Tepat menyelesaikan makan siang bersama pasukan tentara yang diperbolehkan untuk makan siang bersama. Bahkan bayaran makan siang ditanggung penuh oleh Rafif, walaupun lelaki itu sedikit menyebalkan dengan menggerutu kesal akibat keuangannya terkuras habis.
Kini mereka pun secara bersamaan keluar dari tempat makan sederhana dengan membentuk barikade perlindungan yang sedikit mengagumkan sampai beberapa penjunjung rumah makan tersebut menoleh dengan berbinar-binar.
“Zy, udah kenyang belum? Mumpung lagi di Bogor dan belum sampai di Jakarta,” tanya Rafif mengeluarkan kunci mobilnya.
Zyrach menggeleng pelan. “Enggak ada yang mau gue beli lagi, tapi kalau lo ikhlas gue mau peuyeum. Kebetulan gue lagi pengen banget.”
Rafif mengembuskan napasnya panjang, lalu mengangguk pelan. “Nanti kita beli