Hari semakin gelap menyapa semua penglihatan mata, termasuk Reni yang baru saja turun dari mobil. Wanita cantik itu terlihat menatap tajam lurus ke arah seseorang berdiri di elevator. Dan langsung menutup pintu mobilnya begitu saja. Bahkan ia tidak memedulikan sekitarnya yang mungkin akan ada orang jahil, karena dirinya kebetulan sekali menempatkan mobil di bawah kamera pengawas yang super canggih.
Saat pintu elevator terbuka, Reni langsung melangkah masuk dengan begitu lebar dan berdiri di samping seseorang tersebut sampai menunggu pintu elevator kembali menutup. Kemudian, Reni menghadapkan tubuhnya pada orang tersebut dengan alis bertaut kesal.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Reni tidak ramah.
Sedangkan seorang lelaki yang menutup seluruh tubuhnya dengan mantel tebal untuk menyamar pun langsung membuka, lalu menoleh ke arah Reni. Bibir lelaki itu tertarik miring yang menyeramkan.
“Ternyata lo enggak pernah berubah. Gue pikir sejak sibuk dengan klub, lo akan ngelupain gue, Ren. Tapi, nyatanya siluet tubuh gue ini aja masih lo pahami dengan baik,” canda Franky tertawa pelan.
Seorang ketua tim polisi yang pernah bekerja satu rekan bersama Rafif ternyata ikut mengenal Reni. Hubungan keduanya tampak sangat dekat, tetapi Reni tidak suka. Seakan gadis itu sedang menghindari seseorang yang mengenal dirinya dengan baik.
“Apa peduli lo!” sinis Reni kembali menatap lurus ke arah pintu elevator dalam perjalanan menuju lantai unit miliknya.
Tak lama kemudian, pintu elevator pun terbuka menampilkan lorong kosong tak berpenghuni. Salah satu kesukaan Reni yang betah berada di sini adalah karena seluruh penghuninya memiliki jam tidak teratur. Sehingga bebas melakukan apa pun, termasuk pekerjaannya di klub yang terkadang menyita semalaman suntuk.
Sesampainya di depan pintu unit apartemen, Reni membalikkan tubuhnya menatap Franky tajam. Ia tahu kedatangan lelaki itu bukan hanya semata-mata kunjungan biasa, melainkan ada sesuatu yang harus Franky selesaikan dengan dirinya.
“Apa tujuan lo ke sini?” tanya Reni mendadak gemetar. Entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa dirinya tidak boleh sampai berada di sini, atau akan terjadi sesuatu yang mengejutkan.
Franky menyudutkan Reni yang berusaha menahan gemetar akibat rasa takut yang dirinya derita. Karena wanita itu berusaha tetap tegar, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya merasa sangat takut sekaligus tidak percaya.
“Gue ke sini atas perintah dari Pimpinan Vald, apa lo percaya?” Franky berbalik tanya dengan senyuman miring terpatri di wajahnya.
“Jelas enggak akan! Karena Pimpinan Vald akan datang ke gue sendiri kalau memang membutuhkan sesuatu tanpa harus menyuruh lo yang datang seperti ini. Jadi, jangan bertele-tele dan cepatlah beri tahu siapa yang menyuruh lo datang?” balas Reni cepat, lalu secara perlahan jemari wanita tersebut membuka kunci tersembunyi tanpa mengeluarkan suara sama sekali.
Franky menegakkan tubuh sembari tertawa pelan, lalu menggeleng tidak percaya membelakangi seorang wanita yang sama sekali tidak dirinya duga akan semenarik ini. Pada saat dirinya hendak berbalik kembali, tiba-tiba sebuah benda tumpul melayang begitu saja mengenai sisi kepala Franky membuat lelaki terhuyun ke belakang.
Sedangkan Reni tampak ketakutan dan mulai membuka pintu unit apartemennya dengan cepat. Akan tetapi, gerakan wanita itu masih kalah cepat dengan Franky yang sudah terlatih sebagai anggota polisi tahan banting membuat lelaki tersebut kembali fokus dan menarik rambut Reni begitu kuat sampai tubuh wanita itu pun terpelanting ke samping hingga menabrak dinding pembatas lumayan keras.
Sontak Reni menjerit kesakitan saat tubuhnya diseret paksa dengan menarik rambut begitu kejam oleh Franky. Membuat wanita benar-benar menangis dan berusaha melepaskan diri. Namun, sayang sekali penghuni unit lain sedang tidak ada di lantai yang sama, sehingga Reni tidak bisa melakukan apa pun, selain menunggu keajaiban datang.
Akan tetapi, sepertinya keajaiban sedang tidak berpihak pada wanita itu membuat Reni benar-benar hanya bisa pasrah terhadap segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Sampai ia merasakan benda tumpul membentur kepalanya dengan sangat kuat membuat ia berteriak sekuat tenaga, dan mulutnya ikut dibungkam oleh gumpalan kain yang entah dari mana datangnya.
Reni benar-benar tidak percaya bahwa akan terjadi seperti ini pada dirinya, sampai samar-samar ia melihat seorang wanita mendekat dengan senyuman kejam terpatri di wajahnya. Reni tidak percaya, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain menangis. Karena seluruh tubuhnya mendadak lumpuh dan tidak merasakan sesuatu. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa tubuhnya sudah terkulai lemas, sedangkan dirinya adalah arwah yang mungkin akan segera lenyap.
Namun, sebelum dirinya lenyap begitu saja, Reni memperjelas penglihatannya sampai tatapan ia terpaku pada Vesenia yang berjongkok tepat di depan may*tnya. Jasad Reni sudah tidak lagi berbentuk. Kepalanya benar-benar hancur dengan bagian dalam mulai mencuat ke sembarang arah membuat beberapa cleaning service tampak membersihkannya dengan cepat.
“Bukankah udah gue bilang, Ren. Lo itu enggak seharusnya suka sama Rafif, karena gue yang akan mendapatkan dia,” kecam Vesenia menghempaskan begitu saja tubuh adik sepupunya yang sudah tidak lagi bernyawa.
Sementara itu, Franky terlihat menatap kosong ke arah seorang wanita yang meninggal akibat kedua tangannya sendiri. Ia sudah tidak mempunyai akal membunuh seseorang dengan jabatan ketua tim masih melekat di tubuhnya.
Hal tersebut membuat kedua tangan Franky gemetar hebat. Lelaki itu merasa tidak percaya bahwa dirinya benar-benar melakukan perbuatan yang sangat dilarang oleh banyak hukum. Membuat Vesenia yang menyadari kegugupan seorang lelaki di sampingnya pun mengembuskan napas panjang.
“Tenang saja, Petugas Franky. Kamu sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Tunggu bayaran akan aku kirimkan malam ini,” ucap Vesenia tersenyum manis sekaligus bahagia melihat satu-satunya saingan yang ia punyai telah lenyap begitu saja.
Namun, di tengah ketakutannya itu, Franky mengingat sesuatu yang menjadi perkelahian keduanya membuat lelaki tersebut menatap penuh ke arah Vesenia. Membuat wanita itu membalas tatapan dengan alis terangkat bingung.
“Rafif? Siapa Rafif yang kalian berdua bicarakan?” tanya Franky pelan.
Vesenia yang menyadari kebod*hanya pun meringis pelan, lalu menjawab, “Rafif itu salah satu pekerja klub baru. Dia bertugas sebagai pengawal di sana, dan kebetulan aku menyukainya, termasuk Reni.”
“Rafif?”
“Kenapa kamu mengira Rafif yang menjadi petugas polisi?” sinis Vesenia menggeleng pelan. “Hei, bangulah! Di dunia ini yang bernama Rafif tidak hanya satu, jadi jangan berprasangka diri lebih dulu.”
Mendengar hal tersebut Franky mengangguk masuk akal, lalu kembali menatap ke arah jasad Reni yang dimasukkan ke dalam kantung jenaz*h oleh para pengawal LUCA yang menyamar sebagai petugas cleaning service untuk mengelabui pekerja gedung lainnya.
“Kamu benar-benar kejam, Vesenia!”
***
Dua orang lelaki tampan tampak berdiri di ujung lorong, tepatnya di depan pintu elevator. Theo dan Rafif menatap semua perlakuan Vesenia dengan mata kepala yang sama sekali tidak bisa dibohongi, terlebih Rafif mendelik tidak percaya sekaligus marah melihat kekasihnya dibunuh secara mengenaskan.
Tanpa pikir panjang Rafif langsung berlari menghampiri jasad Reni yang terbungkus kantung. Sedangkan Vesenia tampak ketakutan sekaligus bingung ternyata kekasihnya dan Rafif datang tanpa diduga sama sekali.
“Ba ... bagaimana kalian berdua datang?” tanya Vesenia ketakutan sekaligus bingung ingin menjelaskan, tetapi ini memang salah dirinya sendiri. Ia tidak mungkin melimpahkan seluruh kesalahannya pada Franky.
Sedangkan Franky yang tidak menyangka melihat kehadiran Rafif kembali bersama Theo pun memundurkan tubuhnya terkejut, lalu menatap penuh pada Theo yang melangkah mendekat dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Tidak ingin banyak bicara lagi, Theo langsung menarik pergelangan tangan kekasihnya dan pergi menjauh dari sana. Lelaki itu benar-benar membawa Vesenia turun, walaupun pandangan wanita itu tampak mengarah pada Rafif yang tampak bersimpuh di hadapan Reni.
Suasana gedung apartemen tersebut benar-benar dilumpuhkan dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Theo. Lelaki dengan berbagai macam pihak menjadi pendukung di belakang itu pun tampak tidak percaya dengan semua yang dilakukan oleh kekasihnya.
Ternyata pelumpuhan total benar-benar membuat hampir seluruh penghuni unit apartemen merasa dirugikan karena mereka datang untuk segera beristirahat, tetapi gedung malah ditutup secara paksa membiarkan seluruh penghuni unit yang masih di luar memaksakan diri untuk menginap sebentar di hotel.
Kejadian pembunuhan itu pun berlangsung dengan investigasi cukup akurat oleh Lizian. Lelaki yang menjadi sahabat sekaligus rekan kerja Hafa pun menangangi kasus agar tidak tercium hingga ke media. Karena akan menjatuhkan seluruh wajah gedung apartemen dan Theo sendiri. Akibat kekasihnya bersekongkol dengan Franky melakukan pembelotan.
Nyatanya serapat apa pun pihak kepolisian merahasiakannya, ternyata tetap tercium oleh awak media membuat beberapa dari mereka terlihat memenuhi halaman depan gedung kepolisian metropolitan untuk mengejar kasus pembunuhan yang dilakukan oleh satu personil polisi dan kekasih dari salah satu pembisnis hebat.
Memang tidak ada yang memberikan clue apa pun mengenai inisial nama sang pelaku, tetapi hal tersebut cukup menggemparkan. Apalagi cuplikan kamera pengawas yang beredar di internet membuat semua semakin runyam, termasuk identitas Rafif yang secara perlahan ikut terungkap.
Hal tersebut membuat Regina yang selalu up to date mengenai masalah berita pun sempat terpaku melihat wajah samar dari cuplikan kamera pengawas. Bahkan wanita itu langsung bergegas menuju kepolisian metropolitan yang ternyata Lizian sedang berada di lapangan.
Akan tetapi, rekan kerja lelaki itu sedang berada di ruangan membuat Regina langsung memutuskan untuk menemui Hafa. Yang ternyata sempat mengenal Rafif dan berteman cukup baik. Bahkan keduanya sempat bersekolah di universitas yang sama, sebelum Hafa memutuskan untuk cuti selama beberapa tahun akibat keluarganya dalam tahap pemulihan akibat goncangan terbesar.
“Silakan diminum dulu, Nona Owl,” titah Hafa lembut dengan menaruh sebotol perisa jeruk yang dirinya sisihkan untuk Lizian, tetapi sayangnya lelaki itu tidak datang.
“Terima kasih atas minumannya,” ucap Regina tersenyum tipis. “Bukankah kamu sudah tahu siapa aku?”
Hafa mengangguk singkat, lalu menjawab, “Nona Owl adalah kakak dari Petugas Rafif. Aku mengenal Nona Owl ketika masih bersekolah, karena Petugas Rafif sering membicarakan masalah kakaknya yang begitu mencemaskan layaknya mereka masih kecil.”
“Benarkah? Rafif membicarakanku ketika masih sekolah?” tanya Regina sedikit terkejut. Pasalnya wanita itu tidak pernah mendengar apa pun mengenai sang adik yang begitu terbuka pada orang lain, lebih lagi adalah seorang gadis.
“Iya, aku sempat beberapa kali mendengar darinya bahwa Nona Owl sering kali bekerja tanpa mengenal lelah. Jadi, sebagai anak bungsu di rumah Rafif merasa benar-benar beruntung,” jawab Hafa tertawa pelan.
Mendengar hal tersebut, Regina tampak tersenyum senang. Entah kenapa ia merasa beruntung telah memiliki seorang adik seperti Rafif. Meskipun terkadang lelaki itu sedikit menyebalkan, tetapi tetap saja Rafif bisa menjadi seseorang yang bisa membanggakan.
“Oh ya, Nona Owl, apakah datang ke sini untuk menanyakan masalah Rafif yang muncul di cuplikan kamera pengawas tersebut?” tebak Hafa dengan senyuman yang terpatri di wajahnya.
“Iya, benar. Aku ingin bertanya masalah itu,” balas Regina mengangguk lugas.
“Masalah kamera pengawas, pihak kepolisian sedang mengusahakan yang sebenarnya. Karena bisa saja semua yang ada di sana sudah ikut campur tangan dari orang dalam gedung. Jadi, untuk mengetahui keterangan lebih lanjut, Nona Owl bisa memastikannya selama beberapa hari. Atau nanti Petugas Lizian akan memberi kabar yang akurat. Karena pihak kepolisian sekarang masih dalam tahap penyelidikan dan belum bisa mengeluarkan asumsi apa pun tanpa adanya bukti yang jelas,” papar Hafa tersenyum tipis, lalu menatap ponselnya yang menampilkan pesan singkat dari rekan kerja.
Sedangkan Regina yang sempat melihat nama sang pengirim pun langsung terpaku, lalu membalas, “Bagaimana bisa semua bocor begitu saja? Bukankah semua bukti yang ada sudah diamankan dengan baik?”
Hafa yang awalnya memainkan ponsel pun menaruh kembali ke atas meja. “Memang sudah diamankan dengan akurat, tetapi tidak ada yang menyangka kalau video tersebut bisa bocor. Entah dari kelalaian pihak geduang atau memang ada penyalahgunaan dari pihak luar. Yang jelas semuanya masih simpang-siur dan bisa menyebabkan banyak persepsi penuh.”
“Baiklah, aku akan menunggu kabar baiknya dari Lizian. Kalau begitu, aku permisi dulu,” pamit Regina tersenyum tipis. Tak lupa wanita itu membawa minuman tersegel yang diberikan oleh Hafa.
Sepeninggalnya Regina yang memutuskan untuk menunggu kabar daripada mendesak petugas kepolisian pun membuat Hafa mengembuskan napasnya panjang sembari menyandarkan tubuh.
Namun, Hafa langsung menghubungi Lizian yang ternyata sedang berada di tempat kejadian perkara. Gadis itu sebenarnya ingin sekali ke sana, tetapi Lizian langsung melarangnya akibat di gedung tersebut banyak sekali petugas yang sudah mengamankan tempat. Sehingga agar lebih steril benar-benar tidak boleh banyak petugas yang datang.
“Zian, sesuai dugaan lo tadi kalau Regina bakalan datang ke sini meminta penjelasan masalah Rafif yang tiba-tiba muncul di kamera pengawas,” ucap Hafa mengembuskan napasnya panjang.
“Lantas, apa yang dia katakan?” tanya Lizian dari seberang telepon yang terdengar menggema seakan lelaki itu tengah berada di tempat cukup sepi nan hampa.
“Awalnya Regina mendesak gue untuk segera memberikan konfirmasi, tapi karena dari pihak manapun belum adayang memberikan klarifikasi, akhirnya gue cuma bisa memundurkan waktu sampai lo datang dengan bukti akurat. Karena gue enggak mau buat dia kecewa lagi akibat berita hilangnya Rafif tanpa henti,” jawab Hafa lugas.