Sesampainya di restoran, Reni melihat sebuah mobil terparkir tidak asing di ingatannya membuat wanita itu mengembuskan napasnya panjang. Seakan ia sudah menduga hal ini akan terjadi, dan memilih untuk meneruskan tujuannya.
“Selamat malam, Nona. Apakah sudah membuat referensi?” sapa seorang pelayan cantik tepat di depan pintu menyambut kedatangan Reni yang dalam suasana hati buruk.
Reni mengangguk singkat, lalu berkata, “Saya Reni sudah melakukan perjanjian dengan kekasih saya atas nama Rafif.”
“Oh, Tuan Rafif sudah di dalam menunggu Nona Reni. Silakan masuk!” titah pelayan tersebut memimpin jalan dan sesekali menoleh tersenyum ramah.
Saat keduanya sampai di ruangan yang sudah menjadi pesanan Rafif, tiba-tiba Reni terpaku pada seorang wanita berusaha mengganggu Rafif. Membuat Reni membiarkan keduanya bertingkah sebelum memutuskan masuk.
Sedangkan pelayan yang mengantar tadi pun merasa serba salah. Ia ingin menegur keduanya, tetapi merasa tidak pantas. Akhirnya, pelayan tersebut memundurkan diri dan membiarkan Reni menunggu sendirian.
“Rafif, apa yang kamu suka dari Reni? Jelas aku memiliki banyak hal dibandingkan dia. Aku bisa membuatmu tetap berada di LUCA dan menikmati semua yang telah ada,” ucap Vesenia terdengar putus asa pada lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya.
Rafif menggeleng pelan sembari berusaha menghindari wanita yang tergil*-gil* pada dirinya. Entah apa yang telah terjadi pada Vesenia sampai bertindak nekat menghampiri dirinya di restoran ini. Padahal dirinya sudah berjanji pada Reni untuk menghabiskan waktu berkencan.
“Vesenia sadar! Kamu sudah memiliki Pimpinan Vald. Rasanya aku menjadi tidak sopan pada Pimpinan Vald. Kalau kamu seperti ini terus padaku, jangan salahkan aku tidak sudah tidak lagi sopan terhadapmu. Karena aku merasa kamu benar-benar sudah gil*,” balas Rafif menggeleng tidak percaya.
Vesenia yang merasa kesal pun langsung melangkah mendekati Rafif dan memiringkan kepalanya hendak mencium bibir lelaki itu. Namun, sayang sekali gerakannya kalah cepat dengan sebuah tangan membungkam bibir wanita tersebut kesal kesal.
Kemudian, membawa tatapan Vesenia jatuh pada seorang wanita cantik yang tersenyum manis. Tentu saja Vesenia langsung mendelik kesal sekaligus tidak percaya melihat Reni dengan berani datang memenuhi undangan Rafif.
Setelah puas menggagalkan Vesenia yang hendak bertindak murahan, Reni pun menggeleng tidak percaya. Wanita itu menatap Rafif penuh, lalu tatapannya terpaku pada bekas lipstick yang berada di kemeja putih bersih milik Rafif. Tentu saja lelaki itu langsung menggeleng keras berusaha menjelaskan lewat isyarat membuat Reni menatap datar dan kembali menghadap pada seorang wanita yang terlihat memerah padam.
“Reni, apa yang kamu lakukan!?” bentak Vesenia meredam.
“Bukankah itu hal yang wajar aku lakukan untuk mengurungkan niat seorang wanita berselingkuh pada kekasih orang?” balas Reni melipat kedua tangannya di depan dad*. “Jangan berpura-pura lagi membuatku sibuk, Vesenia. Aku sudah muak dengan segala peraturan darimu yang selalu mengatasnamakan sebuah persaudaraan. Karena pada kenyataannya kita berdua sama sekali bukan saudara. Ingat, itu!”
Setelah mengatakan hal tersebut, Reni pun meraih pergelangan tangan Rafif dan membawanya pergi menjauh dari restoran. Ia ingin mendinginkan kepalanya sekaligus meredam semua amarah agar tidak terlalu meletup-letup.
Sedangkan Rafif yang mengetahui kemarahan kekasihnya pun langsung beralih menggenggam jemari tangan wanita itu dan tersenyum singkat saat Reni menatap dirinya. Ia tahu Reni hanya ingin memperjuangkan seseorang yang berarti di hidupnya, dan hal tersebut membuat Rafif benar-benar merasa beruntung.
Langkah kaki Reni terhenti tepat di depan mobil yang terparkir di samping milik Vesenia. Wanita itu berbalik dan bertanya, “Bawa mobil?”
Rafif menggeleng pelan. “Aku menaiki taksi ke sini agar tidak diikuti Vesenia, tapi siapa sangka kalau ternyata dia tetap mengetahui aku di sini.”
Mendengar jawaban tersebut, Reni menyerahkan kunci mobil miliknya dan langsung melenggang masuk. Ia benar-benar dalam suasana hati terburuk yang pernah ada membuat Rafif tidak bisa melakukan banyak hal, selain membiarkan kekasihnya menetralkan kembali amarahnya.
Rafif memang tidak bisa menyalahkan Reni yang begitu dingin malam ini. Apalagi setelah wanita itu melihat semua yang telah terjadi. Jelas saja ia merasa seperti lelaki yang baru saja ketahuan selingkuh dan mendapat amaran begitu besar.
“Bawa aku ke apartemen,” pinta Reni menatap keluar jendela mobil.
“Reni, aku belum mengatakan apa pun,” ucap Rafif memberanikan diri untuk menjelaskan hal yang sebenarnya.
“Tidak perlu, aku sudah mengetahui semuanya. Jadi, tolong bawa aku ke apartemen,” balas Reni menatap kekasihnya sedikit kesal dan kembali mengalihkan perhatian ke arah lain.
Akhirnya, di dalam mobil pun Rafif tidak mengatakan banyak hal. Ia benar-benar langsung bungkam dan memilih untuk mempercepat laju mobil menuju apartemen milik Reni yang tidak jauh dari klub malam.
Tak lama kemudian, keduanya pun sampai pada gedung pencakar langit yang begitu terang memperlihatkan kemewahannya. Membuat Reni turun dan melenggang masuk meninggalkan Rafif yang baru saja melepaskan sabuk pengaman. Lelaki itu tidak mengatakan banyak hal selain mengembuskan napasnya panjang.
Rafif mengikuti langkah kaki Reni yang mengarah pada unit apartemen miliknya. Akan tetapi, saat membuka pintu wanita itu menyempatkan diri untuk menatap kekasihnya datar dan membuka pintu lebar-lebar seakan mengkode pada Rafif agar segera masuk.
“Reni, kenapa kamu tidak berbicara sejak tadi?” tanya Rafif berdiri tegak menatap seorang wanita yang melepaskan high heels dan menggantinya dengan sandal rumahan.
“Aku sedang kesal, jadi siapkan makan malam untuk menggantikan yang di restoran tadi. Aku ingin menghubungi beberapa investor untuk menyelesaikan semua masalah malam ini,” jawab Reni memijat kepalanya lelah.
“Apa yang terjadi?” Rafif bertanya sembari menghampiri kekasihnya yang berpegangan pada lemari hias.
“Maafkan aku tadi datang terlambat karena Vesenia memberi tahu padaku bahwa klub malam sedang dalam masalah besar akibat kontrak kerja yang aku tandatangani mendadak menaikkan tenggat pembayaran. Jadi, aku benar-benar pusing memikirkan hal ini,” jawab Reni menyandarkan kepalanya pada da*da bidang milik Rafif, lalu mengembuskan napasnya beberapa kali.
Sedangkan Rafif yang mendengar kekasihnya dalam masalah besar pun hanya bisa menguatkan. Meski ia bisa saja memberi tahu pada Pimpinan Vald, tetapi sepertinya Reni tidak akan senang.
“Apa Vesenia selama ini mempersulitmu?” tanya Reni mengangkat kepalanya menatap sang kekasih penuh.
Rafif tersenyum tipis sembari mengusap rambut Reni yang terlihat rapi sekaligus cantik. Wanita itu benar-benar menghias dirinya dengan tatanan simple dan elegan membuat Rafif seakan melihat dua orang yang berbeda. Karena biasanya Reni jelas tampil cukup mencolok dengan berbagai make up tebal yang terkesan cukup se*ksi.