Hafa dan Lizian tampak menyusuri lorong gelap yang hanya diterangi oleh flash ponsel milik salah satu dari keduaya. Mereka melangkah bersamaan dengan sesekali Lizian merentangkan tangan kanannya menghadang agar tetap aman berada di belakang punggungnya.
Perlakuan manis itu pun membuat Hafa diam-diam tersenyum manis, lalu tetap memegang ujung jaket milik Lizian agar dirinya tidak tertinggal. Sebab, menyedihkan kalau terjebak dalam tempat kegelapan sendirian.
Sampai tiba-tiba langkah keduanya terhenti dengan menatap sebuah pintu lain yang terkunci membuat Hafa menempelkan kedua tangan mengintip ruangan di dalam, tetapi sayangnya semua gelap. Tidak terlihat apa pun.
“Sepertinya di sini kosong,” ujar Hafa mengembuskan napasnya pendek menatap Lizian yang terlihat memperhatikan dirinya dengan