Mengandalkan seorang lelaki jelas bukan menjadi satu-satunya cara agar tetap bertahan hidup. Sama halnya dengan Reni yang mulai mempercayakan semua kehidupannya pada satu lelaki, Rafif.
Entah kenapa memikirkannya saja sudah membuat hati Reni merasa berbunga-bunga. Hanya saja terkadang ia merasa tidak percaya sekaligus merasa dibohongi akibat perkenalan pertama mereka saling menutupi satu sama lain. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa Rafif sangat jujur kala itu membuat Reni merasa tidak percaya sekaligus bahagia.
“Sayang, apa kamu ingin membelikanku itu?”
Samar-samar Reni mendengar perbincangann sepasang kekasih yang duduk tepat di sampingnya membuat gadis itu langsung menoleh dengan satu tangan menyangga kepalanya, lalu diam-diam tersenyum geli melihat sepasang kekasih yang seperti mahasiswa tersebut menjalankan hubungan dengan begitu mesra di tempat umum.
“Apa kamu yakin?”
Kali ini Reni menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan lebih seksama apa yang terjadi pada keduanya. Tentu saja hal tersebut membuat Reni tersenyum geli dan mulai mengabadikan momen sekaligus menjalankannya dengan perasaan penuh.
“Itu arum manis, sayang. Kamu yakin mau beli itu walaupun kamu tahu engga enak?”
Lama-kelamaan Reni mengembuskan napasnya panjang. Ia mendadak merasa bahwa sepasang kekasih yang di sampingnya begitu manja dan mempermasalahkan makan arum manis atau tidak. Padahal ia langsung berpikir bahwa lelaki itu akan membelikannya tanpa mengatakan apa pun lagi.
Namun, saat dirinya hendak memainkan ponsel tiba-tiba suara seseorang terdengar membelah kesunyian kafe membuat Reni mengurungkan niatnya dan menatap lelaki tampan nan tinggi yang terlihat menatap sepasang kekasih yang sempat mempermasalahkan arum manis.
“Oh, jadi ini sibuk yang kamu maksud?” ucap lelaki itu tersenyum sinis sembari menunjuk seorang lelaki lainnya yang tampak kebingungan, lalu menatap sang kekasih dengan penuh menuntut penjelasan.
Sedangkan seorang gadis itu langsung meringis pelan, lalu meraih jemari tangan lelaki yang sempat menunjuk penuh emosi. Kemudian, berpindah tempat sembari memeluk erat.
Reni menggeleng tidak percaya sembari bergumam, “Hem, sangat berat.”
Lelaki yang merasa ditinggalkan itu pun langsung menganga tidak percaya, lalu berseru, “Apa yang kamu lakukan, sayang!? Siapa dia? Kenapa kamu malah memeluknya seperti itu!?”
Sang gadis tadi meringis pelan, lalu membalas dengan sesekali menoleh ke arah lelaki yang ada di sampingnya, “Maafkan aku, dia tunaganku dulu. Kita akan segera menikah.”
“Apa!?”
Nyatanya yang terkejut bukan hanya lelaki di hadapann gadis itu, melainkan beberapa pengunjung kafe pun mulai berbisik satu sama lain, termasuk Reni mengernyit tidak percaya. Kemudian, wanita itu menggeleng tidak percaya dan bangkit dari tempat duduknya.
Dengan sengaja Reni menabrak pasangan yang sedang bertengkar membuat beberapa barangnya jatuh mengenai lengan lelaki putus asa sekaligus sakit hati tersebut. Membuat lelaki itu mengalihkan perhatiannya sejenak, lalu membantu Reni memunguti seluruh barangnya.
“Wah, kebetulan sekali ketemu di sini!” celetuk Reni menatap wajah sang lelaki yang lumayan tampan, tetapi masih jauh lebih tampan Rafif.
Lelaki itu menaikkan alisnya bingung, lalu membalas, “Kamu ... apa kita pernah mengenal?”
Reni tertawa singkat sembari menegakkan tubuhnya kembali, dan menatap gadis yang sok cantik di hadapannya begitu percaya diri menduakan seorang lelaki tanpa merasa takut jika di masa depan akan mendapatkan hal yang sama akibat perbuatannya sendiri.
“Jangan berpura-pura lagi. Gue ingat lo sering datang ke kelas buat bawain makan siang,” ucap Reni tertawa pelan.
“Benarkah? Lama sekali tidak bertemu,” balas lelaki itu mulai paham akan situasi, lalu memeluk tubuh Reni singkat.
Tentu saja perlakuan tersebut membuat gadis yang berada di pelukan lelaki lain itu pun tampak tidak suka, lalu mendengkus kesal. Namun, tidak dengan sang lelaki yang terlihat acuh tak acuh.
“Dia ... siapa?” tanya Reni menunjuk gadis menyebalkan itu dengan gerakan seakan ia bahkan tidak sudi menunjuknya seperti ini.
“Oh, dia selingkuhan gue,” jawab sang lelaki dengan sengaja menekankan setiap perkataannya membuat gadis tadi langsung melebarkan mata kesal.
“Kamu keterlaluan!” seru gadis tersebut sebelum akhirnya benar-benar melenggang pergi.
Akan tetapi, sayang sekali Reni tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi pada keduanya. Yang jelas ia benar-benar puas telah mengerjai seorang gadis tanpa tahu malu memperkenalkan calon suaminya yang sudah menjadi mantan di depan pacarnya sendiri. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa Reni sedikit salut akan keberanian gadis itu memutuskan hubungan dengan cara murahan seperti ini.
Sepeninggalnya sepasang kekasih aneh tadi, Reni menatap sang lelaki yang terduduk lemas dengan pandangan kosong membuat ia melihatnya langsung meringis pelan. Jelas saja ia tidak percaya akan ada lelaki yang begitu tersakiti akibat keegoisan sang perempuan.
“Kak, terima kasih atas bantuannya tadi,” ucap lelaki tersebut dengan senyuman tipis. Berusaha mengusir ekspresi kekecewaannya yang benar-benar terlihat mengenaskan.
“Enggak masalah, gue senang membantu lo,” balas Reni tersenyum singkat. “Tadi itu pacar lo atau selingkuhan?”
“Sebenarnya kita berdua jadian belum lama itu juga karena gue dengar tunangannya mendadak hilang tanpa kabar. Tapi, siapa sangka kalau ternyata dia bawa tunangannya lagi untuk mutusin gue.” Lelaki tersebut menjawab dengan senyuman miris yang seakan memberitahu pada Reni secara tidak langsung kekecewaan mendalam.
“Lo sayang sama dia?” tanya Reni mendudukkan diri sembari meletakkan seluruh barangnya di atas meja,
“Dia cinta pertama gue, Kak. Kita berdua udah lama mungkin bisa dibilang hampir sepuluh tahun. Karena gue sama dia juga dari kampung halaman yang sama, jadi kita kenal akibat terlalu sering mudik lebaran,” tutur lelaki tersebut dengan embusan napas panjang yang terasa sesak.
Sejujurnya yang dilakukan gadis tadi benar-benar keterlaluan. Reni hampir merasa tidak percaya bahwa kejadian tadi benar-benar terlibat di depan matanya. Entah kenapa Reni merasa bahwa gadis tersebut sangat kekanak-kanakkan sampai memutuskan kekasihnya dengan beralaskan balikan dengan mantan tunangan. Bahkan lebih tidak masuk akal lagi lelaki itu dibawa untuk dijadikan sebagai alasan putus.
“Lo yakin dia lelaki yang jadi tunangan mantan kekasih lo?” Reni seakan tidak percaya pun mulai mempertanyakan, karena ia merasa semua ini sangat janggal. Atau mungkin memang karena dirinya belum berpengalaman sampai merasa semua yang terjadi di depannya terlihat aneh dan wajib dicurigai.
“Yakin dengan penuh, Kak. Dia pernah membawa tunangannya bertemu gue seperti tadi, tapi kali ini gue benar-benar kecewa,” kata lelaki tersebut sembari tertawa pelan yang malah terdengar menyakitkan.
“Terus sekarang apa yang lo mau lakuin? Balas dendam atau merebut dia lagi?” tanya Reni dengan alis kanan menukik pongah sekaligus elegan.
Namun, sayang sekali lelaki itu malah menggeleng putus asa seakan dunianya hilang dalam sekejap mata. Hal tersebut membuat Reni mengembuskan napasnya panjang. Meski ia tidak pernah merasakan jatuh cinta, tetapi melihat seorang lelaki saja menjadi seperti ini membuat Reni sadar bahwa perasaan seorang lelaki ketika sudah tulus benar-benar wajib dipertahankan.