Sebuah mobil mewah terhenti dengan decitan yang membuat siapa pun akan mengilu perih, sebab gesekan antara ban, rem, dan aspal itu benar-benar keras. Akan tetapi, tidak membuat seseorang yang mengendarainya di dalam merasa bersalah.
Reni beranjak keluar dari mobil dan melenggang lebar-lebar masuk ke dalam dengan perasaan yang berkecamuk. Ia belum mengatakan apa pun pada Rafif, tetapi dirinya hanya berharap bahwa lelaki itu tidak akan pergi dan tetap setia menunggu.
Tujuan kedatangan Reni kali ini benar-benar menyebalkan. Entah apa yang terpikirkan oleh Vesenia sampai wanita itu sama sekali tidak bisa dimintai pertolongan oleh Reni dan bersikeras menyuruh adik sepupunya untuk datang. Tidak peduli dengan keberadaan dan urusan wanita itu.
Sampai akhirnya langkah Reni terhenti di depan pintu ruangannya sendiri, sesaat ia mengembuskan napasnya panjang agar tidak terlalu kesal. Kemudian, mendorong pintu tersebut dan masuk menatap punggung seorang wanita yang berdiri di tengah ruangan.
“Apa yang terjadi, Kak? Gue enggak bisa lama-lama. Malam ini gue ada janjian sama Rafif,” tanya Reni to the point. Ia benar-benar tidak bisa membuang waktu meski hanya sebentar saja, karena ada seseorang menunggu dirinya di tempat lain.
“Kenapa? Sekarang lo jadi sok sibuk semenjak punya pacar sampai enggak bisa merhatiin klub lagi?” sindir Vesenia membalikkan tubuhnya sembari mendesis sinis, lalu melangkah mendekati Reni yang benar-benar berbeda penampilan. “Sekali lagi gue peringatkan sama lo, Reni. Jangan pernah mendekati Rafif atau lo tahu sendiri akibatnya.”
Mendengar ancaman tersebut Reni benar-benar ingin sekali tertawa. Ia tidak menyangka Vesenia yang sudah memiliki kekasih pun menginginkan Rafif. Entah apa yang terjadi pada pikiran wanita itu, tetapi Reni hampir tidak mempercayainya.
“Jangan bercanda, Kak. Lo itu udah punya Pimpinan Vald, dan rasanya gak pantas berbicara hal ini di depan gue. Sedangkan kita berdua memiliki hubungan yang berbeda. Selama ini gue menghormati lo karena sadar akan diri sendiri yang belum mampu bangkit. Jadi, sekarang waktunya gue bangkit dan lo enggak akan bisa ngelarang gue dalam hal apa pun. Mau gue dekat dengan Rafif atau tidak, itu bukan urusan lo. Ingat, lo punya tunangan dan gue belum!” balas Reni memberanikan diri untuk melawan Vesenia, sebab ia telah memiliki kekuatan untuk melawan seorang wanita yang selama ini menjadi ketakutannya tersendiri.
Vesenia mengepalkan tangannya kesal. Ia hampir tidak menyangka Reni akan berkata seperti itu di hadapannya. Akan tetapi, ia juga cukup sadar bahwa perkataan Reni benar-benar masuk akal. Dirinya tidak mungkin menyukai dua orang yang berbeda dalam satu waktu karena hal tersebut akan menimbulkan perpecahan.
“Kalau begitu, lo selesaikan masalah ini dulu baru bisa menemui Rafif. Karena semua ini terjadi karena lo yang mengelolanya,” ucap Vesenia melemparkan sebuah berkas dengan santai membuat Renia yang melihatnya langsung menangkap, lalu membuka berkas tersebut dengan alis bertaut bingung.
Tentu saja wanita itu menganga tidak percaya ketika melihat berkas di tangannya ternyata sebuah perjanjian antara investor dan klub yang memang sempat dibicarakan beberapa waktu lalu. Namun, Reni sama sekali tidak menyangka bahwa investor tersebut benar-benar menagih janji dalam waktu dekat dan jauh dari perjanjian.
“Bagaimana bisa ini terjadi, Kak?” tanya Reni terkejut, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi salah satu investor yang sempat bekerja sama dengan dirinya.
“Bukan itu saja, bahkan lo enggak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengundang DJ dari China yang belum sempat lo selesaikan dalam minggu ini. Karena agensi yang menaunginya langsung membatalkan kontrak kerja sama akibat semua tingkah lo,” jawab Vesenia dengan begitu kejam. Seakan wanita itu mengangkat tangan dalam hal apa pun yang berkaitan dengan masalah klub.
“Kak, kenapa menjadi seperti ini? Bukankah lo bilang semuanya akan baik-baik aja? Bantu gue menyelesaikan masalah ini. Gue benar-benar enggak tahu, Kak,” rengek Reni memegang tangan kanan Vesenia dengan tatapan memelas.
Akan tetapi, sayang sekali wanita itu menepisnya dengan kuat hingga berjas yang ada di tangan Reni terhempas begitu saja. Membuat Reni sangat-sangat terkejut. Ia melebarkan mata tidak percaya menatap begitu kesalnya Vesenia seakan tengah meredam sesuatu.
“Sudah gue peringatkan sama lo untuk berhati-hati dalam bertindak. Sekarang terjadi seperti ini siapa yang akan bertanggung jawab? Lo enggak bisa seenaknya main pergi gitu aja, jadi selesaikan semua masalah ini, dan baru lo boleh pergi ke mana pun lo mau. Gue enggak peduli,” kecam Vesenia dengan tatapan tajam yang menusuk, lalu melenggang pergi begitu saja. Mengabaikan Reni yang menatap tangannya kosong.
Sebenarnya Reni sama sekali tidak menyangka Vesenia akan bertindak kejam seperti itu hanya karena dirinya berkencan dengan Rafif. Akan tetapi, permasalahan bukan letaknya di situ, karena ia juga tahu bahwa Vesenia menyukai Rafif dan Theo dalam waktu bersamaan.
Reni tidak ingin Vesenia mendapatkan masalah karena telah menyukai Rafif. Namun, wanita itu begitu keras kepala dan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi hak milik. Membuat Reni tidak bisa berkutik, karena Vesenia jelas memiliki banyak kekuasaan dibandingkan dengan dirinya.
Sejenak Reni membuka ponsel untuk mengabari Rafif bahwa ia tidak bisa ke sana akibat permasalahan klub yang akan menyita banyak waktunya. Reni benar-benar marah pada dirinya sendiri yang begitu ceroboh dalam menandatangangi kontrak, dan dalam waktu bersamaan ia marah pada keadaan yang tidak pernah memihak padanya.
Kehidupan benar-benar tidak adil bagi orang lemah seperti Reni. Bahkan wanita itu mentertawakan dirinya sendiri yang akan terjebak dalam permainan Vesenia dan tidak akan pernah bisa melepaskan diri. Sebab, wanita itu telah mengambil banyak hal yang seharusnya menjadi milik Reni, termasuk bertunangan dengan Theo.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa yang seharusnya bertunangan dengan Theo adalah Reni. Akan tetapi, wanita itu mengalah akibat Vesenia yang jatuh cinta pada lelaki tersebut dan membuat Reni merelakannya meski bukanlah hal mudah.
Namun, percintaan kali ini Reni benar-benar tidak mau mengalah. Ia akan memperjuangkan Rafif apa pun yang terjadi. Meski hidupnya akan berakhir di tangan wanita itu. Karena Vesenia sangat kejam dan licik ketika menginginkan sesuatu.
Akhirnya, dengan langkah lebar dan pandangan tegak lurus, Reni benar-benar melenggang keluar dari klub. Wanita itu sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada kehidupannya nanti. Yang jelas, kali ini ia tidak ingin mengalah pada siapa pun, karena Rafif adalah mataharinya. Membuat Reni memiliki kekuatan untuk melawan Vesenia.
“Reni, lo harus kuat jangan mau ditindas lagi. Sekarang waktunya lo tunjukin sama Vesenia bahwa dia bukanlah siapa-siapa yang mampu menyetir lo sesuka hati. Karena sudah memiliki tunangan dan hampir menikah seharusnya sadar diri. Dan lo sama sekali enggak salah, Reni. Ayo, berjuang!” gumam Reni pada dirinya sendiri dan mulai menjalankan mobil menuju restoran yang telah dijanjikan.