“Kak, lo tahu kenapa gue ngajak makan di sini?”
Suara pelan dari Rafif pun memecahkan keheningan di antara keduanya. Regina yang awalnya fokus dengan ponsel langsung mengalihkan perhatian, lalu mematikan benda elektronik tersebut di atas meja dan memperhatikan perkataan sang adik dengan penuh.
Diam-diam hal tersebut membuat Rafif tersenyum tipis. Memang tanpa alasan Rafif melakukan itu, selain merasa bahagia melihat sang kakak benar-benar memfokuskan diri dengan adiknya dan lebih mengabaikan pesan dari seseorang yang sudah ditebak dengan jelas.
“Kenapa, Raf? Gue juga enggak ngerasa asing di sini.”
Rafif tersenyum tipis, lalu menjawab, “Di sini tempat terakhir kali gue lunch di sela kesibukan, jadi bisa dibilang ini merupakan satu-satunya tempat gue ken dan untuk terakhir kalinya dia se