Keesokkan paginya, Rafif pun terbangun akibat sinar matahari yang menyilaukan mata. Lelaki tampak berkaus hitam polos dengan celana bahan semalam itu pun mendudukkan diri sembari memperjelas penglihatannya yang baru saja menyadari bahwa ia masih berada di apartemen milik Reni.
Sejenak terdengar suara benturan alat memasak dari dapur membuat lelaki itu bangkit dengan mata yang setengah terpejam. Sesekali Rafif mengusap rambutnya yang tampak acak dan menguap cukup lebar.
Reni menoleh sesaat ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, lalu tersenyum geli melihat Rafif yang baru saja bangun dalam keadaan buruk rupa, tetapi sayangnya masih terlihat tampan dan cukup sek*si.
“Selamat pagi, sayang. Ayo, bangun! Aku masih harus bekerja pagi ini, jadi bergegaslah,” sapa Reni tersenyum lebar sembari mematikan kompor sebelum mendekat ke arah Rafif yang sama sekali belum ke kamar mandi.
Rafif mengusap wajahnya malas, lalu berkata, “Memangnya harus pagi-pagi seperti ini kamu pergi? Aku tidak yakin kalau investor itu sudah bangun dan mau mendengarkan semua penjelasanmu. Bagaimana kalau nanti siang saja? Aku benar-benar tidak rela melepaskanmu.”
“Jangan seperti itu,” balas Reni tersenyum geli dan mendorong tubuh Rafif masuk ke kamar mandi. “Cepatlah mandi atau kamu akan kehabisan sarapan!”
Mendengar hal tersebut kedua mata Rafif sukses terbuka, lalu mengembuskan napasnya panjang. Terkadang menjadi seorang lelaki tidak selamanya bisa bermanja di depan sang kekasih. Hal tersebut membuat Rafif mengembuskan napasnya panjang dan mulai membersihkan tubuh sesuai dengan permintaan Reni.
Sementara itu, Reni terlihat sibuk menata sarapan pun tersenyum geli. Rasanya masih seperti mimpi mempunyai kekasih seperti Rafif yang mungkin sama sekali tidak dirinya duga. Bahkan bertemu untuk kedua kalinya hal yang cukup menyenangkan.
Meskipun begitu, entah bagaimana caranya ia bisa menyukai lelaki itu. Padahal bisa dikatakan mereka berdua hanya bertemu satu kali dan saling merindukan satu sama lain membuat Reni ingin kembali pada saat-saat mereka bertemu.
Tak lama kemudian, Rafif pun keluar dengan rambut yang terlihat basah sembari menggosokkannya pada handuk kecil berwarna putih. Lelaki itu melangkah mendekati meja makan yang berisikan sarapan, tetapi tidak mendapati Reni.
“Sayang!” panggil Rafif sedikit berteriak.
“Aku di kamar. Kalau mau sarapan, duluan aja! Lagi pula sebentar lagi kamu berangkat ke pabrik, jadi harus bergegas,” balas Reni tidak kalah berteriak.
Rafif mengernyit bingung, lalu melangkah menghampiri sang kekasih yang berada di dalam kamar. Sejenak lelaki itu menempelkan telinganya pada pintu kamar yang tidak terdengar suara apa pun.
“Sayang,” panggil Rafif lembut.
“Ada apa?” tanya Reni membuka pintu kamar memperlihatkan seorang lelaki tampan yang berpakaian polos.
“Ayo, sarapan! Kamu yang membuatkan sarapan pagi ini malah tidak ada,” ajak Rafif menarik lembut pergelangan tangan wanita itu dan membawanya ke arah dapur.
Sejenak keduanya tampak duduk menghadap satu sama lain, lalu tersenyum hangat menatap sarapan di hadapannya seperti sepasang suami istri. Itulah yang terpikirkan pada Rafif menatap Reni. Lain halnya dengan Reni yang begitu bahagia melihat kekasihnya di pagi hari.
“Apa kamu nanti mempunyai waktu sepulang bekerja?” tanya Rafif menatap Reni yang mulai mengambilkan nasi goreng untuk kekasihnya.
Reni terdiam sesaat, lalu menjawab, “Entahlah. Aku tidak bisa memberikan jawaban pasti karena hari ini aku ingin menemui banyak investor yang mendadak menaikkan tenggat waktu.”
“Kamu jangan bekerja terlalu keras, Reni. Bukankah kamu masih memiliki diriku untuk menopang hidung?” ucap Rafif tersenyum paksa menatap kekasihnya yang begitu tegar menghadapi berbagai masalah.
“Ini bukan bekerja keras atau tidak, melainkan aku benar-benar ingin menyelesaikan semuanya sebelum Vesenia mulai menyetir hidupku kembali,” sanggah Reni mengembuskan napasnya panjang menatap sepiring nasi goreng buatannya yang terlihat enak. “Aku benar-benar lelah dan ingin melepaskan semuanya, tetapi sebelum itu aku harus menyelesaikan permasalahan ini lebih dulu. Agar Pimpinan Vald tidak merasa dikecewakan.”
Rafif terpaku pada nama yang disebutkan oleh kekasihnya. Seakan mereka berdua mengenal satu sama lain dengan begitu dekat. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa Rafif mendengar cerita dari Ell bahwa Reni dan Vesenia memang sempat terlibat cinta segitiga yang sama.
Bahkan bisa dikatakan cerita wanita itu sama seperti yang terjadi sekarang ini. Hal tersebut membuat Rafif merasa bersalah dan ingin membahagiakan Reni yang sudah berjuang sampai ke titik tertinggi.
“Reni,” panggil Rafif lembut membuat wanita yang asyik mengunyah itu pun mengakat kepala. “Apa kamu masih merasa sedih akibat semalam?”
“Tentu saja tidak,” jawab Reni tersenyum geli, lalu memberikan potongan nugget kepada Rafif. “Aku sudah melupakan hal yang lalu, dan tidak ada gunanya lagi kalau masih aku pikirkan. Lagi pula aku tidak perlu khawatir karena kamu tidak akan mengkhianatiku, bukan?”
Mendengar hal tersebut Rafif tertawa pelan sembari mengangguk beberapa kali, lalu berkata, “Baiklah. Aku berjanji tidak akan mengkhianati dirimu.”
Setelah itu keduanya pun sarapan bersama dengan sesekali tertawa pelan melihat betapa menggemaskannya satu sama lain ketika terburu-buru memakan sarapan, meski jam dinding masih menunjukkan pukul enam pagi.
Tak lama kemudian, Rafif pun selesai dan telah siap mengenakan pakaian kerja. Sedangkan Reni yang sudah siap bertempur pun mengembuskan napasnya pendek. Keduanya berangkat bersama dengan mengantarkan Rafif lebih dulu ke pabrik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keduanya sempat bertemu dengan Vesenia yang baru saja turun dari mobil. Namun, sayang sekali keberadaan wanita itu sama sekali tidak dianggap oleh Rafif maupun Reni. Sehingga keduanya saling melepaskan dengan senyuman manis.
“Aku akan pulang dengan cepat,” ucap Rafif mengelus rambut Reni dengan penuh kasih sayang.
“Baiklah. Aku akan menunggumu di klub,” balas Reni memeluk pinggang Rafif dengan manja. Entah kenapa ia merasa tidak rela kalau harus meninggalkan kekasihnya bersama wanita lain dalam satu pekerjaan.
“Kalau begitu, aku pergi dulu dan jangan lupa tetap mengabari diriku,” pungkas Rafif tersenyum singkat.
Setelah itu, Reni pun kembali mengendarai mobilnya menuju klub malam kelolaan dirinya yang sudah menunggu diperhatikan. Tentu saja wanita itu hendak bergegas menyelesaikan semua pekerjaan hari ini, agar memiliki waktu untuk berkencan dengan Rafif yang sempat tertunda semalam.
Rafif tersenyum bahagia mengantarkan kepergian Reni yang begitu bekerja keras menyelesaikan semua permasalahannya. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya merasa sedikit cemas sekaligus tidak rela membiarkan Reni bekerja sendirian tanpa pendamping siapa pun.
“Tuan Rafif, sedang apa kamu di sana?” tanya Ell mengernyit bingung menghampiri seorang lelaki yang berdiri menatap kosong.
“Kamu sudah datang? Cepat sekali. Biasanya juga terlambat,” jawab Rafif merasa tidak percaya mendapati rekan kerja yang datang tidak seperti biasanya.