“Bagaimana hari ini?”
Sepasang kekasih duduk saling berhadapan dengan makan malam tertata rapi di hadapannya. Salah satu dari mereka tampak mengembuskan napasnya panjang sembari merapikan rambut yang mulai sulit diatur.
“Aku lelah sekali. Benar-benar lelah sampai rasanya aku ingin menarik selimut dan tidur sampai sehari penuh,” jawab Reni menyandarkan tubuhnya lelah.
“Apa yang terjadi? Mengapa sampai lelah seperti ini?” tanya Rafif menangkup sisi wajah kekasihnya dan membawa kepala mungil tersebut di pundaknya.
“Aku sama sekali tidak menyangka mengejar investor akan melelahkan seperti ini,” jawab Reni mengeluh pada kekasihnya.
Sebenarnya pagi-pagi sekali Reni sudah menyiapkan diri untuk mengejar investor. Akan tetapi, siapa sangka kalau ternyata mereka secara bersamaan sibuk membuat Reni harus mengorbankan diri menunggu mereka semua yang berpura-pura sok sibuk.
“Sudah jangan dipikirkan lagi. Kamu sudah bekerja keras, sayang. Sudah waktunya kamu mengistirahatkan diri. Jadi, jangan terlalu sibuk bekerja,” ucap Rafif tersenyum menenangkan.
Setelah itu, perasaan Reni pun kembali tenang. Wanita yang masih mengenakan pakaian kantor itu tampak menegakkan tubuh dan mulai menatap makan malam di hadapannya dengan senyuman lebar.
“Aku tidak tahu kamu membuat makan malam sebanyak ini,” ucap Reni tersenyum lebar.
Sejenak keduanya tampak memakan makan malam dengan tenang sampai tiba-tiba tatapan Rafif terhenti pada dua orang yang masuk ke dalam restoran. Tentu saja hal tersebut membuat Rafif terkejut sekaligus tidak percaya bahwa Regina berada di sini, terlebih bersama seorang lelaki yang sama dirinya kenali.
“Sayang,” panggil Reni menyadari raut wajah sang kekasih yang berbeda.
“A ... ah, iya,” jawab Rafif melebarkan mata terkejut.
“Kamu kenapa?” tanya Reni penasaran.
“Tidak apa-apa,” jawab Rafif tersenyum paksa sembari sesekali memperhatikan seorang wanita yang berdiri di depan pelayan.
Seakan tidak percaya Reni pun menatap ke arah pandang Rafif dan terhenti ketika mendapati seorang wanita bersama lelaki gagah nan tampan di sampingnya. Lelaki itu tampak sesekali menoleh menatap ke arah sang wanita yang tertawa.
“Dia ... siapa?” tanya Reni sedikit penasaran sekaligus merasa tidak nyaman.
“Kakakku,” jawab Rafif tersenyum miris.
Sontak hal tersebut membuat Reni menutup mulutnya tidak percaya, lalu kembali memperhatikan seorang wanita yang melangkah bersama sang lelaki dengan pelayan berada di depannya memimpin jalan.
Sejenak Rafif tetap memperhatikan sang kakak yang ternyata menjadi lebih dekat dengan Jarvis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perasaannya jauh lebih baik melihat sang kakak bersama seorang lelaki yang dapat dipercaya.
“Apa kamu merindukan kakakmu?” tanya Reni berhati-hati.
Rafif mengembuskan napasnya panjang, lalu menjawab, “Aku sudah tidak bertemu dengan dia sejak menghilang akibat Pimpinan Vald, jadi sedikit merindukannya.”
“Kalau kamu merindukannya, mengapa tidak bertemu sekarang? Lagi pula kalian bersaudara.”
“Tidak bisa. Aku harus tetap hidup dalam penyamaran karena bekerja dengan Theo sama saja harus mengorbankan keluarga dan dia satu-satunya kakak yang tersisa.
Sementara itu, di sisi lain Regina tersenyum senang menatap seorang lelaki di hadapannya yang begitu setia menemani sampai dirinya merasa tidak kesepian lagi. Meskipun terkadang ada beberapa waktu di mana dirinya merindukan Rafif.
“Nona Regina, apa yang ingin kamu pesan?” tanya Jarvis menatap penuh pada seorang wanita cantik yang duduk tepat di hadapannya.
“Jangan berikan aku seafood lagi, ya,” jawab Regina setengah bercanda, lalu kembali berkata, “berikan aku ayam goreng kremes, pangsit, dan steak yang agak gosong.”
“Mengapa kamu sangat menyukai steak agak gosong? Bukankah rasanya menjadi aneh?” tanya Jarvis dengan alis yang bertaut bingung, sedangkan pelayan di samping mereka pun tampak ikut kebingungan. Karena ini pertama kalinya seseorang memesan makanan yang mungkin tidak layak dimakan.
“Entahlah, Rafif sering memesan makanan seperti ini ketika makan bersama. Jadi, aku ingin mencobanya ketika datang ke sini.” Regina menjawab dengan senyuman yang terpatri di wajahnya seakan wanita itu benar-benar merasakan kebahagiaan ketika masih bersama dengan sang adik.
“Apa ini restoran yang sering kalian berdua kunjungi?”
“Tentu saja. Aku selalu datang ke sini ketika Rafif tidak memasak apa pun di rumah, dan aku yang kadang terlalu malas untuk menyalakan api.”
“Wah, persaudaraan kalian berdua benar-benar baik.”
Regina tertawa pelan, lalu menggeleng tidak percaya menjawab semua perkataan dari lelaki yang ada di hadapannya. “Sebenarnya kita berdua itu tetap menjadi saudara yang menyebalkan satu sama lain. Mungkin hanya perkiraan kamu aja yang terlihat dari luarnya, tetapi tidak dengan bagian dalamnya.”
“Aku pikir kalian berdua saudara yang mengerti satu sama lain.”
“Semua saudara itu sama, Perwira Jarvis. Tidak ada yang sempurna. Bahkan orang sedewasa dirimu saja akan berkelahi dengan Zyrach, bukan?”
“Iya benar,” jawab Jarvis tertawa pelan.
Tak lama kemudian, makanan pun datang dengan kereta yang lengkap bersama dua pelayan cantik dan tampan di sisinya. Mereka berdua mengantarkan banyak jenis makanan membuat Regina menganga tidak percaya.
Namun, wanita itu memilih tidak mengatakan apa pun, selain membiarkan Jarvis berbuat sesuka hati. Karena lelaki tampan itu benar-benar tidak bisa ditebak sampai dirinya merasa belum mengenal secara dekat.
Akan tetapi, hadirnya lelaki itu benar-benar mengisi hari kosong Regina yang sering disibukkan oleh berbagai permasalahan kantor. Walaupun terkadang Jarvis sering kali pergi tanpa memberi kabar.
Sejenak Regina memperhatikan wajah tampan yang kalau dilihat-lihat lumayan menarik. Sudah lama sekali dirinya menutup pintu hati dari lelaki mana pun sampai kali ini dirinya merasa ingin sekali memperlihatkan kekurangannya pada Jarvis.
Namun, hati Regina mendadak ragu. Ia tidak ingin lelaki yang ada di hadapannya sama seperti lelaki lain, yaitu datang dan pergi sesuka hati.
Jarvis yang menyadari tidak ada pergerakan dari wanita di hadapannya pun mengangkat kepala, lalu mengernyit bingung. “Nona Owl, apa kamu membutuhkan sesuatu?”
“A ... ah, tidak ada,” jawab Regina meringis pelan.
Setelah itu, pandangan Regina pun terhenti pada siluet seseorang yang terlihat tidak asing melenggang keluar. Jelas saja membuat wanita itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan hendak mengejar siluet seorang lelaki tersebut.
Belum sempat Regina berlari, tiba-tiba Jarvis menahan pergelangan tangan wanita itu. “Ada apa, Nona Owl? Kamu melihat seseorang?”
“Rafif! Aku melihat Rafif keluar dari sini!” jawab Regina gembira sekaligus menggebu-gebu, lalu melepaskan cekalan lelaki tersebut dan berlari keluar restoran.
Sedangkan Jarvis yang tidak mengerti apa pun hanya mengernyit bingung, dan mengikuti langkah kaki wanita cantik pujaan hatinya. Meskipun tidak dapat dipungkiri sampai hari ini dirinya belum menyatakan perasaan secara gamblang.
Namun, Regina kalah cepat dengan siluet seseorang yang tampak tidak asing tersebut. Wanita itu mengembuskan napasnya kecewa ketika tidak mendapati siapa pun di depan restoran. Hanya ada seorang wanita yang sibuk berbicara melalui ponsel.
“Nona Owl, bukankah aku sudah bilang Rafif belum ditemukan,” ucap Jarvis mengembuskan napasnya panjang.