Vesenia tersenyum lembut menatap sang kekasih yang memejamkan mata. Mereka berdua baru saja melakukan hubungan lebih dari sepasang kekasih.
“Sayang, apa kamu sangat lelah?” tanya Vesenia menumpukan dagunya pada dad* kiri Theo sembari memainkan jemarinya menyusuri setiap lekuk wajah tampan lelaki tersebut.
“Iya, aku belum tidur sama sekali sejak turun dari pesawat,” jawab Theo mengembuskan napasnya panjang sembari mengusap lembut pinggang kekasihnya yang begitu ramping.
“Kalau begitu, tidurlah aku ingin bekerja kembali. Karena hari ini masih banyak pekerjaan dan berkas yang belum aku tandatangani, termasuk kedatangan bahan mentah tadi,” ucap Vesenia perlahan bangkit dari telungkupnya membuat sepasang benda kenyal tersebut menggantung indah.
Theo mengangguk pelan, lalu merapatkan selimutnya untuk membungkus tubuh yang hanya mengenakan celana dalam saja. Sedangkan Vesenia tampak mengembuskan napasnya panjang.
Kemudian, wanita itu menyempatkan diri mengecup kening kekasihnya lebih lama, sebelum akhirnya melenggang keluar dari kamar yang berada di dalam ruangannya. Tentu saja Vesenia sudah membenarkan letak pakaian dan penampilannya agar tidak terlihat habis melakukan sesuatu.
Vesenia melenggang keluar dengan rambut terkuncir kuda sembari memeluk dua berkas di tangannya. Wanita itu terlihat menatap beberapa pekerja yang berlalu-lalang dengan membawa sample makanan di tangan.
“Bu Nia, ada yang bisa saya bantu?” tanya Ell berlari kecil menghampiri bos cantiknya.
Vesenia mengangguk pelan. “Di mana Rafif? Dari tadi aku tidak melihat dia di sini.”
“Tuan Rafif sedang berada di lab untuk melihat hasil pemeriksaan makanan yang ternyata mengandung bahan aneh,” jawab Ell meringis pelan.
“Benarkah?”
Pada saat Ell hendak menjawab tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang keduanya. Hal tersebut membuat Vesenia membalikkan tubuhnya lebih dahulu, lalu tersenyum lebar menatap kedatangan Rafif yang sudah ditunggu sejak tadi.
“Nona Ovt, baru saja aku ingin ke ruanganmu,” ucap Rafif mempercepat langkah kakinya sembari membawa sebuah berkas. “Aku ingin melaporkan sebuah masalah yang terjadi di lab.”
“Apa itu?” Vesenia bertanya dengan alis yang bertaut bingung sekaligus tidak mengerti, lalu menerima pemberian berkas dari lelaki tampan di hadapannya.
Sejenak wanita itu membaca tabel yang memperlihatkan banyak laporan kalori, lemak, protein, karbohidrat, dan semua terkandung di dalam suatu makanan tersebut. Tentu saja Vesenia terpaku pada suatu laporan yang menerangkan ada zat tersembunyi.
“Bagaimana bisa!?” seru Vesenia terkejut, lalu membuka lembar selanjutnya yang menampilkan sesuatu lebih mengejutkan.
“Aku juga baru mengetahuinya tadi pada saat beberapa orang lab mengatakan bahwa makanan kali ini cukup aneh, dan ternyata ini penyebabnya. Aku pikir ini salah satu bahan mentah yang dikirimkan kemarin,” timpal Rafif mengembuskan napasnya panjang.
Ell yang baru saja mengetahui hal tersebut pun ikut terkejut, lalu menyahut, “Bukankah ini bahan mentah pesanan Pimpinan Vald?”
Perkataan itu pun sukses membuat Rafif melebarkan matanya terkejut, sedangkan Vesenia meringis pelan. Jelas saja ketika membicarakan masalah Theo membuat wanita itu merasa serba salah. Sebab, ia bingung harus memposisikan diri sebagai kekasih atau pemimpin pabrik.
“Bagaimana, Nona Ovt?” tanya Rafif menatap wanita di sampingnya.
“Aku akan membicarakan hal ini pada Pimpinan Vald,” jawab Vesenia pelan.
Setelah mendapatkan kepastian dari pemimpinnya, Rafif pun mengangguk pelan. Kemudian, lelaki itu menatap rekan kerjanya yang terlihat mengembuskan napasnya panjang.
“Kalau begitu, aku harus kembali ke gudang untuk melihat bahan mentah tersebut dan memisahkannya agar tidak tercampur dengan bahan lain. Sebab, hal itu akan merugikan produksi makanan dan menghambat seluruh kegiatan,” pungkas Fairel melenggang pergi tanpa mengindahkan balasan yang Vesenia berikan.
Sementara itu di sisi lain, seorang wanita karir dengan pakaian lengkap nan formal tampak melenggang santai membelah gedung yang sudah lama sekali dikosongkan. Membuat beberapa cleaning service berlalu-lalang tanpa henti membersihkan seluruh kantor.
“Nona Owl!” panggil seseorang dari belakang membuat sang pemilik nama tersebut langsung menoleh, lalu mengernyitkan keningnya bingung.
“Ada apa?” tanya Regina.
“Ini berkas yang diinginkan Pimpinan Vald. Tadi saya mendapat pesan bahwa berkas ini harus ditandatangani oleh Nona Owl terlebih dahulu,” jawab seorang karyawan magang yang mengenakan tanda pengenal di lehernya.
“Baiklah, aku akan memeriksanya nanti,” putus Regina menerima berkas tersebut dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sampai langkah kaki wanita itu terhenti pada beberapa karyawan gudang yang mempersiapkan paket untuk segera dikirim pada beberapa drop off. Regina menatap catatan di tangannya sembari sesekali mengembuskan napas panjang.
“Apakah semua paket sudah lengkap?” tanya Regina mengeraskan suaranya membuat beberapa karyawan gudang tersebut membalikkan tubuh dan menatap tegak lurus.
“Sudah, Manager Owl!” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, setelah pemeriksaan terakhir untuk memastikan kembali tidak ada paket yang terselip kalian semua boleh pergi. Tapi, ingat, jangan sampai ada kesalahan karena ini hari pertama kali perusahaan beroperasi kembali,” ucap Regina dengan nada penuh penekanan agar seluruh karyawab gudang lebih memperhatikan seluruh jalannya perusahaan.
Tentu saja semua karyawan gudang langsung membubarkan barisan dengan menjalankan seluruh perintah Regina tanpa terlewat sama sekali. Bahkan salah satu dari mereka yang menjadi ketua karyawan itu pun ikut membantu.
Selesai menggerakkan seluruh paket yang siap dikirim, Regina kembali melenggang masuk. Akan tetapi, wanita itu langsung membelokkan diri menuju kafetaria yang tidak menunjukkan karyawan satu pun.
Regina mengembuskan napasnya panjang dan meletakkan seluruh berkas di mini bar, sedangkan dirinya mulai berkutat dengan mesin pembuat kopi. Tentu saja wanita itu hendak membuat minuman yang menjadi penghilang kantuk.
Pilihan wanita itu jatuh pada salah satu cup berisikan kopi hitam dengan aroma khas, lalu memasukkannya ke dalam mesin dan menunggu beberapa saat. Di sela menunggu kopi selesai dibuat, Regina meraih berkas yang baru saja diberikan oleh salah satu karyawan magang.
Ternyata berkas tersebut berisikan kerja sama antara Valder Logistic dengan salah satu perusahaan cabang dari Norwegia. Kepala Regina bergerak naik-turun sembari menatap seluruh rincian yang ada di hadapannya.
Sesekali wanita itu menandai dengan highlighter warna hijau terang, lalu menoleh saat menyadari kopi buatannya telah siap dihidangkan. Membuat Regina kembali membereskan berkas tersebut dan membawa secangkir kopi yang lumayan wangi.
“Nona Owl, apa kamu baru saja dari kafetaria?” tanya salah satu karyawan dari Departemen Personalia, tetapi sayang sekali Regina yang tidak ingin membuat relasi apa pun di dalam kantor hanya mengangguk pelan.
Jawaban tersebut nyatanya membuat karyawan tersebut merasa kesal sekaligus tidak percaya. Karena baru saja diabaikan oleh seorang wanita yang menjabat sebagai pengawas sekaligus manager keuangan.