Permasalahan tidak terduga kemarin benar-benar memberikan efek tersendiri bagi Rafif dan Veera. Bahkan sepanjang mendiskusikan kasus, keduanya sama sekali tidak saling melontarkan candaan membuat suasana cukup canggung.
“Rafif, bagaimana menurutmu dengan perkembangan kasus ini?” tanya Franky menatap serius pada bawahannya yang tampak menatap serius pada papan kasus di depannya.
“Kalau memang tidak terbukti LUCA memiliki hubungan dengan perusahaan lainnya, maka satu-satu petunjuk yang kita punya hanya pada Valder Logistic. Menurutku, kita perlu melakukan penyelidikan di sana secara diam-diam sebelum meminta surat resmi pada kejaksaan,” jawab Rafif menunjuk beberapa foto yang saling terhubung satu sama lain, tepat mengarah pada sebuah bangunan mewah bernuansa cukup nyetrik.
“Baiklah. Aku setuju dengan semua ucapanmu, tapi siapa yang akan datang ke sana?” putus Franky menatap beberapa bawahannya yang saling melemparkan pandangan.
“Aku pikir Rafif dan Veera sebaiknya datang ke sana untuk melakukan penyelidikan lebih dulu, sebelum akhirnya datang bersama beberapa personil polisi untuk penangkapan,” usul seorang lelaki yang sama sekali tidak mengetahui bahwa tadi baru saja terjadi suasana cukup menegangkan.
Veera yang mendengar usulan tersebut langsung melebarkan matanya tidak percaya, lalu menatap ke arah Rafif yang terlihat menyandarkan tubuhnya tenang sembari memainkan spinning pen.
“Tidak!” tolak Rafif cukup mengejutkan membuat semua pandangan mengarah pada lelaki tersebut.
Melihat raut wajah keterkejutan dari beberapa rekan kerjanya membuat Rafif buru-buru meneruskan perkataannya. “Maksudku, lebih baik tidak ada gadis yang datang ke sana. Karena lebih aku saja yang datang seorang diri.”
Franky mengangguk pelan. “Aku setuju. Memang sebaiknya Veera tidak ikut penyelidikan ini dulu. Karena mengingat kejadian tadi, aku rasa kamu perlu menenangkan diri selama beberapa hari.”
“Kejadian tadi? Apa ada sesuatu yang tidak kami ketahui?” tanya rekan kerja lainnya kebingungan.
Rafif menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Ayo, kita harus segera bekerja agar cepat selesai!”
Setelah itu, satu per satu dari mereka pun mulai keluar dari ruangan, termasuk Rafif yang langsung mengenakan jaketnya kembali. Lelaki itu sama sekali tidak menatap Veera yang jelas-jelas menatap dirinya dengan pandangan sulit diartikan.
“Ketua Franky, aku pergi dulu!” pamit Rafif melenggang pergi begitu saja.
Entah kenapa sejak kejadian tadi, Rafif merasa dirinya harus tetap waspada. Karena Jarvis sudah mengingatkan pada dirinya untuk berjaga-jaga jangan sampai terjebak pada sesuatu yang bisa merugi. Namun, Rafif sendiri merasa tidak seharusnya ia menjaga jarak pada rekan kerja.
Akan tetapi, siapa pun jelas bisa mengerti bahwa perasaannya masih sangat terganggu akan kejadian tadi. Apalagi Veera sama sekali tidak mengakui penyesalannya telah membuat pengakuan yang menimbulkan tipu muslihat.
Tanpa pikir panjang, Rafif mulai menjalankan mobilnya menuju tempat yang kini menjadi penyelidikan terakhir. Ia datang seorang diri tanpa ditemani siapa pun. Jika saja kejadian tadi tidak terjadi, mungkin dirinya akan datang bersama Veera. Mengingat gadis itu adalah rekan kerja pertamanya yang begitu terbuka dan antusias.
Namun, ingat lagi jangan berharap pada manusia jika tidak ingin dikecewakan. Kini Rafif benar-benar merasa kecewa sekaligus sakit hati akan tuduhan yang tidak mendasar tersebut. Untung saja kala itu tidak ada sang kakak. Jika ada, mungkin akan terjadi sesuatu yang lebih tidak terduga.
Sesampainya di sebuah perusahaan yang bergerak dalam pengiriman barang, Rafif turun dari mobil, lalu melenggang masuk menemui resepsionis cantik sembari menatap dirinya antusias. Di manapun dan kapapun keberadaan Rafif akan selalu menjadi pusat perhatian.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya wanita itu tersenyum manis sembari berpura-pura menyelipkan anak rambutnya ke belakang.
“Pimpinan Vald,” jawab Rafif singkat.
“Maaf, Pimpinan Besar sedang tidak ada di sini,” sesal resepsionis itu mengembuskan napasnya berat.
Namun, baru saja Rafif hendak berkata, tiba-tiba seseorang memanggil dirinya. Membuat lelaki itu membalikkan tubuh dan menatap seorang wanita cantik tengah membawa beberapa berkas di tangannya dengan kernyitan kening yang tercetak jelas.
“Ngapain lo di sini? Nyari gue?” tanya Regina bingung.
Sedangkan resepsionis tadi terlihat menatap mereka berdua tidak percaya sampai salah satu temannya berbisik membuat wanita itu mengangguk beberapa kali, lalu duduk sembari memperhatikan keduanya berbincang ringan.
“Enggak, Kak. Gue ada urusan sama Pimpinan Vald,” jawab Rafif menggeleng pelan mendengar pertanyaan sang kakak.
“Oh, Pimpinan Vald baru saja selesai meeting dan terbang ke Skotlandia. Kalau lo ada urusan penting, mungkin sekitar tiga hari lagi baru ada di sini.”
“Kalau begitu, gue nanti temuin lagi,” putus Rafif mengangguk singkat. “Oh ya, lo masih sibuk, Kak?”
“Lumayan, tapi kalau lo mau mampir ke ruangan gue juga enggak masalah,” jawab Regina tersenyum ringan, lalu mengajak adiknya untuk masuk ke dalam.
Tentu saja sebagai seorang kakak, ia tidak mungkin membiarkan adiknya kembali begitu saja. Apalagi hari ini sudah hampir dekat dengan waktunya makan siang. Membuat mereka berdua bisa menghabiskan waktu cukup lama.
Langkah mereka berdua terhenti di sebuah ruangan tertutup rapat membuat Regina membuka kunci dan mempersilakan Rafif masuk ke dalam. Wanita itu terlihat menaruh beberapa berkas bawaannya tadi pada lemari yang berada di belakang, lalu duduk tepat di hadapan Rafif. Tepat pada meja kerjanya.
“Raf, gue yakin lo ke sini ada urusan penting dan mengandung pekerjaan. Apa yang terjadi? Lo bisa tanya sama gue, karena lo tahu sendiri gue lumayan lama kerja di sini. Dan, semua seluk beluknya udah tahu,” ucap Regina menautkan jemarinya serius.
“Sebenarnya, gue enggak mau cerita, Kak. Tapi, kasus ini sangat penting dan harus tetap dijaga kerahasiaannya. Namun, karena lo bersedia diinterogasi. Bagaimana kalau nanti lo datang ke kantor, Kak? Di sana ada beberapa rekan kerja gue yang bertugas,” balas Rafif meringis pelan.
“Jadi, lo enggak mau interogasi gue sendiri, begitu?” sindir Regina dengan ekspresi kesal.
“Bukan begitu, Kak. Gue cuma enggak mau lo kena masalah hanya karena membuka semua rahasia perusahaan,” sanggah Rafif menggeleng beberapa kali.
“Enggak masalah. Semua yang ada di sini udah jadi rahasia umum. Mungkin hanya karyawan yang tahu, bukan orang luar,” balas Regina berusaha meyakinkan adiknya.
“Yakin lo bongkar semua yang gue tanyain nanti, Kak?” tanya Rafif mulai ragu.
“Sure. Gue jawab apa pun semampu gue,” jawab Regina tersenyum ringan sembari mengangguk pelan.
“Baiklah. Karena ini kesukarelaan lo, maka gue enggak sungkan lagi, ya, Kak.” Rafif tersenyum senang, lalu mengeluarkan sebuah perekam suara dari kantung pakaiannya. “Gue mulai, Kak! Bersiap-siap karena gue cuma akan merekam ini satu kali. Usahakan lo bicara semampu lo aja, jangan ada yang dibuat-buat.”
“Siap!” balas Regina mantap.