“Raf, lo ke mana sama Veera?”
Terlihat seorang lelaki berwajah merah menahan amarah itu menatap Rafif berapi-api. Lelaki itu mengepalkan tangannya membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut tampak terkejut, lalu menatap menuntut meminta penjelasan.
“Apa maksudnya? Gue sama Veera memang semalam berada di sini makan malam, tapi habis itu dia langsung ke asrama,” jawab Rafif mengernyit bingung sekaligus tidak mengerti.
Franky menghampiri Rafif, lalu merangkul pundak lelaki itu dengan mengeratkan beberapa saat. Lalu, menatap penuh serius, seakan bisa mengulitinya hidup-hidup.
“Lo jujur saja kita, Raf. Veera udah cerita semuanya.”
“Hah? Cerita apa?” tanya Rafif semakin tidak mengerti.
“Lo berusaha menggoda pacar gue, ‘kan!?” bentak lelaki asing yang berwajah penuh amarah tersebut.
Mendengar hal tersebut, Rafif langsung menoleh ke arah gadis yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tentu saja ia ingin meminta penjelasan tentang semua orang yang telah menyerang dirinya begitu saja.
“Ra, maksudnya apa lo bilang begitu sama semua orang?” tanya Rafif melebarkan matanya tidak percaya sekaligus melucu. Baru kali ini dirinya mendapat sebuah masalah yang kurang masuk akal.
Sedangkan Lizian yang berada di sana pun tampak terkejut, dan tidak percaya. Jelas selama lelaki itu bersahabat dengan Rafif, tidak pernah sekalipun sahabatnya melakukan hal-hal yang merugikan. Apalagi sampai melakukannya di kantor. Hanya orang bodoh yang menyangka hal tersebut akan terjadi.
“Udah ngaku aja, Raf. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi,” ucap Veera menahan getaran di dalam perkataannya sendiri.
Kali ini Rafif tidak bisa menyembunyikan gelak tawa sinis sembari menatap semua orang yang seakan menatap dirinya benar-benar melakukan hal tersebut, kecuali Lizian. Sahabatnya itu tampak mendukung dirinya tidak akan melakukan hal bodoh.
“Apa yang membuat kalian begitu yakin Rafif melakukan itu semalam?” tanya Lizian tidak terima melihat Veera yang seakan-akan hal semalam terjadi dengan serius.
“Enggak perlu ada bukti-bukti lagi, sekarang lo ngaku aja semua yang terjadi. Jangan berbelit-belit lagi!” kecam lelaki berwajah merah itu hampir saja mendekati Rafif, tetapi langsung dicegah oleh Frangky.
Tentu saja sebagai penengah di ruangan itu, Franky berperan cukup penting. Apalagi dalam menyelesaikan masalah terhadap bawahannya sendiri. Ia memiliki ikut andil yang besar.
“Begini saja, kita lihat kamera pengawas yang berada di ruangan daripada terus berspekulasinya aneh-aneh lagi,” putus Frangky memberi saran.
“Bukannya kemara pengawas sedang dalam perbaikan, Ketua Tim?” sahut Veera membuat Rafif semakin terpojokkan.
“Siapa bilang? Aku sudah memasang kamera pengawas lain di ruangan ini.”
Tiba-tiba suara seorang lelaki terdengar dari luar membuat mereka semua membalikkan tubuhnya menatap seorang lelaki berpakaian gagah melenggang masuk ke dalam, lalu menghampiri Rafif yang tengah mengepalkan tangannya penuh emosi.
“Perwira Jarvis, sedang apa kamu di sini?” tanya Franky sedikit tidak percaya bahwa Rafif mengenal seorang lelaki yang selama ini dikenal cukup sulit.
Namun, Jarvis mengabaikan pertanyaan itu, lalu menatap singkat ke arah Rafif yang sedikit terkejut. Karena kedatangan dirinya memang terlalu tiba-tiba dan tidak direncanakan. Akan tetapi, semua berlalu begitu cepat sampai ia sendiri tidak sadar.
“Apa yang terjadi, Rafif?” tanya Jarvis mengernyitkan keningnya penasaran.
“Aku tidak tahu pasti, tetapi saat aku masih berada di rumah. Tiba-tiba Ketua Tim menghubungiku dan mengatakan bahwa ada seorang lelaki yang datang mencariku. Lalu, ketika aku datang, semua sudah menjadi seperti ini,” jawab Rafif menggeleng kebingungan.
“Baiklah. Aku mengerti,” pungkas Jarvis, lalu menatap gadis yang sejak tadi menundukkan kepalanya ketakutan. “Hai, kamu yang bernama Veera, bukan? Maafkan Rafif saat dia tidak sengaja menyinggungmu, tapi aku tanya sekali lagi. Apa Rafif benar-benar melakukan hal yang tidak senonoh semalam? Sebelum aku membuka kamera pengawas yang berada di sini.”
Suasana sedikit berbeda dengan mendengar perkataan Jarvis yang terdengar serius, tetapi saking percaya dirinya Veera malah mengangguk mantap membuat gadis itu semakin terlihat benar-benar jujur.
Akan tetapi, Jarvis bukanlah seseorang yang mudah dibohongi. Lelaki itu langsung menekan tombol sesuatu di ponselnya, lalu secara perlahan sebuah pendingin ruangan yang berada tepat di atas mereka bergerak secara perlahan menampilkan kemera pengawas cukup besar.
“Zian, tolong ambilkan memori yang berada di sana,” titah Jarvis membuat lelaki yang berada di samping Rafif menarik salah satu kursi kosong di ruangan, lalu menaikinya untuk mengambil benda yang dimaksud oleh Javis.
Di sela menunggu kedatangan memori tersebut, Rafif menatap satu per satu ekspresi panik yang terlihat jelas di wajah Veera dan sepasang kekasihnya. Mereka berdua terlihat memutar bola mata ke arah lain membuat Rafif tersenyum miring.
Kemudian, Lizian pun memasukkan kartu memori tersebut ke dalam komputer kosong yang berada di sana, lalu menampilkan sebuah rekaman semalam di mana Rafif dan Veera hanya sibuk makan malam. Bahkan yang membersihkan semua bungkus pun lelaki itu membuat tidak ada satu orang pun bisa berkata-kata lagi.
“Apa yang kamu lihat tadi, Veera? Apa kamu yakin tidak mengigau ketika tidur?” tanya Jarvis lembut sekaligus menusuk.
Akan tetapi, mental Veera benar-benar lemah membuat gadis itu terjatuh tidak sadarkan diri. Tentu saja suasana sedikit ricuh akibat lelaki asing yang sempat berteriak-teriak di depan wajah Rafif mulai kebingungan.
Namun, sayang sekali Rafif bukanlah seorang lelaki yang mudah dendam, ia membantu Veera menghubungi ambulance untuk segera datang. Membuat lelaki yang memiliki emosi cukup kuat itu pun semakin tersinggung.
“Jangan dekati Veera lagi!” kecam lelaki itu melenggang pergi sembari membawa tubuh mungil Veera yang tidak sadarkan diri.
Sedangkan Lizian yang sempat mendengar hal tersebut langsung melebarkan matanya tidak percaya, lalu menyahut, “Hei, sadarlah diri sendiri! Sudah terbukti jelas Rafif tidak melakukan apa pun. Jadi, jangan terlalu percaya diri untuk menyalahkan orang lain. Karena belum tentu kamu lebih baik daripada dia.”
Franky cukup terkejut melihat Jarvis begitu perhatian pada Rafif yang jelas-jelas belum pernah ditemuinya. Namun, hal tersebut cukup membantu dirinya yang belum terlalu mengenali Rafif.
“Rafif, lain kali berhati-hati jangan sampai kau terbukti melakukan semua itu,” ucap Ketua Tim Franky menepuk pundak bawahannya cukup keras, lalu melenggang keluar untuk melihat keadaan Veera yang tidak sadarkan diri dan hendak dibawa ke rumah sakit.
Melihat semua yang terjadi di hadapannya, Rafif tidak memberikan reaksi apa pun. Membuat keadaan semakin yakin bahwa ada seseorang yang menginginkan dirinya turun dan keluar dari tim ini.
“Gue curiga ini ada kaitannya sama kasus kecelakaan Zyrach,” gumam Rafif menatap dua lelaki lainnya yang terlihat mengangguk ragu.