Dengan perasaan cemas, Rafif menunggu di rumah sakit dengan Lizian yang baru saja ditangani oleh dokter. Keadaan lelaki itu benar-benar kotor dengan cairan merah beraroma tidak sedap melekat di tubuhnya.
Regina berlarian sepanjang lorong rumah sakit, sampai pandagan wanita itu terhenti mendapati sang adik terduduk lemas di bawah pintu ICU. Tatapan Rafif tampak sangat kacau membuat Regina mengembuskan napas mengerti.
“Raf, berisihin dulu badan lo. Biar gue yang jagain Lizian di sini,” ucap Regina memberikan pakaian baru pada sang adik.
“Enggak, Kak. Gue belum tenang kalau belum dengar kabar Lizian baik-baik aja,” tolak Rafif menggeleng pelan.
Mendengar hal tersebut, Regina berjongkok menyamakan tinggi sang adik yang terlihat kacau. “Raf, percaya sama gue kalau Lizian bakalan baik-baik a