Keesokan harinya, Rafif terbangun akibat alarm yang berdering lumayan keras dari meja membuat lelaki itu meraba-raba. Sampai tanpa sengaja lelaki itu menyentuh benda pipih yang hampir saja terjatuh ke bawah, tetapi dengan cepat tangan lain menangkapnya membuat Rafif membuka mata seketika.
“Ketua Franky,” panggil Rafif mengusap sembari mengembuskan napasnya panjang, lalu mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul.
“Tidur di kantor lagi, Raf?” tanya lelaki berwajah datar itu mendudukkan diri tepat di hadapan Rafif.
“Iya, nemenin Veera,” jawab Rafif menatap ponselnya sejenak. Ternyata di sana sudah ada pesan dari sang kakak untuk menyuruh dirinya segera kembali.
“Oh, ada Veera di sini semalam?”
“Iya, Ketua Franky. Kalau begitu, aku pamit dulu untuk segera kembali.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.”
Rafif mengangguk singkat, dan melenggang pergi begitu saja sembari mengenakan jaket kulitnya yang ia sampirkan di pundak. Tentu saja ia mengenakan jaket dengan melangkah keluar ruangan membuat beberapa pandangan polisi wanita mengarah pada dirinya.
Sebenarnya, semua aktivitas di kantor polisi ini jelas tidak pernah mengenal jam. Bahkan untuk ukuran tengah malam, tidak sedikit petugas melangkah ke sana kemari seakan tidak mengenal jam bekerja.
Di sela langkahnya menuju keluar kantor, tiba-tiba Rafif melihat siluet tubuh sang kakak yang berdiri tepat di depan pintu masuk. Wanita itu membelakangi pintu membuat Rafif hanya bisa melihat rambut panjang dengan sedikit curly di bagian bawahnya itu tertiup angin.
“Kak!” panggil Rafif berlari kecil menghampiri wanita itu.
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Regina pun membalikkan tubuh dengan seulas senyum lebar terpatri di wajahnya. Ia tampak senang melihat kedatangan sang adik yang sudah ditunggu beberapa saat lalu.
“Sejak kapan lo ada di sini?” tanya Rafif panik melihat sang kakak ternyata berada di sini tanpa memberi tahu dirinya.
“Belum lama, sekitar lima belas menit. Tadinya gue mau masuk, tapi sepertinya di sini lebih baik. Maksud gue, kalau di dalam juga gue enggak tahu lo di mana. Jadi, lebih baik nunggu di sini,” jawab Regina meringis pelan menatap wajah cemas sang adik.
“Lain kali masuk juga enggak masalah, Kak. Lagi pula di luar masih gelap dan dingin. Seharusnya lo duduk di ruang tunggu juga bisa,” ucap Rafif langsung melepaskan jaket yang dikenakannya, lalu memakaikan pada sang kakak.
Tindakan tersebut membuat Regina tersenyum tipis, tetapi tidak dengan hatinya yang menghangat. Memang tidak hanya sekali atau dua kali Rafif memperlakukan dirinya dengan penuh kasih sayang.
Kemudian, lelaki itu pun meraih pergelangan Regina dan membawanya pergi dari sana, tetapi sebelum hal tersebut terjadi tiba-tiba Rafif mengingat sesuatu.
“Lo ke sini bawa mobil, Kak?”
Regina menggeleng. “Enggak, tadi gue ikut sama mobil rekan kerja lo yang kebetulan ketemu gue di depan. Jadi, sekalian angkut aja.”
“Rekan kerja?”
“Gue enggak tahu siapa namannya, tapi yang jelas dia masuk ke dalam dan enggak keluar lagi.”
“Ya sudah, bagus. Gue kira lo naik taksi dini hari seperti ini. Enggak aman, Kak. Nanti takutnya ada penculikan.”
“Tenang aja. Gue masih ingat semua jurus yang lo ajarin kok. Jadi, jangan khawatir gue bisa jaga diri.”
“Tetap saja, Kak. Kejahatan itu bisa terjadi kapan saja kalau ada kesempatan.”
“Iya, iya. Setelah ini gue enggak akan pergi sembarangan lagi.”
Setelah itu, Rafif pun kembali membawa sang kakak menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil patrol lainnya. Sebelum itu, ia membantu sang kakak membuka pintu mobil yang berada di samping kemudi.
Kemudian, mobil jeep itu pun melaju membelah pekarangan luas yang dimiliki oleh kantor polisi metropolitan. Sampai tidak dalam waktu lama keduanya pun sampai di sebuah perumahan yang selama ini menjadi tempat tinggal.
Selain jaraknya tidak terlalu, Rafif bisa tenang meninggalkan sang kakak yang sering berada di rumah sendirian. Karena wanita itu sering kali kembali terlarut malam membuat Rafif merasa tidak tenang, dan menyuruh Regina untuk segera mempunyai pasangan.
Namun, entah apa yang terjadi pada hubungan keduanya, Rafif sampai sekarang tidak pernah lagi mendengar sang kakak memiliki kekasih. Sejak kandasnya hubungan wanita itu beberapa hari yang lalu.
Sesampainya di rumah mewah bergaya klasik, Rafif menghentikan mobilnya, lalu keluar dari benda tersebut bersamaan sang kakak ikut keluar sembari merenggangkan tubuh. Hal tersebut menarik perhatian Rafif yang sibuk melakukan verifikasi wajah dan diri pada pengamanan rumah.
“Kenapa, Kak? Masih ngantuk?” tanya Rafif melirik sang kakak yang berada di sampingnya menguap cukup lebar, tetapi ditutupi oleh wanita itu sembari memejamkam matanya sayu.
“Lumayan, tadi malam gue tidur cukup larut,” jawab Regina memasuki rumah lebih dulu, lalu diikuti Rafif fi belakangnya.
“Siapa suruh lo streaming bukannya tidur. Padahal tahu sendiri kalau paginya gue pulang,” sungut Rafif sedikit kesal, tetapi tidak menutup dirinya cukup cemas melihat wajah pucat sang kakak yang biasa tertutupi oleh make up.
“Mau gimana lagi, drama terlalu bagus buat ditinggalin, Raf. Tapi, gue enggak sadar kalau nonton terlalu lama, dan akhirnya malah jadi marathon,” balas Regina mengembuskan napasnya panjang sembari membanting diri di sofa ruang tamu.
Sedangkan Rafif hanya menggeleng tidak percaya menatap sang kakak yang tidak pernah bisa meninggalkan kesukaannya. Padahal wanita itu jelas-jelas tahu bahwa hal tersebut akan menyiksanya di waktu pagi, tetapi tetap saja tidak bisa meninggalkan.
“Mau sarapan apa, Kak? Gue yang bikin hari ini,” tanya Rafif melenggang ke dapur sembari meraih celemek yang tergantung.
Regina bangkit dari tidurnya, lalu bersandar pada sandaran sofa menatap adiknya yang berada di dapur tengah mengeluarkan beberapa pelaratan masak dari lemari.
“Roti panggang aja, Raf. Jangan lupa masak nasi goreng juga dicampur sosis,” jawab Regina tersenyum lebar.
Mendengar hal tersebut, lelaki tampan yang kini berkutat di dapur hanya menggeleng tidak percaya. Sedangkan Regina kembali merebahkan diri sembari mencari posisi ternyaman. Ia kembali memasuki dunia mimpinya untuk menunggu sarapan datang. Karena kedua matanya benar-benar tidak bisa terbuka.
Tak lama kemudian, sarapan pun telah selesai membuat Rafif menyusun beberapa piring dan gelas berisikan s**u berwarna putih penuh tersebut di atas meja. Lalu, tatapannya mengarah pada jam dinding yang ternyats udah menunjukkan hampir pagi tiba,
Rafif pun meletakkan celemek tersebut di tempat semula, dan melenggang pergi menghampiri sang kakak yang ternyata tengah memejamkan matanya dengan begitu tenang. Namun, ia tidak ingin mengecewakan wanita itu, akhirnya dengan lembut Rafif pun membangunkan sang kakak.
“Kak, bangun,” panggil Rafif menyentuh lembut pada lengan wanita itu.
Dengan sentuhan kecil seperti itu saja sudah membuat Regina membuka matanya sempurna, lalu menatap sang adik dengan mengusap cukup lebar. Hal tersebut membuat Rafif memutar bola matanya malas, dan menutup mulut wanita itu menggunakan tangannya sendiri. Sampai ia mendengar tawa kecil yang begitu menggemaskan.