Rafif memajukan kursinya, lalu meletakkan alat perekam tepat di sampingnya. Sedangkan wanita cantik yang kini tampak professional itu merapikan sedikit rambutnya sembari tersenyum tipis. Kemudian, berdeham pelan.
“Selamat siang, Nona Regina. Izinkan aku bernama Rafif meminta jawaban atas semua pertanyaan yang akan terlontar nanti. Apa kamu tidak keberatan?” ucap Rafif memulai pembicaraan.
“Tidak. Silakan dimulai,” balas Regina menggangguk singkat.
Rafif mengeluarkan catatan kecil yang berada di saku pakaiannya, lalu berkata, “Sejak kapan kamu bekerja di sini?”
“Sejak lulus dari Universitas Pionir Nusantara. Waktu itu, Valder Logistic membuka lowongan yang kebetulan sekali sesuai dengan kriteria aku miliki hingga sekarang,” jawab Regina menatap ke arah lain sembari mengingat di mana dirinya masih sangat baru untuk menerima banyak pengalaman dari karyawan lain.
“Cukup lama untuk ukuran seorang wanita yang sudah bekerja selama lebih dari sepuluh tahun di sini,” gumam Rafif mengangguk beberapa kali. “Lantas, apa kamu menemukan hal aneh di sini? Semacam pengiriman yang dirahasiakan sampai beberapa klien atau audit datang secara tidak teratur.”
Sejenak Regina terdiam mendengar pertanyaan yang cukup menyentil sisi dalam perusahaannya. Akan tetapi, ia harus memberikan jawaban yang memuaskan, meski akan ada konsekuensi yang ia dapat ketika hal ini diketahui oleh orang lain.
“Sebelum menjawab, izinkan aku bertanya, apakah semua rekaman ini akan diekspose langsung? Aku sedikit berjaga-jaga jika terjadi sesuatu ke depannya.” Regina menatap sang adik dengan ekspresi penuh iba membuat lelaki itu mengembuskan napasnya panjang.
“Tenang saja. Identitas pewawancara tidak akan terekspose secara langsung, mengingat polisi akan terus memberikan pengawasan pada orang-orang yang telah memberikan bukti secara konkret,” balas Rafif mantap sekaligus professional. Ia tidak pernah membeda-bedakan siapa pun, termasuk sang kakak dengan orang lain.
“Baiklah, kalau begitu aku merasa jauh lebih tenang.” Regina tersenyum tipis, lalu mengangguk seakan memberi kode pada sang adik bahwa ia telah siap kembali.
“Beberapa waktu lalu, memang sempat ada barang datang yang cukup mencurigakan. Karena tidak ada satu pun laporan yang datang ke sini. Padahal semua barang masuk dan barang keluar selalu aku sahkan untuk dimasukkan ke dalam arsip, tetapi pada hari itu sama sekali tidak ada yang membawanya. Bahkan ketika aku menanyakan langsung pada bagian penerimaan, mereka malah tidak begitu yakin menjawab semua pertanyaanku.”
“Lalu, apa yang terjadi setelah itu, Nona Regina?” tanya Rafif terdengar mendesak sekaligus cemas.
“Aku hanya seorang karyawan yang menginginkan hidup tenang di suatu departemen, jadi ketika mendadak barang tersebut hilang. Aku langsung melaporkannya pada Pimpinan Vald. Namun, dia malah bersikap biasa saja seakan hal tersebut tidak akan membawa perusahaan pada kerugian,” jawab Regina mengangguk pelan. Ia masih ingat secara detail pada kejadian yang hampir saja membuat dirinya merasa sangat dirugikan.
“Setelah itu, apa yang terjadi?”
“Sampai hari ini tidak ada lagi yang bertanya ataupun mencari informasi ke mana perginya barang tersebut. Hingga tanpa sadar mulai dilupakan dan beberapa karyawan juga tampak acuh tak acuh.”
“Apa ada kejadian lain lagi?”
“Tidak ada. Hanya itu saja.”
“Baiklah, terima kasih atas kesediaannya melakukan wawancara hari ini. Jika terjadi sesuatu harap cepat menghubungi polisi. Karena semua identitasmu sudah dirahasiakan dan dijaga dengan baik.”
“Senang bekerja sama denganmu,” putus Regina tersenyum tipis.
Setelah itu, rekaman pun selesai dengan Regina menyandarkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Ternyata hanya wawancara seperti ini saja cukup menegangkan. Membuat wanita itu memejamkan matanya menikmati udara dingin yang sempat hilang akibat wawancara tadi.
Rafif tersenyum geli melihat sang kakak yang cukup terbebani. Wajar saja wanita itu merasa tegang. Karena siapa pun akan merasakan hal yang sama ketika diwawancarai oleh seorang polisi mengenai permasalah seperti ini.
“Lelah, Kak?” tanya Rafif menyandarkan tubuhnya sembari menggoyang-goyangkan kursinya kecil.
“Lumayan,” jawab Regina menggeleng pelan. “Baru kali ini wawancara berat. Bahkan ketika gue ngelamar enggak sampai seperti ini.”
“Tenang aja. Wawancara tadi akan menjadi rahasia, dan hanya departemen gue aja yang tahu,” ucap Rafif menjelaskan kekhawatiran sang kakak tadi. Sebab, ia bisa melihat bagaimana wanita itu tidak ingin terlibat apa pun di dalam hidupnya.
“Raf, kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang mau lo selidiki? Sampai nanya ada hal aneh apa di sini,” tanya Regina penasaran.
“Bukan masalah besar, Kak. Tapi, membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak,” jawab Rafif mengangguk beberapa kali.
“Oh, ya udah. Lo harus hati-hati. Masalahnya yang sekarang lo singgung itu bos gue, jangan sampai permasalah lo sama dia malah ngaruh dengan pekerjaan gue. Karena gue masih membutuhkan uang,” ucap Regian menatap serius sekaligus memberi Peringatan pada adiknya agar tetap berhati-hati.
Rafif tertawa pelan. “Kapan lo punya pacar lagi, Kak? Finansial? Udah mapan. Rumah? Jangan ditanya, bahkan lebih besar daripada yang kita tinggali. Uang? Lumayanlah bisa hidup selama beberapa tahun tanpa bekerja sama sekali. Paras? Oke banget. Tapi, kenapa lo selalu gagal dalam hubungan, ya, Kak?”
“Entahlah, Raf. Lama-kelamaan gue capek sendiri ngurusin masalah ini. Memang akan ada saatnya semua orang untuk menikah, tapi kalau dipikir-pikir. Sekarang lebih baik gue ngurusin diri sendiri dan Mamah yang masih berada di Sanatorium,” jawab Regina mengembuskan napasnya panjang dengan sedikit bersuara. Menandakan wanita itu benar-benar lelah terhadap kehidupannya sendiri.
“Gue jodohin mau, Kak?” tawar Rafif mengerling penuh minat.
“Sama siapa?” tanya Regina mengernyit bingung.
“Lo mau sama siapa? Perwira Jarvis? Lizian? Atau sama Pak Andri?”
“Sebentar ... Pak Andri bukannya atasan lo dulu? Perut buncit dengan mata keranjang? Up skip dulu aja. Gue mendingan nyari yang lain.”
“Terus, lo maunya sama siapa?”
“Perwira Jarvis? Sebenarnya, oke juga sih dia. Tapi, gue ngerasa kurang yakin, Raf. Kalau Lizian, sepertinya lo harus benturin kepala gue dulu. Karena suka sama orang yang jauh lebih muda itu membutuhkan mental lebih kuat. Jadi, gue rasa, gue belum siap.”
“Kalau begitu, lo harus menjomlo, Kak.”
“Enggak masalah. Gue bakalan jomlo asalkan lo juga tetap menyendiri. Karena kurang adil rasanya kalau lo nikah duluan daripada gue.”
“Tenang aja, Kak. Gue masih waras buat nikah duluan daripada melihat kakak sendiri putus asa dengan kesendiriannya.”
“Bagus. Seharusnya lo bantuin gue doa biar cepat punya jodoh. Jadi, gue enggak akan minta lo pulang tepat waktu, apalagi pekerjaan lo ini cukup merepotkan dan menyita banyak waktu.”
“Baiklah. Terima kasih, Kakak. Semoga kita bisa menikah secara bersama-sama dan membuatnya pun bersama-sama.”
“Jangan ngaco!” sinis Regina mendesis pelan.