan apa yang telah terjadi dengan seadanya.